29
Oct
09

Sarapan Makian Untuk Anak-anak

bukan caci makiMenjadi sebuah hal yang menarik bagi saya, memperhatikan karakter beberapa figur rekan ataupun kenalan yang telah menikah. Spesifik ketika mereka berhadapan dengan anak-anaknya. Lebih spesifik lagi dalam gaya berkomunikasi. Di sebuah kontrakan yang pernah saya tempati, saya pernah memiliki tetangga. Sepasang suami istri yang baru memiliki 2 orang anak laki-laki berusia 10 dan 7 tahun.

Anak-anak mereka yang dimata saya terlihat lucu dan menyenangkan itu ternyata tidak mendapatkan sikap yang menyenangkan dari kedua orangtuanya. Berbagai jenis bahasa caci maki kerap saya dengar ditujukan untuk anak-anaknya. Acap terjadi sebenarnya yang menjadi pemicu adalah kesalahan kecil saja. Saya tahu hanya kesalahan kecil karena memang posisi kontrakan kami yang berdempetan. Anak-anaknya berbicara dengan irama manja, terkadang harus mendapat balasan berupa bentakan.

Terkadang saya sendiri sempat terpikir, sebegitu lelahkah orangtua anak-anak ini, sampai untuk menghadapi anak-anaknya nyaris tidak bisa dengan bahasa yang lebih lembut, yang lebih mencerminkan kasih sayang. Ini satu persoalan. Saya ingin menyelam sedikit kedalam sisi karakter. Tidak kedalam karakter ibu muda itu saja, tetapi juga kedalam jiwa kita. Itupun jika anda yang emmbaca tulisan ini membiarkan diri anda kerasukan dengan usaha saya menyelam kesana.

Memang, kita memiliki keterbatasan. Kita memiliki kemungkinan untuk merasakan lelah yang teramat sangat. Sebuah kondisi yang mungkin disana kita berhadapan dengan pilihan satu saja, tidak bisa mengontrol emosi. Keadaan yang dalam disiplin psikologi disebut dengan burnout. Tetapi, saya jadi ingin merefleksi diri. Andai, yang menjadi orangtua dari kedua anak itu sendiri adalah diri saya sendiri. Apakah mungkin saya bisa menunjukkan sebuah sikap yang lebih baik?

Hm, saya tidak ingin terjebak pada kalimat yang mengposisikan saya seolah merupakan figur lelaki yang lebih baik dari lelaki lain. Apalagi, saya akui memang belum pernah menikah. Tetapi, kembali pada permasalah itu, saya harus mengakui jujur. Bahwa kemungkinan untuk melakukan hal yang serupa pasangan orangtua anak-anak itu, bisa jadi juga saya lakukan. Namun begitu, saya sering meyakini juga bahwa, sesuatu akan sering keluar ketika memang diri kita sendiri membiarkan sesuatu sikap mewujud.

Begitu sikap itu sudah sering dilakukan—termasuk memaki anak–, maka kecenderungannya adalah orangtuanya merasakan nyaman mengucapkan itu sebagai luapan amarah dan kekesalannya. Namun pada saat yang sama menjadi sebuah siksaan yang teramat sangat bagi anak-anaknya. Saya sering merasa iba melihat wajah anak-anak itu. Terbetik ingin untuk bisa memeluk mereka. Ah, tetapi kemudian terhalang dengan posisi saya sendiri yang bukan siapa-siapa bagi anak-anak.Meski, sering terjadi juga saya berimajinasi liar saat melihat hal tidak mengenakkan terjadi. Ingin untuk menendang pintu rumah pasangan tersebut dan melarikan anak-anaknya.

Tentu, anda saja tersenyum bukan? Seorang lajang yang memiliki “kesalahan” karena menguping makian yang memang terdengar keras itu. Saya kira, mungkin satu hal yang harus kita lakukan, baik yang sudah berkeluarga atau juga sama seperti saya masih memilih melajang. Menciptakan sebuah pilihan sikap, jangan mengenal kata-kata bernada makian. Bila orang-orang disekitar sering memaki, jikapun ia sahabat, sebaiknya hindari saja. Karena bukan tidak mungkin juga, apa yang sering dilihat dan didengar itu kelak akan menyatu perlahan dengan diri kita sendiri tanpa terasa.

Lantas, kita menjadi bagian dari orang-orang yang tercatat di buku-buku malaikat sebagai manusia “pembunuh” anak-anak kecil. Sebab jelas, ketika seorang anak sering dimaki, kecenderungan yang bakal terjadi lagi, mereka tidak akan leluasa berekspresi. Selanjutnya, tumbuhlah sebuah generasi tanpa kreatifitas. Generasi lemah. Generasi yang dipenjara oleh ketakutan yang dibuat oleh orang-orang yang mengklaim diri mencintai mereka. Disini kesampingkan dulu persoalan intelektualitas. Kendati kita memiliki latar belakang pendidikan apapun. Tetapi coba lebih jeli pada cara kita menatap anak-anak itu. Pelibatan hati, nurani, rasa, empati atau apapun namanya itu. Entahlah, setidaknya ini menjadi renungan kita bersama


2 Responses to “Sarapan Makian Untuk Anak-anak”


  1. October 30, 2009 at 3:45 am

    saya tertarik membaca ini mungkin karena saya juga seorang pengajar walau terkesan subjektif tapi bila sejatinya dilihat dari latar belakang pendidikan saya bukan berasal dari bidang yang sama sehingga saya memerlukan sedikit kerja keras agar saya bisa mendekati karakter murid saya. Pada dasarnya saya bukan seorang yang pemarah atau orang yang mudah mengucapkan hal yang tidak baik walau lingkungan saya tidak berlaku seperti itu, mungkin karena kontrol emosi saya sedikit lebih baik. Orang tua berbuat seperti itu ada beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain ekonomi, tingkat pendidikan, depresi dll, ketika masalah itu muncul mereka menjadi lebih sensitif sehingga hormon mereka berubah dan menjadi lebih pemarah tidak bisa mengontrolnya termasuk terhadap anak mereka. Sebenarnya kasihan anak anak tersebut, menurut pengalaman saya ajaklah anak itu berfikir dewasa dengan bahasa anak kecil maka ia tahu, anak yang diberi pemahaman akan tahu selama kita menggunakan kalimat anak dan berbicara dengan hati. ketika anak sedang bandel atau tidak menurut tidak harus kita menggunakan kekerasan cukup dengan intonasi suara yang dirubah sedikit saja anak mengerti,anak memiliki indra perasa yang lebih karena dia masih lugu sehingga dia mengerti intonasi mana yang sedang marah atau tidak, bahkan seorang anak autis saja mengerti padahal mereka memiliki kesulitan untuk konsentrasi. Anak titipan Tuhan haruskah kita menyalahkagunakan kepercayaan itu. saya rasa mungkin itu sedikit gambaran dari saya semoga memberi manfaat

  2. 2 amin
    October 30, 2009 at 11:17 pm

    Artikel yg bagus. Sebuah introspeksi yg tajam nan lembut dr seorang lajang di kolong langit ini. Semoga kepekaan positifnya membaca lingkungan sekitar bisa menulari sesama. Jangan bosan menulis peristiwa ketidakberesan lain ya, agar bumi tetap lestari.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Indonesian Muslim Blogger

KALENDER

October 2009
M T W T F S S
    Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

KATEGORI TULISAN

SEMUA TULISAN


%d bloggers like this: