29
Oct
09

Pelajari Ulang, Cinta

IMG_1476Obrolan kecil terjadi. Darimana harusnya kita belajar cinta? Dari film-film Korea yang sekarang kian marak mengisi televisi?

Iya, itulah yang menjadi sebuah diskusi ringan saya dengan seorang rekan. Dan, disana saya berpijak pada keyakinan hati yang terdalam yang pasti dimiliki setiap manusia. Belajar cinta dengan cara menyelam ke kedalaman diri. Tak lama saya sendiri yang mendebat diri sendiri, tanpa belajar dari siapa-siapa apakah mungkin kenal dengan cinta itu? Hm, kembali saya tercenung dan merenung. Hati terdalam menjadi tema selanjutnya dalam “diskusi” yang saya lakukan dengan diri sendiri. Begitu kuat meresap di ruang-ruang pikiran. Berkelebat gambaran orang-orang disekitar saya yang berbicara tentang cinta. Beberapa meributkan cinta dari sisi definisi. Yang lain sudah mengabdi penuh pada keyakinan, tidak ada yang harus dibahas dari cinta. Cinta itu tidak sekedar rasa, namun ia adalah bentuk sikap, bentuk kesediaan untuk berkorban. Dan, saya sendiri memasukkan diri sendiri dalam kelas orang-orang yang tidak ingin melihat cinta secara parsial. Terasa picik jika saya ikut mendeklarasikan cinta hanyalah untuk orang-orang yang terdekat. Baik untuk kekasih atau istri (bagi yang sudah beristri).

Baik, jika yang paling menarik adalah membicarakan cinta hanya bila dikaitkan dengan pasangan sendiri. Figur yang mengisi nyaris seluruh urat-urat yang ada di jiwa. Nah, jika begitu saya berkeinginan sekali untuk nyeletuk dengan keyakinan dan sudut pandang “subjektif” saya. Bahwa, bukanlah disebut cinta jika orang yang “merasakannya” malah kian tidak berdaya. Membuat orang yang dihinggapinya terasa lemah. Dan logika itu pula, sampai membuat saya mengeluarkan kalimat,”kita bubarkan saja hubungan ini, mungkin saja akan membuat masing-masing kita merasa lebih tenang.” Kalimat ini saya keluarkan nyaris tanpa ekspresi pada sesosok perempuan yang pernah menghinggapi reranting pohon hati. Argumen saya pada diri sendiri adalah, jika yang saya rasakan ketika itu adalah cinta, maka cinta tidak dibutuhkan ketika hanya membuat tubuh dan jiwa kian kuyu melemah. Semangat menghilang seperti yang diceritakan dalam roman klasik Laila Majnu.

Sekali lagi, ini mungkin adalah sebentuk penglihatan yang sangat subjektif dari saya. Bila ini adalah ketololan, maka saya persilahkan untuk menyebut ini sebagai ketololan saya.

Banyak kasus yang saya amati sepanjang sejarah saya sudah bisa berpikir. Orang-orang penting terlibat skandal oleh “cinta”. Pria dan wanita yang kecewa dan patah hati, beberapa memilih untuk bunuh diri. Dari sana, saya memperhatikan, harus jelas benar dipilah antara cinta dengan perasaan yang diaduk ketololan diri sendiri. Lagi, karena saya melihat bahwa cinta seharusnya memberi energi. Menjadi suplemen untuk seseorang berusaha, bangkit memberikan yang lebih baik pada dunia. Ketikan, misal saja, ada seorang lelaki atau perempuan hanya menuntut perhatian untuk dirinya sendiri dari pasangannya. Itu, kalaupun masih dipaksakan untuk disebut sebagai cinta, tetaplah sebuah bentuk cinta yang sangat tidak penting. Silahkan campakkan kedalam tong-tong sampah.

Dengan bahasa keakuanku, aku melihat cinta itu lahir dari matahari. Ia terang, menerangi ruang-ruang pekat yang lepas dari atap-atap kecurangan, dusta dan kemunafikan. Bila atap dan jendela kejujuran masih terus saja ditutup, tidak ada ventilasi memadai untuk cinta itu datang


2 Responses to “Pelajari Ulang, Cinta”


  1. October 30, 2009 at 3:22 am

    cinta bermakna luas tergantung dari kacamata mana kita melihatnya. Devinisi cinta @ banyak dan tak terbatas tergantung sejauh mana kita mengenal cinta itu sendiri. Menurut saya bagaimana mungkin seseorang yang tidak mengenal cinta bisa berbicara tentang cinta. Intinya disini pengalaman berbicara tetapi perlu diketahui pengalaman saja tanpa ada refleksi dari diri saya rasa juga percuma itu akan membuat kita terjatuh dalam lubang yang sama dan yang saya lihat hal itu yang sering dialami para pencinta negeri ini sehingga ketika cinta itu KEMBALI tidak memberi harapan mereka seakan akan tidak berarti.
    Menurut saya Cinta @ sebuah proses, proses pembelajaran, penerimaan, pengikhlasan untuk menerima segala kondisi apapun. Karena itu sebuah proses maka cinta tidak mungkin singkat karena dia membutuhkan waktu bahkan setelah menikah dan beranjak menua, jika proses itu telah terjalani bukan hanya pacar,suami yang kita dapatkan tetapi sahabat yang benar benar mengerti kita, mendukung kita dan memegang erat tangan kita. itulah Cinta sejati seperti yang dijarkan oleh eyang kakung saya yang membuat saya tak pernah lelah mencari sosok yang bernama CINTA.
    Semoga sedikit memberi warna tersediri mengenai arti CINTA.

  2. November 15, 2009 at 12:02 am

    Nice posting.
    Cinta…
    Satu kata yang butuh pendalaman makna, perjuangan, hingga pengorbanan.
    Cinta yang sebenarnya adalah memberi, memberi dan memberi tnpa mengharap apapun kpada yang di beri..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Indonesian Muslim Blogger

KALENDER

October 2009
M T W T F S S
    Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

KATEGORI TULISAN

SEMUA TULISAN


%d bloggers like this: