29
Oct
09

Bila Sikecil Butuhkan “Seks”

IMG_1367Kejadiannya sudah beberapa tahun lalu, tidak ingat lagi persisnya tahun berapa. Jelasnya, seorang adik saya, Fikri yang juga berjenis kelamin sama, laki-laki tulen. Ia terlihat duduk termenung didepan pintu depan rumah. Pandangan matanya terlihat kosong. Tadinya ia memang baru saja pulang dari acara pernikahan bersama Ibu. Melihat ekspresi seriusnya, saya dengan saudara-saudara lainnya cekikikan, diikuti juga oleh ibu. Tidak lama, Ibu menanyakan padanya,“Pue ka pikee Neuek? Sang deueh seriuh that.” (terj: Apa yang kamu pikirkan,Nak. Keliatannya kok serius sekali). Dengan ekspresi lugunya namun tetap serius ia berujar,”Saboeh-saboeh ureueng inoeng meunikah ngoen gop. Singoeh watee lon rayeuek takot lon hana lee inoeng.” (Terj: Satu persatu perempuan yang ada dinikahi orang. Aku cemas, nanti setelah aku dewasa, sudah tidak ada lagi perempuan yang tersisa untuk aku nikahi). Sontak saja, seisi rumah yang memang sedang berkumpul tertawa terpingkal dengan kepolosannya.

Sekarang, membayangkan itu, tidak hanya membuat saya tersenyum. Tetapi juga merasakan sebuah pesan kejujuran, anak-anak juga memiliki kebutuhan terhadap seks. Walau mungkin memang sikapnya tidak serta merta bisa diklaim sebagai bentuk butuh seorang anak kecil terhadap seks. Namun, setidaknya cukup untuk menjelaskan bahwa mereka punya kebutuhan terhadap lawan jenis. Jadi izinkan saya menerjemahkannya sebagai bentuk sex need. Kebutuhan terhadap seks.

Sisi lain, saya juga terpikir bagaimana menunjukkan sikap ideal saat sikecil berbicara yang berhubungan dengan seks. Tidak cekikikan saja yang diperlihatkan keluguan sikecil. Nah, disini saya berpandangan bahwa realitas serupa ini bisa saja dihadapi oleh anak-anak siapapun. Tetapi, saya kira memang harus dilihat dengan serius persoalan itu. Walaupun saya belum menemukan konsep yang cukup konkret sebagai jawaban. Tetapi, saya berkeyakinan cukup penting mengamati bagaimana proses perkembangan si kecil. Kenapa, disebabkan beberapa kasus lain juga pernah saya temukan. Sebagai penjelas ekses ketika solusi yang diberikan tidak “serius”.

Satu ketika, saat melakukan outbond di sebuah desa (tidak perlu saya sebutkan). Saat sedang mengayunkan kaki bersama rombongan saya, menapaki gundukan pasir disisi sebuah sungai. Bentuk gundukan itu persis seperti gunung-gunung kecil. Sejurus kemudian, terdengar suara anak-anak yang saya yakin merupakan anak-anak dari penduduk desa sekitar lokasi outbond itu. Apa yang saya saksikan, 3 orang bocah, satu lelaki dan lainnya adalah gadis kecil, dengan kisaran usia 6-8 tahun. Cekikikan itu muncul disebabkan 2 bocah perempuan sedang memperebutkan si lelaki kecil (kemaluannya) untuk didekatkan kearahnya. Meski tidak lama saya dan rombongan melihat, deheman yang kami perdengarkan cukup menjadi “komando” untuk anak-anak tersebut berhamburan, hilang mungkin langsung pulang.

Sikecil juga sudah mulai merasakan kebutuhan terhadap seks. Dan yang saya ilustrasikan diatas menjadi sebuah bentuk pemandangan yang semua kita akan sepakat, idealnya tidak terjadi. Tetapi potensi seperti itu akan tetap saja terjadi. Nah, untuk itu saya berpikir bahwa keseriusan dari keluarga yang lebih dewasa, tidak hanya orangtua menjadi sebuah hukum wajib. Karena, kalaupun dibenturkan dengan teori-teori psikologi. Pengalaman masa kecil tetap akan memberi pengaruh pada karakter mereka saat dewasa. Nah, bagaimana dengan anda yang sedang masih memiliki sikecil. Sekedar renungan untuk kita bersama.


0 Responses to “Bila Sikecil Butuhkan “Seks””



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Indonesian Muslim Blogger

KALENDER

October 2009
M T W T F S S
    Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

KATEGORI TULISAN

SEMUA TULISAN


%d bloggers like this: