28
Oct
09

Renungan Lelaki Lajang Saat Hujan

IMG_1366Diluar sedang gerimis, dari jendela yang berada persis berhadapan dengan layar komputer, saya melihat tanah basah. Seketika saja, kondisi alam yang seperti itu mengingatkan saya pada ledekan rekan-rekan yang sudah berhasil keluar dari egonya, berhasil mengambil keputusan untuk menikah. Dari mereka, acap datang SMS ke Seluler saya,”Bos, hujan nih. Kamu bayangin aja disana, aku mau manasin badan dulu.”

Sering, saya dibuat tersenyum sendiri dengan gaya SMS rekan-rekan saya itu. Juga sering  terjadi dengan teman-teman yang saat malam pertama setelah nikah,  langsung mengbombardir Seluler saya dengan pesan pendeknya:” Bro, aku duluan okey, ahhhh.” SMS yang membuat jengah dan juga menimbulkan tanya pada diri sendiri. Sekian banyak sudah teman, sahabat yang “memprovokasi” saya untuk terus menikah. Tunggu apalagi, katanya. Berbicara usia, sudah sangat layak disebut matang. Secara profesi, walaupun terkadang hanya sebagai freelancer, namun tetap juga memiliki ruang untuk terus menambah rejeki. Begitu khotbah-khotbah mereka. Meski, saat akan mengambil keputusan menikah, dulu justru mereka yang meminta saya “berkhotbah” dengan saran-saran saya.

Tetapi, lagi dan lagi saya masih tetap bergumul dengan ‘idealisme’ saya sendiri. Bahwa, untuk menikah itu tidak cukup hanya dengan kemauan. Untuk menikah butuh kematangan dari segala hal. Pattern pikiran saya ternyata sangat perfeksionis. Apalagi memang, dengan keterbukaan saya bergaul dengan banyak orang dan lintas usia, pekerjaan dan status sosial. Saya menemukan tidak sedikit keluhan.

Sebut saja Zainal (bukan nama sebenarnya), ia berujar:” aku sebenarnya memang harus mengsyukuri dengan istri yang saya miliki. Ia punya wajah yang cantik, tidak kalah dengan artis. Tetapi jangan kamu kira aku sudah sangat enak hidupnya. Secara kebutuhan seks mungkin terpenuhi. Namun, kalau mengajak diskusi tentang perihal yang sedikit serius yang aku temui sehari-hari, ia tidak nyambung Bro. Itu yang sering bikin saya jengkel. Karena memang menikah itu, disana istri tidak hanya untuk kebutuhan seks. tapi bagaimana ia juga idealnya juga bisa membantu kita mikir, aduh.” Keluar puisi keluhan dari mulutnya.

Pada kasus lain, seorang rekan yang juga tidak kalah ganteng dari saya hehe, juga mengelurkan sajak-sajak keluhan,”aku kemarin nekat untuk menikah, apalagi dengan istriku itu sudah PNS, setidaknya ia sudah lebih mapan. Saya sendiri bisa bekerja apa saja. Tapi yang terjadi sekarang, saya justru minder dengan sendirinya, oleh sebab penghasilan istri saya jauh lebih tinggi dari saya sendiri. Seringkali terjadi, seharian terkadang saat tidak ada kegiatan aku menjadi pengasuh anak. Jujur, aku merasa menjadi suami yang tidak berharga.”

Menyimak mereka dan beberapa hasil diskusi lain yang tidak saya tuliskan disini, saya semakin “memaksa” diri untuk memutuskan menikah. Mungkin, memang saya sendiri yang sudah membuat penjara dari besi yang terlalu kuat, entahlah


0 Responses to “Renungan Lelaki Lajang Saat Hujan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Indonesian Muslim Blogger

KALENDER

October 2009
M T W T F S S
    Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

KATEGORI TULISAN

SEMUA TULISAN


%d bloggers like this: