Posts Tagged ‘zulfikar akbar

01
Jan
10

Hierogliph

Semoga saja tidak pernah gagal membacaHidup menjadi aksara yang tidak bisa terbaca oleh semua manusia. Hidup juga diterjemahkan sebagai huruf yang terlalu sulit untuk dijadikan kata. Wajah-wajah yang hanya tertunduk lemah dalam keputusasaan, menjadi penguat atas pengakuan yang menjadi bendera putih untuk menyerah.

Hidup seperti hierogliph, susunan aksara yang butuh waktu sangat lama melebihi usia yang kita punya, agar ia bisa terbaca. Demikian ungkap mereka yang berzikir dengan menyebut nama Tuhan sebagai Yang Maha Kejam. Koran-koran yang saban hari dibaca tidak menjadi peluru-peluru untuk ditembakkan ke kepalanya, agar hancur kepala yang bersujud pada kebodohan. Buku-buku tidak menjadi pedang untuk memenggal lehernya agar kepala terpisah dari tubuh yang enggan bergerak melangkah ke depan. Sedangkan kuliah-kuliah, baik dari kampus maupun obrolan dengan tukang becak, kuli bangunan, pedagang sayur tidak menjadi mandau yang membabat hati dari penindasan kerisauan yang tidak perlu. Hanya pembenaran yang dijadikan rencong untuk ditusukkan di dadanya. Ditusukkan tidak untuk mengoyak dada agar bisa diambil semua usus, hati, jantung dan baru untuk dicuci di mata air paling jernih kejujuran. Tetapi rencong itu malah dijadikan senjata untuk bunuh diri.

Hierogliph kehidupan masih dirasa terlalu berat untuk terbaca. Maka memaki-maki Tuhan, menyalahkan lingkungan, menyalahkan nasib, mencerca keterbatasan menjadi bahan obrolan yang membuat hidup kian jauh dari gairah yang bisa membakarnya untuk menjadi debu. Mereka ragu jika debu tubuh berdakinya itu tidak akan dihembuskan oleh angin kebaikan. Tetapi dari sejak pagi buta, kecurigaan bahwa debunya akan dibawa angin ke angkasa tanpa rasa, tanpa cinta, teryakini olehnya.

Pernah beberapa kali ia berada di seminar-seminar tentang bagaimana menjadi manusia. Tetapi berdalih lobang telinga diciptakan Tuhan terlalu kecil, sehingga tidak mampu mendengar dengan baik semua tutur tentang keberanian. Tentang keyakinan dan tentang harapan. Lantas ia juga mengatakan pada orang-orang, hidup itu tidak butuh harapan. Kelak kesewenang-wenangan Tuhan malah akan membuat harapan itu hanya sebagai mimpi kosong. Ia juga gagal mendengar, bahwa Tuhan memberikan seperti apa yang diyakini olehnya.

Kesalahan yang paling sering terjadi, ternyata tidak hanya pada ketidakmauan untuk membaca semua aksara kehidupan. Tetapi kebebalan untuk tidak mengizinkan telinga mendengar cerita tentang kebenaran. Keangkuhan menjadi kawan setia, maka ketika beberapa manusia mengajak berbicara tentang hidup, lalu menyebut mereka terlalu bangga pada diri sendiri. Sehingga berani mengajarkan tentang hidup pada dirinya. Semua manusia yang ditakdirkan menjadi guru malah menjadi sasaran tamparan mereka. Tamparan itu sebenarnya terlalu pedas. Tetapi mereka lupa, tamparan itu yang membuat manusia pilihan Tuhan untuk mengajari tentang hidup, mati. Satu persatu mati, hanya oleh tamparannya. Kematian para guru itu kemudian dipandang sebagai keperkasaan. Sampai kemudian diapun mati tanpa memiliki guru yang tersisa untukmengajarkannya tentang hierohliph kehidupan.

***

Itulah suara-suara seperti di gedung pertunjukan drama yang muncul di ruang di balik dada. Terkadang saat mendengar suara itu, muncul kecurigaanku pada diri sendiri. Jangan-jangan suara itu menjadi satu cara Tuhan untuk memarahi kebebalanku sendiri. Iya, mungkin saja. Apalagi kuakui, begitu banyak ketololan yang sebenarnya juga telah aku tuliskan sendiri di buku kehidupanku. Meski tak bisa terbaca siapa-siapa. Tetapi mata batin selalu mendelik ke semua catatan itu.

Jiwa ini terkadang kuberikan cemeti saat ia mengajak untuk berdansa dengan alunan nada kebebalan. Kucaci maki saat ia ingin tidur terus menerus untuk tidak menyibukkan diri membaca aksara kehidupan. Tetapi pelajaran kebjaksanaan yang kudapat dari beberapa guru-guru yang telah berbaring istirahat di seribu nirwana, memintaku mengehentikan penyiksaan pada diri sendiri.  Lantas mengajarkan bahwa perubahan tidak perlu ditakutkan. Dan justru perubahan itu harus tetap ada, tidak hanya untuk menjadi lebih baik, terkadang jikapun terasakan hal yang lebih buruk. Itu disebut mereka dengan suaranya dari balik jendela syurga, sebagai pelajaran tambahan agar jiwa tak pernah letih untuk belajar. Pengalaman burukpun merupakan pelajaran.

Sebab, untuk bisa memunculkan dedaunan yang hijau indah. Mendatangkan bunga yang indah mewangi, Tuhan dengan cara-Nya mendatangkan sapi-sapi liar sebagai bagian dari kehidupan untuk membuang kotoran persis di dekat akar kedirian. Kotoran itu selanjutnya yang memupuki diri. Semoga saja jiwa ini tidak menjadikan kotoran tersebut sebagai sarapan saat pagi. Namun bisa melihatnya sebagai cinta Tuhan atas perubahan yang menjadi hukumnya.

Mungkin kelak daun hijau itu akan layu dan luruh, itupun tidak harus dikecewakan. Mengingat, daun luruh itupun bisa membusuk. Dan ia membantu akar-akar lain untuk tumbuh lebih kuat. Saat pohon itu tumbuh rindang dan indah, banyak makhluk Tuhan yang lain datang untuk bernaung. Kelak itupun menjadi catatan tambahan di buku Tuhan. Kematiankupun memiliki manfaat yang bisa ditinggalkan.

Renungan Awal Tahun

Advertisements
14
Dec
09

Kampanye Bank Syariah, Gagal

….Yang bekerja di pasar atau biasa seharian di jalanan, tidak membuka-buka artikel di iBI maupun mendapatkan brosur apapun yang dimaksud (yang berhubungan dengan Bank Syariah, pen). Masalah bagi hasil dan bunga, masih banyak orang yang pemahamannya samar-samar (tidak bisa pahami dengan jelas seperti apa itu Bank Syariah).

Demikian kritik seorang pembaca dalam tulisan saya sebelumnya, Bank Syariah: Bunga tidak Haram, setelah saya mencoba untuk tegaskan bahwa polemik bunga dan bagi hasil sudah dijelaskan oleh iBI dalam banyak artikel dan brosur yang disebarkan.

Selain itu, seorang rekan, Doddy Purbo, Pengusaha yang juga Kompasianer menyampaikan sudut pandangnya–juga menanggapi tulisan itu– bahwa,”Perkembangan perbankan syariah di Indonesia pada dasarnya bukan karena keislamannya tetapi target pasarlah yang menjadi tujuan. Pengembangan perbankan syariah masih menginduk pada perbankan konvensional dan masih dalam taraf penyesuaian system. Akibatnya, overhead cost perbankan syariah menjadi lebih mahal dari perbankan konvensional sedangkan perhitungan bagi hasilnya tetap berpatokan pada bunga perbankan konvensional.

Dengan keadaan tersebut, perbankan syariah terpaksa melakukan penghematan dalam pemberian pelayanan karena marginnya yang lebih tipis dan lebih terfokus pada beda istilah saja. Jika anda masuk dalam operasional bank syariah, maka akan sangat kentara sekali bahwa perbankan syariah adalah perbankan konvensional tetapi berkulit syariah. Wajarlah kalau nasabah banyak yang kecewa, terutama pada pelayanan yang masih terbatas.” Coba membenturkan dengan judul yang telah lebih dulu saya pilih sebelum menulis ini, mungkin iya bahwa dua komentar tersebut tidak bisa dijadikan sebagai indikator kuat untuk menyebut kampanye perbankan syariah selama ini gagal.

