Author Archive for Mariska Lubis

29
Oct
09

Berkaca pada Pekerja Seks Komersial

peeskaMANA mungkin bisa? Mereka itu apa? Sampah!!! Hina!! Pendosa!!! Musuh!!! Harus dibasmi dan harus diberantas!!! Apa sedemikian buruknya mereka sampai kita tidak bisa belajar dari mereka?

Hancur hati saya sewaktu mendengar bahwa ada hasil penelitian di daerah Indonesia Timur sana yang mengungkapkan bahwa sekelompok anak usia belia yang terpaksa menjadi pekerja seks komersial karena tuntutan ekonomi. Mereka dibuang dan dijual oleh keluarga mereka sendiri karena sudah tidak mampu menghidupi dan membesarkan mereka lagi. Mau tahu apa bayaran mereka? Cukup tiga batang rokok!!! Bila ada yang memberikan sebungkus nasi, itu mereka anggap sebagai berkat yang sangat luar biasa. Tidak setiap hari mereka bisa makan!!! Tidak bisa setiap saat mereka bisa mendapatkan nasi!!!

“Masa sampai sebegitunya, sih, Mas?”

“Iya!!! Bener!!!”

“Kasihan amat!!!”

“Banget!!! Mereka itu korban.”

“Korban apa, Mas?”

“Ada yang dijual sama Bapaknya hanya dengan imbalan dua ratus lima ribu doang!!!”

“Tega banget!”

“Habis mereka susah, sih!!!”

“Miskin banget, ya?!”

“Wah, lebih dari miskin. Sengsara!!!”

“Apa ada yang kita bisa perbuat?”

“Susah kalau hanya kita sendiri.”

“Iya juga, sih! Memangnya banyak banget, ya?!”

“Wah, seratusan anak, sih, ada!”

“Gimana, ya?”

“Semua harus ikut berpartisipasi. Baru kita bisa!”

“Betul, tapi bagaimana caranya?”

“Itu, dia yang harus kita pikirkan!”

Sepenggal percakapan saya dengan Mas Aji Purnianto, seorang peneliti lepas dari UNICEF, yang membuat saya tidak bisa tidur semalam suntuk!!!

Saya membayangkan anak-anak yang tinggal di perkampungan dekat pantai itu. Kehidupannya sehari-hari. Kemiskinannya. Kemelaratannya. Hinaannya. Siksaannya. Apalagi kalau mereka sedang harus melayani pelanggan sementara mereka juga harus menahan perih dan sakit di lambung akibat rasa lapar. Aduuuuhhhhhh!!!! Mules, nggak, sih?!

Ya, Tuhan!!! Apa daya saya?!

Sekarang ini saya memang belum mampu membantu, tetapi saya jadi berkaca pada mereka. “Mereka adalah korban”. Kata-kata itulah yang terus terngiang di dalam hati dan benak saya. Korban politik? Korban ekonomi? Korban budaya? Korban ketidak pedulian? Korban kehidupan? Korban dan korban terus? Apa harus terus jadi korban??? Bagaimana kalau kita mencoba melihat dari sisi mereka?!

Saya yakin bahwa pasti ada rasa marah di dalam hati anak-anak itu. Tetapi pasti juga ada sebagian di antara mereka yang memang merasa tulus dan ikhlas menjalani semuanya. Merasa bahwa telah membantu orang tua dan keluarga. Patuh dan taat. Membebaskan tugas. Meringankan beban. Menerima semua kehidupan yang mereka jalani sekarang ini sebagai satu-satunya cara yang mereka ketahui untuk memberikan yang terbaik.

Perlu kita ingat bahwa mereka itu adalah anak-anak polos yang sedari kecil tidak pernah merasakan kehidupan yang lain selain kesusahan dan kemelaratan. Tidak pernah pergi dari lingkungan sekitar tempat pelacuran itu. Mereka hanya tahu tempat itu. Mereka hanya tahu di situlah mereka hidup. Mereka hanya tahu itulah kehidupan yang sesungguhnya. Benar atau salahnya, berbeda dengan benar dan salahnya kita. Salah kalau mereka kabur dan tidak melayani pelanggan. Benar bila mengikuti peraturan di sana dan memuaskan pelanggan. Kepuasan mereka adalah makan. Hanya makan.

Bagaimana dengan saya? Saya ingin ini. Saya ingin itu. Saya maunya begini. Saya maunya begitu. Mau, mau, dan mau terus!!! Tidak pernah ada hentinya!!! Tidak pernah ada puasnya!!! Kurang terus!!!

Tidak ada salahnya memiliki keinginan. Tidak ada salahnya memiliki rasa mau. Tetapi alangkah baiknya bila kita bisa mensyukuri segala nikmat yang telah kita terima dan kita dapatkan. Tidak ada yang lebih indah selain bisa merasakan semua itu dengan segenap hati, pikiran, dengan menggunakan seluruh panca indera dan tubuh yang kita miliki ini. Rasakan bagaimana air dan nasi yang kita telan itu masuk ke dalam mulut, dikunyah, ditelan, masuk ke dalam lambung, dicerna, diserap, masuk ke dalam darah, dialirkan ke seluruh tubuh. Luar biasa!!!

Jadilah manusia yang positif. Positif hati, pikiran, dan perbuatan. Janganlah kita terlalu sering merendahkan dan menghina para pekerja seksual itu. Kita bisa belajar banyak dari mereka.

Advertisements
28
Oct
09

Kenapa Nggak Kawin-Kawin, Sih ??

100_4849JUMLAH wanita di dunia ini, tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan jumlah pria. Kebanyakan dijadikan alasan untuk poligami, tetapi tidak sedikit juga yang justru malah memilih untuk tidak menikah…

Bukan menghimbau untuk kemudian tidak menikah tetapi justru saya ingin memberikan contoh bahwa bagaimanapun juga menikah adalah hal yang sangat positif dan sangat dianjurkan.

Dari sisi medis, menikah membuat organ seksual dan hormon bisa terga kesehatan dan kestabilannya. Terutama bagi mereka yang melakukan hubungan seksual yang sehat dengan frekuensi yang sangat dianjurkan, yaitu tiga kali seminggu. Dari sisi psikologis, paling tidak rasa kesepian itu tidak hinggap dan terus-terusan menyesakkan dada!

Saya melakukan wawancara terhadap beberapa orang pria yang sampai sekarang, bahkan di usia senja sekalipun masih belum menikah. Saya ingin membeberkan apa alasan mereka dan apa efeknya bagi mereka agar bisa dijadikan hikmah bagi mereka yang sudah memiliki pemikiran ke arah sana bisa berpikir sekali lagi. Bagi mereka yang ingin menikah tetapi belum bertemu dengan pasangan hidupnya bisa terus berusaha. Dan bagi mereka yang sudah menikah atau akan menikah bisa merasa bersyukur.

Dudi, 49 tahun

“Saya sebetulnya ingin sekali menikah, sayangnya waktu itu saya tidak berani memberontak sehingga sekarang dia menikah dengan pria lain.”

Dudi pernah berpacaran dengan seorang wanita bernama Cynthia tetapi hubungan mereka ditentang keras oleh orang tua Dudi dengan alasan perbedaan suku dan agama. Bahkan ketika Cynthia hamil pun, pernikahan mereka tetap dilarang, sampai akhirnya Cynthia hijrah ke Malaysia dan melahirkan anaknya di sana. Berhubung Dudi tidak kunjung datang, Cynthia kemudian memutuskan untuk menikah dengan seorang pria asal Eropa dan pindah ke negara asal suaminya.

Dudi sebenarnya mencari tetapi dia mengakui kalau saat itu dia sangat putus asa sehingga tidak berusaha cukup keras untuk menemui Cynthia. Setelah anaknya berumur delapan tahun, dia baru bisa menemui Cynthia dan anaknya.

“Saya sangat menyesal dan merasa sangat tidak layak untuk menjadi seorang suami. Karena itulah akhirnya saya memutuskan untuk tidak pernah menikah dengan siapapun juga, kecuali Cynthia. Saya akan menunggunya sampai kapan pun juga.”

Soal seks, Dudi merasa tidak ada masalah karena walaupun memutuskan untuk tidak menikah, tidak berarti dia tidak berpacaran dan memiliki “pelampiasan”. Ada banyak wanita yang hinggap tetapi semuanya angin lalu saja. Seks tetap berjalan, tetapi tidak bisa dibilang karena perasaan cinta. “Mungkin rasa sayang ada, tetapi the truth, lebih karena nafsu saja,” menurut pengakuannya.

“Satu hal yang pasti, saya selalu merasa ada bagian dari diri saya yang hilang, dan rasa penyesalan itu tidak pernah hilang dan benar-benar menjadi beban yang sangat berat, sampai sekarang. Saya tidak tahu bagaimana cara menghapuskannya… sepertinya akan terus ada sampai selamanya.”

Brahmantyo, 42 tahun

“Saya belum bisa menemukan wanita yang sesuai dengan keinginan saya.”

Sebagai seorang pria mapan, berwajah menarik walaupun “sedikit montok”, pintar dan supel, seharusnya tidak sulit bagi Tyo, panggilan akrab Brahmantyo, untuk mendapatkan pasangan. Apalagi ditambah kepiawaiannya bermain piano. Bisa dipastikan ada segudang wanita yang berebut untuk bisa menjadi tambatan hatinya.

“Memang banyak wanita yang cantik, pintar, dan ada juga yang baik hati, tetapi saya selalu  merasa bahwa mereka tidak tulus mencintai saya. Saya merasa ada embel-embel di balik semua itu. Mereka seperti hanya melihat dari luar saja, tetapi tidak mau masuk lebih dalam lagi. Bisa dibilang, bagi saya, kebanyakan dari mereka hanya ingin hidup enak dengan pundi-pundi uang yang saya miliki.”

Paranoid “cewek matre” adalah istilah yang paling tepat bagi Tyo. Walaupun dia tahu kalau masih banyak wanita yang “benar” di luar sana tetapi sangat sulit baginya untuk bisa melihat sisi positif dari seorang wanita. Belum apa-apa sudah difensif duluan. Wanita yang “benar” pun akan merasa malas mendekati pria seperti ini. Tidak ada seorang wanita, sekalipun dia seorang wanita matrealistis, yang mau mendapat cap cewek matre.

“Saya suka iri dengan teman-teman yang sudah memiliki istri dan anak. Terbayang setiap kali mereka pulang ke rumah, selalu ada yang datang menyambut dengan penuh kehangatan. Sementara saya, selalu pulang ke rumah kosong. Paling-paling si Jorgi (Golden Retriever peliharaan Tyo) yang datang.”

Clint, 59 tahun

“Sulit bagi saya untuk bisa jatuh cinta.”

Banyak wanita cantik, seksi, pintar, dan menarik, tetapi tidak ada satu pun yang memenuhi kriteria pria charming asal Jawa ini. Ada banyak sekali kriteria yang harus dipenuhi agar wanita itu dianggap layak untuk menjadi pendampingnya. Misalnya saja soal seksi, dia tidak ingin wanita yang kelihatan seksi, tetapi sensual. Dia tidak ingin wanita yang tomboy tetapi tidak suka wanita yang feminin. Sulit untuk dimengerti karena ini benar-benar masalah selera.

“Saya sempat menjauh dari keluarga dan berkelana ke sana ke mari, saking malasnya ditanya “kapan kawin?” atau “mana anakmu?”. Tetapi justru hal inilah yang membuat saya akhirnya sadar bahwa saya hanya lari dari masalah dan tidak menyelesaikan masalah.”

Waktu terus berjalan dan usia terus bertambah, sementara tidak ada satu orang wanita pun yang memenuhi kriterianya. Pernah ada yang mendekati, tetapi kemudian ada masalah yang membuatnya tidak mungkin bisa berhubungan dengan wanita tersebut. Alasannya, karena jarak yang terlalu jauh. Bisa bertemu setahun sekali pun sudah bagus.

Sekarang ini Clint menderita penyakit prostate, yang bisa saja terjadi karena “pipa”-nya jarang dibersihkan. Clint memang bukan tipe pria yang bisa melakukan hubungan seks dengan siapa saja, dia cenderung sangat berhati-hati dalam hal ini. “Takut!” katanya.

“Usia saya sekarang tidak memungkinkan saya untuk menikah, apalagi untuk punya anak. Saya sebetulnya ingin sekali, tapi sudah terlalu terlambat. Seandainya saja saya bisa menjadi muda kembali, saya pasti akan lebih berani mengambil resiko dan tidak terlalu banyak memilih. Saya sangat kesepian.”

Sammy, 51 tahun

“Kesibukan mengejar harta dan ambisi membuat saya jauh dari wanita.”

Impian untuk mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya, harta sebanyak-banyaknya adalah hal yang lumrah, tetapi kalau sampai melupakan hal-hal yang lain, justru jadi tidak sehat.

“Saya dulu ingin sekolah dulu, kerja dulu, punya rumah dulu, hidup berkecukupan dulu, baru mencari pasangan. Saya tidak ingin disebut sebagai seorang pria yang tidak bertanggung jawab dengan tidak bisa memenuhi semua kebutuhan anak dan istri.”

Sampai kemudian tidak terasa waktu cepat berlalu. Sammy yang memiliki perusahaan kontraktor ini seperti keenakan menikmati kesendiriannya. Selama ini dia kurang menyadari karena hidup di lingkungan “laki-laki”, di mana jarang sekali ada wanita yang ditemuinya. Hampir semua temannya laki-laki, dan kalau ada wanita, kalau tidak keluarga, istri teman, atau anak buah yang usianya masih sangat belia.

“Ambisi, cita-cita, dan impian saya sudah terpenuhi semua, tetapi saya sadar kalau semua ini sia-sia belaka. Inti dari semua itu tidak tercapai karena sampai sekarang saya belum menikah. Rasanya sudah tidak mungkin saya bisa menikah.”

Semua nama yang ada di dalam artikel ini adalah nama samaran. Maklum, tidak ada satupun dari mereka yang mau “tampil” dengan alasan malu. Tidak apa-apa, yang penting Anda bisa bisa memetik hikmah dari pengalaman mereka. Semoga saja semua ini tidak terjadi dalam hidup Anda.

Tidak terlalu berteori dan menggunakan nalar untuk selalu berpikir sesuai dengan logika. Ada hati yang memiliki suara untuk bisa didengar. Suara hati yang paling benar dan paling jujur, yang keluar dari dalam diri Anda sendiri.

{Fight for yourself. Perjuangkan apa yang Anda pikir patut dan layak untuk Anda dapatkan. Orang lain, bahkan orang tua bisa bicara, tetapi yang menjalaninya adalah Anda sendiri, bukan orang lain.
}

Percaya diri itu harus tetapi jangan sampai kita menjadi sombong. Belum tentu apa yang kita pikir adalah benar. Berkacalah, lihat, dan akui siapa diri kita yang sebenarnya.

Punya keinginan boleh-boleh saja, tetapi jangan terlalu banyak mau. Life goes on. So, let it flow…

 

Sumber:

http://mariskalubis.com/index.php?option=com_k2&view=item&id=4:kenapa-nggak-kawin-kawin-sih-??&Itemid=110

28
Oct
09

Colak-Colek: Please, deh, ah!

100_5132JANGAN coba-coba mengganggu kalau tidak mau kena tinju. Jangan colek-colek kalau nggak mau ditendang! Hancur baru tahu rasa!

Salah seorang adik saya pergi berangkat ke Jakarta dari Bandung menggunakan kereta api. Di dalam kereta berkenalan dengan seorang pria yang duduk di sebelahnya. Cerita punya cerita, ternyata tujuan mereka searah. Mereka pun kemudian memutuskan untuk naik taksi bareng setibanya mereka di sana. Biar irit ongkos, pikir adik saya. Maklumlah, waktu itu dia statusnya masih mahasiswa.

Setelah beberapa waktu di dalam taksi, tanduk pria itu pun keluar. Dia mulai meraba-raba paha adik saya. Spontan dia langsung bereaksi. Sopir taksi diminta menghentikan kendaraannya. Dia pun menghajar pria itu habis-habisan. Mana adik saya itu tinggi besar, mantan pemain American Football dan gulat lagi! Eh, ditambah lagi dengan tendangan pak sopir taksi. Habis, deh! Babak belur!

Bandingkan dengan cerita ketika saya masih kuliah di kampus Grogol dulu. Seorang mahasiswa dari Fakultas lain mencolek saya. Saya marah, dan langsung menampar, menendang, dan meninjunya sampai dia pun tergeletak di atas lantai.

“Mau kamu bilang saya perek, kek, pelacur, kek, apa, kek, terserah! Tapi jangan pernah nyentuh saya sedikit pun!”

Belum puas. Saya pun melambai-lambaikan tangan ke arah “penonton”, sambil teriak-teriak, “Maling…. Maling….!!!!” Kebayang, kan, apa yang terjadi selanjutnya.

Jahat! Iya! Tapi itu reaksi spontan! Siapa suruh dia kurang ajar?!

Apa ada perbedaan antara kedua cerita di atas? Tentunya selain yang satu gara-gara gay nggak tahu diri dan satu lagi karena pria nggak punya nyali.

Banyak pria yang jengkel dengan kelakuan kaum gay ataupun transeksual yang berbuat tidak “pantas” kepada mereka. Sayangnya, banyak pria yang tidak sadar kalau mereka juga sering membuat jengkel kaum perempuan bila mereka melakukan hal yang sama terhadap perempuan. Malah ada satu orang pria yang benar-benar keterlaluan, menurut saya.

“Kalau itu, kan masih normal! Kalau gay, sih…. Iiihhhhh!!!!”

Oh, normal ya? Colek-colek perempuan dibilang normal?

“Jijik lagi! Kalau kamu dicolek pria, kan, masih bisa menikmati! Anggap saja itu pujian!”

Menikmati??? Pujian???

“Aah… awalnya doang sebel, tapi kalau lama-lama juga suka! Iya,kan?”

Sumpah! Tolol banget pria itu!

Sejak saat itu saya tidak pernah bisa menerimanya sebagai teman lagi. Yah, ala kadarnya saja. Cukup kenal. Ngobrol? Ogah banget!

Ini bukan masalah perbedaan jenis kelamin atau perbedaan pilihan hidup. Murni karena rasa saling hormat-menghormati yang seharusnya benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bila kita ingin dihormati, kita juga harus terlebih dahulu menghormati orang lain. Sebuah resep jitu turunan dari nenek moyang yang harus terus kita lestarikan.

So, please, deh, ah! Tahu diri sedikit kenapa?!

 

Sumber: http://mariskalubis.com

28
Oct
09

Wah…!!! Telanjang Semua…

100_5102DIAJAK salah seorang teman saya ketika mampir ke daerah California, Amerika Serikat untuk berwisata ke pantai tempat berkumpulnya orang telanjang di sana.

“Kapan lagi bisa lihat yang telanjang kayak begitu? Di Indonesia nggak ada, lho!”
Wuih!!! Boleh juga, pikir saya.
“Tapi yang boleh masuk sana cuma yang telanjang saja!”
Yah… terus saya harus ikutan telanjang juga? Gitu?!!!
“Kita-kita aja, kan? Bisa jaga rahasia, kan?”
Teuteup, deh!

“Telanjang doang, nggak ngapa-ngapain, kan?”
Duileh!!!Dia enak! Dua orang teman saya yang lain juga enak! Mereka laki-laki semua! Saya perempuan satu-satunya! Rugi banget, deh!!!

Akhirnya kami pun batal pergi ke “Black Beach” dan pindah ke tempat lain. Melihat yang telanjang juga, sih! Ikan-ikan telanjang, maksudnya!!! Hehehe…

Sekali lagi saya diajak ke tempat kaum nudist juga. Kali ini di daerah Melbourne, Australia. Hanya saja, kali ini saya mau ikut datang ke sana, kali ini lebih pintar. Sesuai dengan ajaran salah satu teman yang sering datang ke sana, saya pun memakai bikini. Kalau ditanya, alasannya sedang menstruasi. Jadi, boleh dong nggak buka-bukaan… daripada “beleber” ke mana-mana! Hehehe… Pengen tahu, sih!

Sesampainya saya di sana…. Wah… benar saja! Telanjang semua, euy! Kelihatan jelas, deh, aneka bentuk dan rupanya! Besar. Kecil. Panjang. Pendek. Bulat. Lonjong. Warnanya juga beda-beda! Ada yang putih, ada yang semu merah, ada yang kecokelatan, dan ada pula yang sawo matang. Semuanya meletus!!!

Tapi jangan salah! Nggak ada satupun yang bagus!!! Jelek-jelek malah! Hancur habis!!! Kebanyakan sudah tua , peyot dan rayut! Boro-boro bikin nafsu, yang ada malah bikin pengen muntah! Nggak lebih dari setengah jam, saya langsung cabut dari tempat itu. Hiiiiii….!!!

Gosip yang saya dengar dari teman-teman kampus saya, katanya, sih, memang kalau di tempat seperti itu jarang ada yang badannya bagus. Justru kebanyakan yang gendut-gendut, tua-tua, dan “tak berbentuk”. Ternyata memang bukan gosip, tapi fakta.

Kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga, sih! Kalau yang badannya bagus, ngapain diumbar di sana. Di majalah lebih laku kali! Hehehehe….

Anyway, terserahlah apa yang ada di pikiran orang-orang itu. Biarlah mereka menjadi mereka selama tidak mengganggu orang lain. Yang pasti, buat saya, nggak lah, ya! Saya nggak mau jadi seperti anjing atau kucing yang ke mana-mana nggak pakai baju! Malu! Kemaluan, kok, diumbar!

Mudah-mudahan di Indonesia ini tidak ada, ya, tempat seperti itu. Kalau hanya sebatas bikini dan pakaian renang, sih, oke, tapi kalau telanjang… rasanya tidak tepat sama sekali! Lagipula, mau di mana coba? Mau di Ancol? Di Pelabuhan Ratu? Nggak mungkinlah, hay! Bisa-bisa jadi tontonan orang sekampung, deh!

Bagi penganut aliran ini di Indonesia, telanjangnya di rumah saja, ya!!!

 

Sumber:

http://mariskalubis.com/index.php?option=com_k2&view=item&id=32:wah%E2%80%A6-telanjang-semua%E2%80%A6&Itemid=110

28
Oct
09

Mengapa Saya Jatuh Cinta dengan Seks?

100_5077MENYENANGKAN. Luar biasa rasanya. Nikmat. Bikin lebih rileks. Membuat hidup lebih sehat. And so on…, and so on. Hehehe….
Alasan klasik yang umum. Wajar saja karena seks seringkali dilihat hanya dari sisi pandang “seonggok daging di antara belahan paha” doang, sih!!! Ditambah lagi dengan banyaknya film, majalah, dan tulisan-tulisan tentang seks yang kebanyakan memang mempertontonkan dan membahas masalah itu. Apalagi kalau porno dan vulgar, wah, makin banyak yang lihat, tonton, dan baca!!!

Tak heran juga bila kemudian banyak kontroversi tentang seks. Ada yang mengangapnya sebagai sesuatu yang tabu, di luar norma dan etika yang berlaku, tidak pantas, dan tidak senonoh. Patut diakui memang kebanyakan yang negatif, kok!!!
Bagi saya, seks adalah sesuatu yang sangat penting dan esensial dalam kehidupan. Tidak hanya berperan dalam reproduksi dan produksi keturunan saja, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Penilaian terhadap kondisi masyarakat dari sisi politik, sosial, dan budaya, dapat kita lihat dan nilai lewat perilaku seks di dalam masyarakatnya. Bahkan kehidupan di dunia ini pun sangat berpengaruh sekali dengan yang namanya seks. Masih ingat bagaimana hebohnya dunia sewaktu pertama kali ditemukan virus HIV dan penyakit AIDS? Atau bagaimana pertumbuhan pekerja seksual yang tinggi di negara-negara pecahan dari Russia? Apa akibat dari “baby booming”? Atau di Indonesia sendiri sajalah, bagaimana dengan aliran “free sex” di kalangan remaja dan pasangan muda yang membuat kalut para orang tua?

Kenapa, ya, ini semua bisa terjadi??? Mengapa harus terjadi??? Apa yang akan terjadi selanjutnya??? Itu adalah alasan awal kenapa saya mulai mempelajari soal seks. Seks ternyata luar biasa menariknya. Seks ternyata bisa dilihat dari berbagai macam sisi pandang yang berbeda. Bisa dilihat dari segi medis, psikologi, sosial, budaya, politik, agama, antropologi, sejarah, dan masih banyak lagi. Kayaknya hampir semua bidang bisa, deh!!! Makanya dari dulu seks sudah menjadi perhatian banyak filsuf, ilmuwan, sastrawan, budayawan, politikus, agamawan, -wan dan –wan yang lain. Perhatikan saja cerita yang dilukiskan di Candi Roro Mendut!!! Bahkan kita juga bisa melihat bagaimana hubungannya dengan ilmu fisika dan matematika. Hehehe… Tidak percaya????

Bila Anda mempelajari sains secara lebih serius, pasti mempelajari yang namanya The Law of The Universe, dong?! Dari sekian banyak hukum yang ada di dalamnya, ada satu yang menyebutkan bahwa energi itu tidak dapat dibuat, dan sifatnya kekal. Hanya bisa diubah menjadi bentuk energi atau materi lainnya. Ya, kan? Nah, melakukan hubungan seksual membutuhkan energi banyak juga melepaskan energi yang besar pula jumlahnya. Selama ini kita hanya berpikir bahwa lumayanlah bisa keluar keringat dan mengurangi berat badan dengan cara yang enak…, hehehe…, tetapi pernah nggak berpikir ke mana, tuh, energi itu kemudian pergi? Menjadi apa energi itu kemudian? Apa menjadi positif atau negatif???? Nah, lho?!!!

Lalu apa hubungannya dengan matemátika? Nah, sekarang giliran yang pernah belajar angka biner, nih!!! Betul nggak kalau dibilang bahwa angka biner itu merupakan dasar pemikiran “yin dan yang”, yang merupakan simbol dari harmoni kehidupan? Perpaduan angka ada dan tiada atau keadaan yang sangat berlawanan, sangat mempengaruhi kehidupan di alam semesta ini. Seks yang merupakan bagian dari kehidupan, tentunya sangat berpengaruh ke dalam harmoni kehidupan di masa lalu, kini, dan juga nanti. Kenapa? Karena menurut saya, keseimbangan dari ada dan tiadanya inilah yang harus dipertanyakan. Bagaimana bila adanya terlalu banyak atau tiadanya yang terlalu banyak? Bagaimana bila keadaan yang sangat berlawanan menjadi terlalu besar dan saling tumpang tindih antara yang satu dan yang lain?

Saya memiliki hipotesa atas pemikiran saya sendiri, dan menjadi sebuah bentuk keyakinan dalam diri saya bahwa seks yang sehat, baik, dan benar, juga seks yang dilakukan bagi dan untuk yang benar, akan memancarkan energi positif ke alam semesta ini untuk kemudian menjadi energi dan materi lain yang positif juga hasilnya bagi kehidupan manusia. Sehingga kemudian akan tercipta sebuah keseimbangan di dalam alam ini yang tentunya sangat penting bagi kehidupan kita dan generasi-generasi setelah kita. Mimpikah ini?! Silahkan bagi yang berpikir begitu, tetapi bagi saya ini adalah hal yang sangat nyata. Sesuatu yang tidak bisa kita pungkiri lagi dan harus segera kita benahi. Saya tidak ingin apa yang kita lakukan sekarang, merusak dan menghancurkan generasi mendatang.

Satu lagi, saya juga tidak ingin negara dan masyarakat kita hancur berantakan. Ada yang berusaha membenahi negara dari sisi politik, dari sisi ekonomi, dari sisi sosial, dari sisi budaya, dan masih banyak lagi. Saya hanya ingin ikut berperan. Sedikiiiitttt saja!!! Membenahi perilaku seks di masyarakat. Boleh, kan?! Rasanya, kok, saya tidak bertanggung jawab bila hanya duduk diam dan berpangku tangan saja atau sekedar menghujat dan mengkritik tanpa melakukan sesuatu. Menjadi beban berat bagi saya sendiri bila saya tidak melakukan sesuatu. Biarpun mungkin tidak berarti banyak, tidak ada salahnya, kan, mencoba???

Mudah-mudahan, tulisan ini bisa memberikan pengertian kepada semua mengapa saya doyan banget nulis tentang seks!!! Mengapa saya terus-terusan menganjurkan seks yang sehat yang baik dan benar. Mengapa saya selalu berusaha membuat pembaca untuk tidak berpikiran kotor dan negatif tentang seks. Mengapa saya ingin pembaca melihat seks dari berbagai sisi pandang yang berbeda.
Semoga bisa dipahami, dimengerti, dan dimaklumi. Terima kasih, ya!!!

Sumber:

http://mariskalubis.com/index.php?option=com_k2&view=item&id=69:mengapa-saya-jatuh-cinta-dengan-seks?&Itemid=110




Indonesian Muslim Blogger

KALENDER

November 2018
M T W T F S S
« Mar    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

KATEGORI TULISAN

SEMUA TULISAN

Advertisements