07
Mar
10

Bank Syariah, Konsep Perbankan yang Dipaksakan (?)

“Ngapain nabung di Bank Syariah?”

“Kamu kok mau-maunya nabung di Bank Syariah sih?”

“Goblok bener, hari ini masih ada perbankan yang membawa-bawa nama agama.”

***

Kalimat itu adalah sebagian kalimat yang pernah ditujukan pada saya. Ketika seorang teman mengetahui saya bagian dari nasabah salah satu Bank Syariah. Memang, saat mendengar kata-kata seperti ini dikeluarkan. Perasaan yang sangat terasa sekali adalah:

1. Merasa disebut sebagai orang yang tidak mampu berpikir.

2. Merasa dikatakan sebagai orang yang asal-asalan.

3. Diremehkan.

4. Dilecehkan.

5. Menghina Islam sendiri.

Bentuk rasa yang terlalu berlebihan? Sah saja jika disebut seperti itu. Akan tetapi, tak pelak, menghadapi realitas seperti itu, saya kian merasakan bahwa tidak sedikit yang masih alergi dengan hal yang berbau Islam.

Apakah itu kesimpulan yang keliru?

Silahkan juga jika ingin mengatakan seperti itu. Tetapi, saya kira dalam hal agama itu memang harus tegas–jangan benturkan dulu dengan persoalan cinta dan tetek-bengeknya–. Sebagai Muslim, saya menghargai semua agama. Syukur, saya juga memiliki banyak sekali saudara yang berbeda agama. Syukur, mereka bisa menjadi saudara yang menyenangkan. Bisa dikatakan tidak ada persinggungan antara saya dengan mereka.

Namun, selama ini saya menyayangkan mereka yang masih suka merendahkan agama lain, konon Perbankan Syariah yang notabene memang berangkat dari nilai ajaran Islam ikut menjadi sasaran. Seharusnya, perlu objektifitas dalam hal ini. Jangan hanya melihat bahwa itu dari Islam, sebagai konsep yang dipaksakan, dan mengklaim bahwa konsep tersebut benar-benar dipaksakan. Sebaiknya, setiap kesimpulan yang diambil berkaitan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Islam benar-benar ditelaah dengan tuntas (dan, sekali lagi se-objektif mungkin).

PR Perbankan Syariah

Dalam hal ini memang perlu dipertimbangkan kembali juga persoalan alasan dasar, alasan menggalakkan perbankan syariah di Indonesia.

a. Apakah sekedar karena kalkulasi keuntungan yang paling mungkin diraup?

b. Pemanfaatan nasabah Muslim yang seyogyanya memang cenderung mencintai segala sesuatu yang berbau agamanya?

c. Atau, tegas-tegas sebagai will untuk tunjukkan: Islam itu mengatur banyak hal lho. Dan keinginan untuk betul-betul membawa nilai-nilai universalitas yang dimiliki Islam.

Sosialisasi

Untuk menjelaskan perihal ini, saya berpandangan perlu adanya sosialisasi yang betul-betul memasyarakat.

1. Langsung terjun ke berbagai daerah dan wilayah, bertemu dengan masyarakat dan menjelaskan tentang Bank Syariah yang tergolong ‘lebih muda’ daripada perbankan lainnya–realitasnya tidak kalah tua–.

2. Memanfaatkan berbagai media yang lebih dekat dengan masyarakat, yang betul-betul menyentuh ke akar–konkretnya mari kita lihat bersama–.

3. Lakukan berbagai kegiatan positif yang lebih berpihak pada masyarakat. Sehingga, nanti tidak timbul anggapan bahwa perbankan ini hanya punya manfaat untuk kalangan menengah ke atas saja. Kendatipun ada program yang ditujukan untuk masyarakat grassroot, tetapi sejauh ini (berdasar obrolan saya dengan narasumber dari masyarakat kecil di 5 Propinsi*), mereka tidak kenal Perbankan Syariah serta untuk apakah Perbankan Syariah?

Dan ini merupakan tantangan sendiri bagi pihak perbankan yang telah melakukan penetrasi perbankan dengan membawa atribut Islam ini. Sederhananya, paling tidak untuk lebih mempertegas: Perbankan Syariah dengan Perbankan ‘Syariah’.

Billaahi fii sabilil haq

* Aceh, Medan, Lampung, Jakarta dan Bandung

01
Jan
10

Hierogliph

Semoga saja tidak pernah gagal membacaHidup menjadi aksara yang tidak bisa terbaca oleh semua manusia. Hidup juga diterjemahkan sebagai huruf yang terlalu sulit untuk dijadikan kata. Wajah-wajah yang hanya tertunduk lemah dalam keputusasaan, menjadi penguat atas pengakuan yang menjadi bendera putih untuk menyerah.

Hidup seperti hierogliph, susunan aksara yang butuh waktu sangat lama melebihi usia yang kita punya, agar ia bisa terbaca. Demikian ungkap mereka yang berzikir dengan menyebut nama Tuhan sebagai Yang Maha Kejam. Koran-koran yang saban hari dibaca tidak menjadi peluru-peluru untuk ditembakkan ke kepalanya, agar hancur kepala yang bersujud pada kebodohan. Buku-buku tidak menjadi pedang untuk memenggal lehernya agar kepala terpisah dari tubuh yang enggan bergerak melangkah ke depan. Sedangkan kuliah-kuliah, baik dari kampus maupun obrolan dengan tukang becak, kuli bangunan, pedagang sayur tidak menjadi mandau yang membabat hati dari penindasan kerisauan yang tidak perlu. Hanya pembenaran yang dijadikan rencong untuk ditusukkan di dadanya. Ditusukkan tidak untuk mengoyak dada agar bisa diambil semua usus, hati, jantung dan baru untuk dicuci di mata air paling jernih kejujuran. Tetapi rencong itu malah dijadikan senjata untuk bunuh diri.

Hierogliph kehidupan masih dirasa terlalu berat untuk terbaca. Maka memaki-maki Tuhan, menyalahkan lingkungan, menyalahkan nasib, mencerca keterbatasan menjadi bahan obrolan yang membuat hidup kian jauh dari gairah yang bisa membakarnya untuk menjadi debu. Mereka ragu jika debu tubuh berdakinya itu tidak akan dihembuskan oleh angin kebaikan. Tetapi dari sejak pagi buta, kecurigaan bahwa debunya akan dibawa angin ke angkasa tanpa rasa, tanpa cinta, teryakini olehnya.

Pernah beberapa kali ia berada di seminar-seminar tentang bagaimana menjadi manusia. Tetapi berdalih lobang telinga diciptakan Tuhan terlalu kecil, sehingga tidak mampu mendengar dengan baik semua tutur tentang keberanian. Tentang keyakinan dan tentang harapan. Lantas ia juga mengatakan pada orang-orang, hidup itu tidak butuh harapan. Kelak kesewenang-wenangan Tuhan malah akan membuat harapan itu hanya sebagai mimpi kosong. Ia juga gagal mendengar, bahwa Tuhan memberikan seperti apa yang diyakini olehnya.

Kesalahan yang paling sering terjadi, ternyata tidak hanya pada ketidakmauan untuk membaca semua aksara kehidupan. Tetapi kebebalan untuk tidak mengizinkan telinga mendengar cerita tentang kebenaran. Keangkuhan menjadi kawan setia, maka ketika beberapa manusia mengajak berbicara tentang hidup, lalu menyebut mereka terlalu bangga pada diri sendiri. Sehingga berani mengajarkan tentang hidup pada dirinya. Semua manusia yang ditakdirkan menjadi guru malah menjadi sasaran tamparan mereka. Tamparan itu sebenarnya terlalu pedas. Tetapi mereka lupa, tamparan itu yang membuat manusia pilihan Tuhan untuk mengajari tentang hidup, mati. Satu persatu mati, hanya oleh tamparannya. Kematian para guru itu kemudian dipandang sebagai keperkasaan. Sampai kemudian diapun mati tanpa memiliki guru yang tersisa untukmengajarkannya tentang hierohliph kehidupan.

***

Itulah suara-suara seperti di gedung pertunjukan drama yang muncul di ruang di balik dada. Terkadang saat mendengar suara itu, muncul kecurigaanku pada diri sendiri. Jangan-jangan suara itu menjadi satu cara Tuhan untuk memarahi kebebalanku sendiri. Iya, mungkin saja. Apalagi kuakui, begitu banyak ketololan yang sebenarnya juga telah aku tuliskan sendiri di buku kehidupanku. Meski tak bisa terbaca siapa-siapa. Tetapi mata batin selalu mendelik ke semua catatan itu.

Jiwa ini terkadang kuberikan cemeti saat ia mengajak untuk berdansa dengan alunan nada kebebalan. Kucaci maki saat ia ingin tidur terus menerus untuk tidak menyibukkan diri membaca aksara kehidupan. Tetapi pelajaran kebjaksanaan yang kudapat dari beberapa guru-guru yang telah berbaring istirahat di seribu nirwana, memintaku mengehentikan penyiksaan pada diri sendiri.  Lantas mengajarkan bahwa perubahan tidak perlu ditakutkan. Dan justru perubahan itu harus tetap ada, tidak hanya untuk menjadi lebih baik, terkadang jikapun terasakan hal yang lebih buruk. Itu disebut mereka dengan suaranya dari balik jendela syurga, sebagai pelajaran tambahan agar jiwa tak pernah letih untuk belajar. Pengalaman burukpun merupakan pelajaran.

Sebab, untuk bisa memunculkan dedaunan yang hijau indah. Mendatangkan bunga yang indah mewangi, Tuhan dengan cara-Nya mendatangkan sapi-sapi liar sebagai bagian dari kehidupan untuk membuang kotoran persis di dekat akar kedirian. Kotoran itu selanjutnya yang memupuki diri. Semoga saja jiwa ini tidak menjadikan kotoran tersebut sebagai sarapan saat pagi. Namun bisa melihatnya sebagai cinta Tuhan atas perubahan yang menjadi hukumnya.

Mungkin kelak daun hijau itu akan layu dan luruh, itupun tidak harus dikecewakan. Mengingat, daun luruh itupun bisa membusuk. Dan ia membantu akar-akar lain untuk tumbuh lebih kuat. Saat pohon itu tumbuh rindang dan indah, banyak makhluk Tuhan yang lain datang untuk bernaung. Kelak itupun menjadi catatan tambahan di buku Tuhan. Kematiankupun memiliki manfaat yang bisa ditinggalkan.

Renungan Awal Tahun

14
Dec
09

Kampanye Bank Syariah, Gagal

….Yang bekerja di pasar atau biasa seharian di jalanan, tidak membuka-buka artikel di iBI maupun mendapatkan brosur apapun yang dimaksud (yang berhubungan dengan Bank Syariah, pen). Masalah bagi hasil dan bunga, masih banyak orang yang pemahamannya samar-samar (tidak bisa pahami dengan jelas seperti apa itu Bank Syariah).

Demikian kritik seorang pembaca dalam tulisan saya sebelumnya, Bank Syariah: Bunga tidak Haram, setelah saya mencoba untuk tegaskan bahwa polemik bunga dan bagi hasil sudah dijelaskan oleh iBI dalam banyak artikel dan brosur yang disebarkan.

Selain itu, seorang rekan, Doddy Purbo, Pengusaha yang juga Kompasianer menyampaikan sudut pandangnya–juga menanggapi tulisan itu– bahwa,”Perkembangan perbankan syariah di Indonesia pada dasarnya bukan karena keislamannya tetapi target pasarlah yang menjadi tujuan. Pengembangan perbankan syariah masih menginduk pada perbankan konvensional dan masih dalam taraf penyesuaian system. Akibatnya, overhead cost perbankan syariah menjadi lebih mahal dari perbankan konvensional sedangkan perhitungan bagi hasilnya tetap berpatokan pada bunga perbankan konvensional.

Dengan keadaan tersebut, perbankan syariah terpaksa melakukan penghematan dalam pemberian pelayanan karena marginnya yang lebih tipis dan lebih terfokus pada beda istilah saja. Jika anda masuk dalam operasional bank syariah, maka akan sangat kentara sekali bahwa perbankan syariah adalah perbankan konvensional tetapi berkulit syariah. Wajarlah kalau nasabah banyak yang kecewa, terutama pada pelayanan yang masih terbatas.” Coba membenturkan dengan judul yang telah lebih dulu saya pilih sebelum menulis ini, mungkin iya bahwa dua komentar tersebut tidak bisa dijadikan sebagai indikator kuat untuk menyebut kampanye perbankan syariah selama ini gagal.

Hanya saja, saat mencoba menilik latar belakang dari kedua pemberi komentar itu pada tulisan saya itu, Rathy Oktriana, aktifis LSM Koalisi NGO HAM Aceh, memiliki kapasitas intelektualitas yang tidak meragukan. Kemudian Doddy Purbo yang merupakan seorang pengusaha real estate yang lumayan punya nama di Indonesia. Tentu, saya kira tidak bisa ditolak, mereka memiliki alasan kuat untuk menyampaikan kedua kesimpulan itu. Lagi, bisa dipastikan mereka tidak asal bicara dan sembarangan ber-statement. Dan bisa dipastikan mereka telah memikirkan hal itu terlebih dahulu. Nah, secara konkret, meski tidak mutlak, ini tetap saja sah untuk dijadikan sebuah indikator bahwa upaya kampanye perbankan syariah selama ini gagal.

Lalu, saat sedang mandi sore, menyikat gigi, secara tiba-tiba saja terlintas dalam pikiran saya. Kenapa perbankan syariah tidak menjadikan mulut saja sebagai alat kampanye yang lebih diandalkan. Daripada dengan pamflet, bilboard, reklame, brosur yang menghabiskan dana yang tentunya tidak sedikit. Oke, semua sarana itu tetap di fungsikan tetapi tidak terlalu mengandalkan itu. Namun, kembali, mulut agar lebih diandalkan. Mulut siapa? Mulut seperti apa yang dimaksudkan?