Hanya saja, saat mencoba menilik latar belakang dari kedua pemberi komentar itu pada tulisan saya itu, Rathy Oktriana, aktifis LSM Koalisi NGO HAM Aceh, memiliki kapasitas intelektualitas yang tidak meragukan. Kemudian Doddy Purbo yang merupakan seorang pengusaha real estate yang lumayan punya nama di Indonesia. Tentu, saya kira tidak bisa ditolak, mereka memiliki alasan kuat untuk menyampaikan kedua kesimpulan itu. Lagi, bisa dipastikan mereka tidak asal bicara dan sembarangan ber-statement. Dan bisa dipastikan mereka telah memikirkan hal itu terlebih dahulu. Nah, secara konkret, meski tidak mutlak, ini tetap saja sah untuk dijadikan sebuah indikator bahwa upaya kampanye perbankan syariah selama ini gagal.

Lalu, saat sedang mandi sore, menyikat gigi, secara tiba-tiba saja terlintas dalam pikiran saya. Kenapa perbankan syariah tidak menjadikan mulut saja sebagai alat kampanye yang lebih diandalkan. Daripada dengan pamflet, bilboard, reklame, brosur yang menghabiskan dana yang tentunya tidak sedikit. Oke, semua sarana itu tetap di fungsikan tetapi tidak terlalu mengandalkan itu. Namun, kembali, mulut agar lebih diandalkan. Mulut siapa? Mulut seperti apa yang dimaksudkan?

Iya, tentunya mulut dari nasabah sendiri. Lebih jelasnya, ketika seorang nasabah merasa puas dengan pelayanan yang dilakukan oleh perbankan syariah di Indonesia, mereka tidak berharap kompensasi apapun, akan dengan sendirinya menceritakan dan memberitakan tentang perbankan syariah kepada relasi mereka, teman, sahabat, famili. Secara tidak sengaja mereka bisa menjadi ‘suplemen’ yang lebih merangsang untuk menumbuhkan minat calon nasabah lain untuk lebih welcome pada perbankan syariah. Mulut menunjukkan kekuatannya.

Berbicara media yang selama ini dipergunakan seperti yang saya haturkan sebelumnya, saya kira tetap saja mulut lebih punya keunggulan. Dan ini pula yang saya pernah temukan dari buku: Mind Power, Bertrand Russel, et.al, bahwa semua indera manusia dipengaruhi ruh, punya daya hipnotis. Sedangkan bilboard, brosur dan sebangsanya tidak memiliki itu. Air bisa menyatu dan membaur lekat dengan air hanya dengan zat yang sama dengannya, juga air. Berbicara pengaruh, jiwa menjadi penentu, pikiran menjadi bagian darinya. Maka untuk menyentuh jiwa itu hanya dengan jiwa juga, dengan mempergunakan media mulut yang digerakkan jiwa. Saya mengilustrasikan seperti itu.

Intinya, satu hal yang harus di genjot oleh pengambil kebijakan dalam ‘ring’ Bank Syariah adalah menggenjot itu. Tidak pendekatan lewat physically saja tapi juga psychology–maaf jika berirama mengdikte–.

Pendekatan dengan jiwa, mulut sebagai medium. Cari cara agar nasabah yang ada benar-benar terpuaskan, orgasmus, dan percaya saja, mereka akan menjadi iklan berjalan yang akan semakin membesarkan perbankan syariah. Jika dia seorang pengisi seminar-seminar, mungkin akan dengan sendirinya dia ‘mengseminarkan’ juga tentang perbankan syariah, kendati tidak formal. Seorang tukang keliling, mungkin ia juga akan bercerita tentang perbankan syariah kepada pelanggannya. Dan, mereka lebih punya power untuk menyentuh hati manusia dari sekedar bilboard, pamflet and so on.




Indonesian Muslim Blogger

KALENDER

October 2018
M T W T F S S
« Mar    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

KATEGORI TULISAN

SEMUA TULISAN

Advertisements