28
Oct
09

Lajang, Bila Malam

IMG_1440Entahlah, mungkin karena memang karena saya masih single asli sampai kemudian merasa bangga menjadi lajang seperti ini. Dan lantas mulai menyukai menulis tentang sisi terdekat yang saya alami sendiri, ya kondisi melajang itu.

Beberapa hari lalu, saya kembali teringat saat mengobrol dengan rekan Taufik dan Biar. Dua rekan yang sudah hampir setahun menikah, atau bisa dibahasakan sebagai pengantin baru. Saat itu, saya dengan mereka sedang berkemas untuk pulang setelah seharian dalam rutinitas refreshing di salah satu pantai di Aceh. Taufik dengan bahasanya mneyirami telinga dan pikiran saya dengan kalimat-kalimat provokatifnya. Bahwa menikah merupakan pilihan yang paling cerdas. Rekan Biar (nama asli, Armansyah Putra Barus), tak ketinggalan juga mengeluarkan jurus-jurus pamungkasnya.

Disana saya sendiri tidak membalas semua jurus yang dikeluarkan mereka, selain sesekali hanya menangkis dengan beberapa alasan yang sebenarnya saya tahu, alasan saya memang sengaja saya buat-buat. Karena jelas, saya tidak bisa berpikir seleluasa saat menulis. Jadi, disana saya menjadi bulan-bulanan provokasi mereka. Topiknya tetap konsisten dengan, nikah dan nikah. Satu hal lagi, kondisi ini mengingatkan saya pada potret yang memang selama ini saya alami. Kemana saja kaki melangkah, nyaris tiap jengkal tanah berisi manusia yang seakan tidak miliki topik lain untuk dibahas dengan saya, lagi dan lgi seputar masalah kenapa saya tidak menikah.

Dalam terminologi Aceh ada sebuah kalimat sindiran yang sering juga saya dengar, Tuha ue jeuet keue bijeh, tuha kreh hoe taba (Terj: bila kelapa yang tua, mungkin kelapa tersebut bisa diambil sebagai minyak. Tapi jika kemaluannya lelaki menua, mau dibawa kemana). Sepintas, mendengar kalimat itu lumayan bikin wajah saya mesem-mesem juga. Apalagi ditambah dengan keponakan saya di kampung, saat pulang kesana, mereka pasti tanyakan kok saya masih terus saja sendiri setiap pulang kesana. Kenapa gak kawin-kawin? (mengutip gaya bahasanya Mbak Mariska Lubis).

Ditambah saat malam yang pasti datang setiap usai 12 jam siang mengijinkan matahari bertengger ditubuh bumi, pasti dan pasti, saya termasuk laki-laki yang sebenarnya memang mengalami resah juga dengan kesendirian seperti itu. Dengan guyon, seorang rekan memberi solusi: “di Indonesia ini, tempat prostitusi ada dimana-mana, kenapa tidak dimanfaatin saja?” Ujarnya dengan ekspresi wajah tanpa merasa berasalah. Menjawab itu, paling saya hanya nyengir sendiri. Dan memang tidak terlalu saya respon karena jelas itu bukan sebuah solusi bijak. Selanjutnya? Yah, ikhlaskan saja malam-malam berjalan apa adanya, setidaknya saya lebih punya waktu untuk menuliskan lamunan-lamunan yang bergelayut dipikiran. Toh pilihan yang terakhir ini juga tak kalah nikmat. Anggap saja saya sedang kehabisan alasan.


0 Responses to “Lajang, Bila Malam”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Indonesian Muslim Blogger

KALENDER

October 2009
M T W T F S S
    Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

KATEGORI TULISAN

SEMUA TULISAN


%d bloggers like this: