27
Oct
09

Perjaka Membicarakan Seks, Logis?

sungaiSetelah proses diskusi di Facebook dengan Mbak Mariska terkait dengan wacana menulis buku kolaborasi Seksologi, Sosial dan Sastra, saya juga meng-publish wacana tersebut di media yang sama. Seorang rekan spontan berujar dengan kalimat yang simpel—juga di Facebook—: “Fick, untuk sastra dan sosial okelah. Bagaimana dengan S (eks) yang pertama?”

Sekalipun hanya diberikan pertanyaan yang simpel seperti itu, sesaat saya sempat terhenyak dan tercenung. Rekan ini sangat mengenal saya, seorang perjaka dan belum mengenal seks dari sisi praktiknya. Satu sisi, sangat logis ia mempertanyakan, bagaimana membicarakan seks jika belum pernah merasakannya?

Lantas, saat itu juga pikiran saya melayang, apa yang selama ini saya lakukan untuk mengenal seks. Tegas, saya bukan penganut seks bebas yang dengan leluasa melakukan hubungan seks diluar nikah. Dan, mungkin saya layak membanggakan keperjakaan yang masih bisa saya pertahankan. Walau mungkin dengan realitas kelonggaran yang ada, jika mau mungkin saya bisa saja menanggalkan keperjakaan itu tanpa seorangpun tahu, selanjutnya saya tetap akan terlihat sebagai seorang perjaka. Karena logika sederhana, bukankah memang seorang lelaki, baik ia masih perjaka atau tidak, tetap tidak memiliki sebuah tanda yang layak dipercaya untuk mengetahui ia perjaka atau tidak.

Benar yang disebutkan rekan saya tadi, apa yang menjadi dasar saya berbicara yang berhubungan dengan seks, karena jangankan persoalan kepakaran, untuk melakukan hubungan seks itu sendiri belum pernah. Namun begitu, saya merasa sangat confident dengan kemauan saya sejak kecil untuk melahap berbagai jenis buku, tentu saja yang berhubungan dengan seks–tidak untuk bacaan stensilan—. Dan selanjutnya, saya memiliki kegemaran untuk bertanya tentang apa saja yang tidak saya ketahui. Termasuk dengan banyak rekan saya yang telah berumah tangga.

Sedikitnya, kendati itu boleh dikatakan belum begitu memadai. Tetap saja, hal-hal demikian merupakan sebuah media tidak sederhana untuk memupuk pengetahuan saya berhubungan dengan seks. Bukankah dari sisi ilmiah juga, standar untuk mengetahui bagaimana seorang pelaku kriminal melakukan pembunuhan, tidak mutlak harus dengan ikut melakukan juga   pembunuhan yang serupa?

Nah, saya tidak berniat untuk mencari pembenaran terhadap sikap ngotot saya untuk tetap bicara seks, walau masih perjaka. Karena, saya percaya dengan media hati untuk melihat apa saja. Dan tentu untuk berbicara tentang topik apa saja


0 Responses to “Perjaka Membicarakan Seks, Logis?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Indonesian Muslim Blogger

KALENDER

October 2009
M T W T F S S
    Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

KATEGORI TULISAN

SEMUA TULISAN


%d bloggers like this: