Archive for the 'Seks Moral' Category

07
Mar
10

Bank Syariah, Konsep Perbankan yang Dipaksakan (?)

“Ngapain nabung di Bank Syariah?”

“Kamu kok mau-maunya nabung di Bank Syariah sih?”

“Goblok bener, hari ini masih ada perbankan yang membawa-bawa nama agama.”

***

Kalimat itu adalah sebagian kalimat yang pernah ditujukan pada saya. Ketika seorang teman mengetahui saya bagian dari nasabah salah satu Bank Syariah. Memang, saat mendengar kata-kata seperti ini dikeluarkan. Perasaan yang sangat terasa sekali adalah:

1. Merasa disebut sebagai orang yang tidak mampu berpikir.

2. Merasa dikatakan sebagai orang yang asal-asalan.

3. Diremehkan.

4. Dilecehkan.

5. Menghina Islam sendiri.

Bentuk rasa yang terlalu berlebihan? Sah saja jika disebut seperti itu. Akan tetapi, tak pelak, menghadapi realitas seperti itu, saya kian merasakan bahwa tidak sedikit yang masih alergi dengan hal yang berbau Islam.

Apakah itu kesimpulan yang keliru?

Silahkan juga jika ingin mengatakan seperti itu. Tetapi, saya kira dalam hal agama itu memang harus tegas–jangan benturkan dulu dengan persoalan cinta dan tetek-bengeknya–. Sebagai Muslim, saya menghargai semua agama. Syukur, saya juga memiliki banyak sekali saudara yang berbeda agama. Syukur, mereka bisa menjadi saudara yang menyenangkan. Bisa dikatakan tidak ada persinggungan antara saya dengan mereka.

Namun, selama ini saya menyayangkan mereka yang masih suka merendahkan agama lain, konon Perbankan Syariah yang notabene memang berangkat dari nilai ajaran Islam ikut menjadi sasaran. Seharusnya, perlu objektifitas dalam hal ini. Jangan hanya melihat bahwa itu dari Islam, sebagai konsep yang dipaksakan, dan mengklaim bahwa konsep tersebut benar-benar dipaksakan. Sebaiknya, setiap kesimpulan yang diambil berkaitan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Islam benar-benar ditelaah dengan tuntas (dan, sekali lagi se-objektif mungkin).

PR Perbankan Syariah

Dalam hal ini memang perlu dipertimbangkan kembali juga persoalan alasan dasar, alasan menggalakkan perbankan syariah di Indonesia.

a. Apakah sekedar karena kalkulasi keuntungan yang paling mungkin diraup?

b. Pemanfaatan nasabah Muslim yang seyogyanya memang cenderung mencintai segala sesuatu yang berbau agamanya?

c. Atau, tegas-tegas sebagai will untuk tunjukkan: Islam itu mengatur banyak hal lho. Dan keinginan untuk betul-betul membawa nilai-nilai universalitas yang dimiliki Islam.

Sosialisasi

Untuk menjelaskan perihal ini, saya berpandangan perlu adanya sosialisasi yang betul-betul memasyarakat.

1. Langsung terjun ke berbagai daerah dan wilayah, bertemu dengan masyarakat dan menjelaskan tentang Bank Syariah yang tergolong ‘lebih muda’ daripada perbankan lainnya–realitasnya tidak kalah tua–.

2. Memanfaatkan berbagai media yang lebih dekat dengan masyarakat, yang betul-betul menyentuh ke akar–konkretnya mari kita lihat bersama–.

3. Lakukan berbagai kegiatan positif yang lebih berpihak pada masyarakat. Sehingga, nanti tidak timbul anggapan bahwa perbankan ini hanya punya manfaat untuk kalangan menengah ke atas saja. Kendatipun ada program yang ditujukan untuk masyarakat grassroot, tetapi sejauh ini (berdasar obrolan saya dengan narasumber dari masyarakat kecil di 5 Propinsi*), mereka tidak kenal Perbankan Syariah serta untuk apakah Perbankan Syariah?

Dan ini merupakan tantangan sendiri bagi pihak perbankan yang telah melakukan penetrasi perbankan dengan membawa atribut Islam ini. Sederhananya, paling tidak untuk lebih mempertegas: Perbankan Syariah dengan Perbankan ‘Syariah’.

Billaahi fii sabilil haq

* Aceh, Medan, Lampung, Jakarta dan Bandung

Advertisements
01
Nov
09

Catatan Seorang Gay

hermaproditBenar, gay adalah manusia. Mereka adalah orang-orang yang juga dilahirkan oleh manusia. Tetapi, lepas setuju atau tidak, gay adalah adalah penyakit jiwa yang sangat parah. Penyakit tersebut justru merendahkan nilai-nilai kemanusiaan.

Sebuah kasus saya temukan saat masih menjadi seorang Guru Bantu, di salah satu Tsanawiyah (sekolah Islam setingkat SLTP) di Kabupaten saya di Aceh, Kabupaten Nagan Raya. Khalayak di Kabupaten tersebut jamak mengenalnya sebagai seorang Gay. Dalam sebuah kesempatan diruang guru, secara kebetulan posisi mejanya persis berada disisi meja saya. Agak sedikit jauh dengan guru lain, yakin tidak akan didengar oleh guru lain. Saya coba cross check kebenaran rumor yang menyebutnya sebagai Gay, dengan alasan untuk tidak ikut-ikutan terjebak dengan pandangan yang tidak jelas. Bermodal tampang yang bisa saya setel selembut mungkin, jauh dari sangar. Dan setelah mencoba “hipnotis” pikirannya dengan menceritakan keadaan proses mengajar yang tadi pagi terlebih dahulu, menyanjungnya dengan beberapa kalimat yang membangkitkan kebanggaannya. Setelah yakin ia telah merasa nyaman dengan saya. Langsung sebuah interogasi berjalan dengan cara selembut mungkin, saya terapkan–tidak rugi saya gemari buku-buku investigasi dari sejak kecil–. Meluncurlah sebuah cerita darinya

“Iya benar, aku selama ini memang memiliki ketertarikan pada selama lelaki. Aku bisa merasakan seorang lelaki ganteng atau tidak. Tapi aku tidak bisa mengukur seorang perempuan cantik dengan tidaknya. Aku bisa merasakan debar jantung cukup kuat saat melihat seorang lelaki ganteng. Jujur, termasuk saat aku melihatmu.” Walau  dihati merasa semacam jijik ditaksir sesama lelaki, saya coba tutupi ekspresi yang ada didalam batin dengan tersenyum kecil saya sambil mempersilahkannya bercerita. Tidak saya vonis apapun dalam proses itu, walaupun memang ada ingin untuk memarahinya habis-habisan atas sikapnya yang dimata saya jelas tidak bermoral. Sekali lagi, strategi pasang umpan sedang saya jalankan.

“Aku sudah melakukan hubungan seks yang kuakui menyimpang ini dari sejak kecil. Tapi baru lebih serius saat memasuki usia jelang dewasa. Aku sempat trauma dan ketakutan sekali saat salah satu ‘pacarku’ (yang juga laki-laki) sakit karena aku ’serang’ lewat belakang anusnya. Untungnya, dia  tidak laporkan ke orangtuanya. Walaupun lebih dari seminggu ia tidak bisa berjalan karena kesakitan. Aku berpura-pura tidak tahu apa-apa tentang penyebab sakitnya. Sering aku kunjungi dia. Terkadang aku masih berkesempatan untuk juga tidur di rumahnya. Saat malam, karena aku hanya tidur dengannya berdua saja. Jika sudah tidak tahan, sedangkan untu melakukan ‘itu’ sedang tidak memungkinkan. Sering aku hanya memegang miliknya. Karena dia juga sudah mengakui diri sebagai pacarku, dia tidak marah aku gituin.” Dalam benakku berkecamuk semacam amarah cukup kuat, apalagi dia mengakui, pacar versinya itu masih dibawah umur, 10 tahun. Iapun juga menceritakan bahwa ia melakukan cara tersendiri untuk mendapatkan ‘pacar’.

“Aku biasanya memberi mereka uang jajan yang banyak. Memang aku lebih memilih yang berasal dari keluarga miskin, sehingga dengan pemberian uang yang banyak, aku belikan baju baru. Sesekali aku ajak jalan-jalan. Itu sudah cukup menjadi senjata ampuh untukku bisa taklukkan hati kekasihku.” Mendengar ‘kepolosan’nya terasa sekali, amarahku seperti ingin untuk meledak. Kucoba redam dengan mengatakan pada diri sendiri,”aku sedang melakukan penggalian. Marahku hanya akan membuatnya merasa tidak nyaman lagi untuk ceritakan semua tentang pengalaman petualangan cintanya.” Batinku.

Sesekali ia terlihat mencuri-curi untuk mengelus pahaku, sambil matanya melirik ke arah rekan-rekan guru lainnya. Entah supaya rekan lain tidak tahu, sepertinya iya. Meski jiwa mudaku menginginkan untuk menendangnya sampai terjatuh, ku coba bertahan saja, Misi harus selesai. “Begini, aku memiliki pacar bukan cuma satu lho. Aku terus saja berganti-ganti karena memang ‘rasa’ dari pacar-pacarku itu berbeda satu dengan lainnya. Tapi kamu jangan salah lho, banyak juga dari mereka yang sampe mengemis tidak mau berpisah denganku setelah merasakan bagaimana ‘enaknya’ melakukan itu. Beberapa yang sudah dewasa, yang sudah mencobanya denganku juga mengaku sangat menikmatinya, bahkan mereka juga ngaku kalo yang dirasakannya denganku jauh lebih nikmat dari yang bisa diberikan oleh seorang wanita,” Aku langsung berfirasat, sepertinya ia sedang mencoba untuk menjebakku untuk mengikuti cara gila itu. Serta merta saja, melihat ia juga semakin merapat kearahku. Aku beringsut agak lebih menjauh–selain aroma mulutnya juga sangat mengganggu–. Syukur, dia masih mau untuk bercerita.”Sekarang aku juga sedang memiliki pacar salah satu siswa kita disini lho. Ganteng dia juga tidak kalah dengan kamu,”

“Siapa ya,” Tanyaku dengan irama lembut, meskipun tetap saja ada keinginan untuk remukkan giginya. Karena sangat kurasakan memang marahku semakin memuncak. Apalagi korbannya kali ini adalah siswa kami sendiri. Lantas ia menyebut nama seorang siswa di salah satu sekolah ini.”Tadi malam ia juga tidur dirumahku lho. Indah sekali.”

Dengan bel tanda jam masuk kembali sudah singgah dikupingku. Kegiatan investigasi sekaligus interogasi itu terpaksa diakhiri. Sepulang dari mengajar, aku langsung temui teman-teman dari siswa korban kucoba temui dan kumintai keterangan. Dari sekitar 5 ‘narasumber’ semua mengatakan hal yang persis sama. “Kamu, nanti usahakan kamu jebak An (inisial oknum tersebut) untuk mau datang ke rumah saya ya?”

“Baik pak,”jawab siswa saya ini.

Sampai sore ia tidak datang kerumahku. Bahkan beberapa hari ia tidak tampak disekolah. Satu hal yang membuatku semakin ingin meledak, ketika seorang rekan guru yang perempuan yang biasa menjadi teman cerita An menanyakan padaku,”Bener kamu sudah jadian dengan An?”

“Apa? Aku pacaran dengannya? Kenapa kamu tanyakan seperti itu?”

“Iya, dia mengaku padaku kalian sedang pacaran. Katanya juga kamu sudah bersedia menjadi pacarnya.”

Pungoe (terj: gila).” Umpatku spontan. Seketika saja dadaku bergemuruh ingin untuk luapkan amarah. Jelas ini sebuah bentuk pencemaran yang sangat memalukanku. Fitnah yang paling keji yang pernah kuterima. Lazimnya saat aku marah. Gigi gemeretak, kedua telapak tangan tergenggam keras. Mataku menyala. Amarah sudah begitu kuat menguasai pikiranku.

Sepulang dari mengajar. Aku merasa mendapat durian runtuh. Kulihat ia sedang bicara dengan salah satu adikku yang juga laki-laki, pun siswanya juga. Melihat kepulanganku, ia terlihat sudah mulai tidak nyaman. Terbaca dari gerak tubuhnya yang mulai gelisah. Seketika saja, sebilah pedang yang sudah beberapa hari kuletakkan dibelakang pintu–jangan salah paham, niat awal hany auntuk membuatnya keder saja– kuambil.”Jangan coba-coba untuk berdiri!” Perintahku. Memang ada beberapa orang tetangga yang juga sedang berbicara dengan Bapak dirumah. Tapi berada di sudut lain agak jauh.

“Kalau kau coba untuk berdiri, aku akan membuat kepalamu terpisah dari lehermu itu.” Ancamku.

“Apa maksudmu mengfitnahku dengan cara mengatakan aku sebagai pacarmu? Apa kau mengira karena mengenal orang pungoe sepertimu, lantas kau pikir aku akan ikut gila?” Cecarku.

“Gak, tidak ada itu. Siapa sih yang bilang seperti itu?” Elaknya dengan mata yang sudah mulai berair.

Semakin kudekatkan posisi pedang kebanggaanku itu kearahnya. Dengan suara pelan, intonasi yang kutekan, aku kembali tanyakan,” Kamu ngaku dan jelaskan padaku tentang masalah itu, atau kamu benar-benar ingin untuk kubunuh?” terang saja, ‘gaya’ seperti itu semakin membuatnya gemetar dan menggigil. Celananya yang basah ketakutan seketika hampir membuatku tertawa keras. Tapi aku simpan keinginan untuk tertawa itu, lalu kembali menatap matanya. Ia malah menekuri lantai.”Iya, iya aku mengaku. Aku katakan itu pada ibu S karena waktu kamu tanyakan aku tentang pengalamanku melakukan ‘itu’ dengan pacarku yang dulu, kukira itu sebagai tanda kamu juga menyukaiku. Makanya, aku langsung saja cerita ke Bu S kalau kamu sudah menjadi pacarku.” Ujarnya dengan ekspresi melemah. Sebuah tamparan kulayangkan ke kepalanya. Terbersit dipikiranku. Dengan perawakannya yang tinggi besar, badan yang berotot. Bentuk fisik yang jelas berbeda denganku yang lebih kecil darinya. Kalau saja ia melawan, pasti ia akan berhasil lumpuhkanku. Tapi ternyata kemarahan juga memiliki kekuatan pada saat tertentu. Sehingga fisiknya yang lebih besar itu tidak membuatnya lebih kuasa atasku.

Selesai sebuah tamparan. Kembali sebuah bogem mentah kulayangkan juga kesisi pelipisnya.”Lekas pulang. Jangan ulangi lagi yang sudah kau lakukan itu. Dan jangan coba-coba untuk kau tambah korbanmu dengan adikku ini. Kalau itu terjadi, bukan sekedar gertak sambal, akan kukeluarkan isi perutmu itu!” Ancamku lagi sambil menyinggahinya sebuah tendangan ke perut.

Sepulang An, langsung Ali, adikku bicara dengan irama canda,”juah that lagoe bang (Terj: kok Abang jadi buas seperti itu?” Aku hanya tersenyum kecil saja. Didepan rumah. Tetanggaku hanya melihat dengan ekspresi tanda tanya semua yang baru kulakonkan. Sedangkan Bapak yang sudah kuceritakan permasalahanku jauh-jauh hari hanya mengatakan,”harusnya jangan sampai sekasar itu kamu sikapi dia, Kar.” Aku hanya nyeletuk kecil,”Jika fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Maka balasan atas fitnahnya yang kulakukan tadi, kan tidak sampai membuatnya terbunuh, Pak.” Sambil beranjak untuk menyimpan pedangku itu.

Beberapa hari kemudian, aku mendapat kabar ia tertangkap basah oleh warga gampongnya sendiri. Dipukuli warga karena kedapatan menyodomi seorang siswa yang pernah diceritakannya padaku.

Aku teringat beberapa hari sebelumnya, karakternya seperti itu sudah kucoba bicarakan dengan kepala sekolah, aku beralasan”Pak, jika Guru seperti itu terus saja dipertahankan, anak-anak kita disini bisa menjadi korban. Homoseksual itu tidak pernah ditolerir dalam agama kita. Bapak pasti tahu itu. Selain kasihan dengan anak-anak yang masih belum tahu apa-apa itu. Jelas ini juga berefek pada reputasi sekolah ini juga. Apalagi ini adalah sekolah agama. Masa memiliki guru ’sakit’ seperti itu?” Saranku yang memang kuakui agak tendensius dengan sedikit berirama khotbah. Kepala sekolah hanya menjawab ringan,”Tenang Pak, sudah saya berikan nasihat padanya untuk merubah itu kok.”

Aku tercenung dengan jawaban Kepala Sekolah ini. Apakah persoalan yang jelas bisa merusak karakter anak-anak dipandang sebagai sebuah persoalan yang sepele saja? Disebuah institusi pendidikan yang membawa nama agama la0

29
Oct
09

Bila Sikecil Butuhkan “Seks”

IMG_1367Kejadiannya sudah beberapa tahun lalu, tidak ingat lagi persisnya tahun berapa. Jelasnya, seorang adik saya, Fikri yang juga berjenis kelamin sama, laki-laki tulen. Ia terlihat duduk termenung didepan pintu depan rumah. Pandangan matanya terlihat kosong. Tadinya ia memang baru saja pulang dari acara pernikahan bersama Ibu. Melihat ekspresi seriusnya, saya dengan saudara-saudara lainnya cekikikan, diikuti juga oleh ibu. Tidak lama, Ibu menanyakan padanya,“Pue ka pikee Neuek? Sang deueh seriuh that.” (terj: Apa yang kamu pikirkan,Nak. Keliatannya kok serius sekali). Dengan ekspresi lugunya namun tetap serius ia berujar,”Saboeh-saboeh ureueng inoeng meunikah ngoen gop. Singoeh watee lon rayeuek takot lon hana lee inoeng.” (Terj: Satu persatu perempuan yang ada dinikahi orang. Aku cemas, nanti setelah aku dewasa, sudah tidak ada lagi perempuan yang tersisa untuk aku nikahi). Sontak saja, seisi rumah yang memang sedang berkumpul tertawa terpingkal dengan kepolosannya.

Sekarang, membayangkan itu, tidak hanya membuat saya tersenyum. Tetapi juga merasakan sebuah pesan kejujuran, anak-anak juga memiliki kebutuhan terhadap seks. Walau mungkin memang sikapnya tidak serta merta bisa diklaim sebagai bentuk butuh seorang anak kecil terhadap seks. Namun, setidaknya cukup untuk menjelaskan bahwa mereka punya kebutuhan terhadap lawan jenis. Jadi izinkan saya menerjemahkannya sebagai bentuk sex need. Kebutuhan terhadap seks.

Sisi lain, saya juga terpikir bagaimana menunjukkan sikap ideal saat sikecil berbicara yang berhubungan dengan seks. Tidak cekikikan saja yang diperlihatkan keluguan sikecil. Nah, disini saya berpandangan bahwa realitas serupa ini bisa saja dihadapi oleh anak-anak siapapun. Tetapi, saya kira memang harus dilihat dengan serius persoalan itu. Walaupun saya belum menemukan konsep yang cukup konkret sebagai jawaban. Tetapi, saya berkeyakinan cukup penting mengamati bagaimana proses perkembangan si kecil. Kenapa, disebabkan beberapa kasus lain juga pernah saya temukan. Sebagai penjelas ekses ketika solusi yang diberikan tidak “serius”.

Satu ketika, saat melakukan outbond di sebuah desa (tidak perlu saya sebutkan). Saat sedang mengayunkan kaki bersama rombongan saya, menapaki gundukan pasir disisi sebuah sungai. Bentuk gundukan itu persis seperti gunung-gunung kecil. Sejurus kemudian, terdengar suara anak-anak yang saya yakin merupakan anak-anak dari penduduk desa sekitar lokasi outbond itu. Apa yang saya saksikan, 3 orang bocah, satu lelaki dan lainnya adalah gadis kecil, dengan kisaran usia 6-8 tahun. Cekikikan itu muncul disebabkan 2 bocah perempuan sedang memperebutkan si lelaki kecil (kemaluannya) untuk didekatkan kearahnya. Meski tidak lama saya dan rombongan melihat, deheman yang kami perdengarkan cukup menjadi “komando” untuk anak-anak tersebut berhamburan, hilang mungkin langsung pulang.

Sikecil juga sudah mulai merasakan kebutuhan terhadap seks. Dan yang saya ilustrasikan diatas menjadi sebuah bentuk pemandangan yang semua kita akan sepakat, idealnya tidak terjadi. Tetapi potensi seperti itu akan tetap saja terjadi. Nah, untuk itu saya berpikir bahwa keseriusan dari keluarga yang lebih dewasa, tidak hanya orangtua menjadi sebuah hukum wajib. Karena, kalaupun dibenturkan dengan teori-teori psikologi. Pengalaman masa kecil tetap akan memberi pengaruh pada karakter mereka saat dewasa. Nah, bagaimana dengan anda yang sedang masih memiliki sikecil. Sekedar renungan untuk kita bersama.

28
Oct
09

Colak-Colek: Please, deh, ah!

100_5132JANGAN coba-coba mengganggu kalau tidak mau kena tinju. Jangan colek-colek kalau nggak mau ditendang! Hancur baru tahu rasa!

Salah seorang adik saya pergi berangkat ke Jakarta dari Bandung menggunakan kereta api. Di dalam kereta berkenalan dengan seorang pria yang duduk di sebelahnya. Cerita punya cerita, ternyata tujuan mereka searah. Mereka pun kemudian memutuskan untuk naik taksi bareng setibanya mereka di sana. Biar irit ongkos, pikir adik saya. Maklumlah, waktu itu dia statusnya masih mahasiswa.

Setelah beberapa waktu di dalam taksi, tanduk pria itu pun keluar. Dia mulai meraba-raba paha adik saya. Spontan dia langsung bereaksi. Sopir taksi diminta menghentikan kendaraannya. Dia pun menghajar pria itu habis-habisan. Mana adik saya itu tinggi besar, mantan pemain American Football dan gulat lagi! Eh, ditambah lagi dengan tendangan pak sopir taksi. Habis, deh! Babak belur!

Bandingkan dengan cerita ketika saya masih kuliah di kampus Grogol dulu. Seorang mahasiswa dari Fakultas lain mencolek saya. Saya marah, dan langsung menampar, menendang, dan meninjunya sampai dia pun tergeletak di atas lantai.

“Mau kamu bilang saya perek, kek, pelacur, kek, apa, kek, terserah! Tapi jangan pernah nyentuh saya sedikit pun!”

Belum puas. Saya pun melambai-lambaikan tangan ke arah “penonton”, sambil teriak-teriak, “Maling…. Maling….!!!!” Kebayang, kan, apa yang terjadi selanjutnya.

Jahat! Iya! Tapi itu reaksi spontan! Siapa suruh dia kurang ajar?!

Apa ada perbedaan antara kedua cerita di atas? Tentunya selain yang satu gara-gara gay nggak tahu diri dan satu lagi karena pria nggak punya nyali.

Banyak pria yang jengkel dengan kelakuan kaum gay ataupun transeksual yang berbuat tidak “pantas” kepada mereka. Sayangnya, banyak pria yang tidak sadar kalau mereka juga sering membuat jengkel kaum perempuan bila mereka melakukan hal yang sama terhadap perempuan. Malah ada satu orang pria yang benar-benar keterlaluan, menurut saya.

“Kalau itu, kan masih normal! Kalau gay, sih…. Iiihhhhh!!!!”

Oh, normal ya? Colek-colek perempuan dibilang normal?

“Jijik lagi! Kalau kamu dicolek pria, kan, masih bisa menikmati! Anggap saja itu pujian!”

Menikmati??? Pujian???

“Aah… awalnya doang sebel, tapi kalau lama-lama juga suka! Iya,kan?”

Sumpah! Tolol banget pria itu!

Sejak saat itu saya tidak pernah bisa menerimanya sebagai teman lagi. Yah, ala kadarnya saja. Cukup kenal. Ngobrol? Ogah banget!

Ini bukan masalah perbedaan jenis kelamin atau perbedaan pilihan hidup. Murni karena rasa saling hormat-menghormati yang seharusnya benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bila kita ingin dihormati, kita juga harus terlebih dahulu menghormati orang lain. Sebuah resep jitu turunan dari nenek moyang yang harus terus kita lestarikan.

So, please, deh, ah! Tahu diri sedikit kenapa?!

 

Sumber: http://mariskalubis.com




Indonesian Muslim Blogger

KALENDER

August 2018
M T W T F S S
« Mar    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

KATEGORI TULISAN

SEMUA TULISAN

Advertisements