Iya, tentunya mulut dari nasabah sendiri. Lebih jelasnya, ketika seorang nasabah merasa puas dengan pelayanan yang dilakukan oleh perbankan syariah di Indonesia, mereka tidak berharap kompensasi apapun, akan dengan sendirinya menceritakan dan memberitakan tentang perbankan syariah kepada relasi mereka, teman, sahabat, famili. Secara tidak sengaja mereka bisa menjadi ‘suplemen’ yang lebih merangsang untuk menumbuhkan minat calon nasabah lain untuk lebih welcome pada perbankan syariah. Mulut menunjukkan kekuatannya.

Berbicara media yang selama ini dipergunakan seperti yang saya haturkan sebelumnya, saya kira tetap saja mulut lebih punya keunggulan. Dan ini pula yang saya pernah temukan dari buku: Mind Power, Bertrand Russel, et.al, bahwa semua indera manusia dipengaruhi ruh, punya daya hipnotis. Sedangkan bilboard, brosur dan sebangsanya tidak memiliki itu. Air bisa menyatu dan membaur lekat dengan air hanya dengan zat yang sama dengannya, juga air. Berbicara pengaruh, jiwa menjadi penentu, pikiran menjadi bagian darinya. Maka untuk menyentuh jiwa itu hanya dengan jiwa juga, dengan mempergunakan media mulut yang digerakkan jiwa. Saya mengilustrasikan seperti itu.

Intinya, satu hal yang harus di genjot oleh pengambil kebijakan dalam ‘ring’ Bank Syariah adalah menggenjot itu. Tidak pendekatan lewat physically saja tapi juga psychology–maaf jika berirama mengdikte–.

Pendekatan dengan jiwa, mulut sebagai medium. Cari cara agar nasabah yang ada benar-benar terpuaskan, orgasmus, dan percaya saja, mereka akan menjadi iklan berjalan yang akan semakin membesarkan perbankan syariah. Jika dia seorang pengisi seminar-seminar, mungkin akan dengan sendirinya dia ‘mengseminarkan’ juga tentang perbankan syariah, kendati tidak formal. Seorang tukang keliling, mungkin ia juga akan bercerita tentang perbankan syariah kepada pelanggannya. Dan, mereka lebih punya power untuk menyentuh hati manusia dari sekedar bilboard, pamflet and so on.

14
Dec
09

Bank Syariah: Bunga Tidak Haram

Bagaimana kalau Bank Syariah menjalankan kebijaksanaan untuk nasabahnya, dengan membuka diri untuk juga bersedia memberi bunga?

Tetapi sebentar dulu, saya tidak ingin anda membaca tulisan saya ini dengan kening mengerut. Toh, seseorang yang cerdas tidak selamanya identik dengan kening yang mengerut bukan?

Nah, saya mengajak anda dulu untuk membayangkan bunga dari perspektif lain. Bunga yang sebenarnya, bukan bunga seperti yang umumnya dikenal dalam dunia perbankan. Tetapi memang bunga yang enak dipandang, menyejukkan mata dan hati, plus menyenangkan. Baik dengan aromanya yang harum, hingga bentuknya yang memang indah.

Kenapa saya mengajak seperti itu. Tidak lain, agar kita tidak lagi mengatakan bunga itu haram (nah lho?). Tetapi justru mencoba mengambil nilai filosofi dari bunga. Iya, dari bunga (bukan bunga bank). Kenapa saya menyebut demikian, apalagi iramanya memang terlihat sedikit menggurui. Sedangkan jamak diketahui, personel di Bank Syariah pastilah orang-orang yang berkompeten di bidangnya. Memiliki kualifikasi yang memang dibutuhkan untuk menjalankan usaha perbankan dalam skala besar.

Dalam hal ini, saya tidak berniat untuk menyepelekan semua kapasitas yang dimiliki perbankan syariah sebagai kekuatannya. Namun lebih mencoba melihat dari perspektif, bahwa bank ini dijalankan oleh manusia dan untuk manusia. Utamanya pada sisi layanan—karena berbicara layanan (atau pelayanan?)—, menyimak dari berbagai tulisan yang pernah turun di iB Competition saja, begitu banyak yang mengeluarkan keluhan yang berhubungan dengan (pe)layanan dari Bank Syariah. Ini idealnya harus dilihat betul.

Oke, lembaga ini tidak menjalankan kebiasaan mengambil atau memberikan ‘bunga’ kepada nasabah. Namun, dalam hal layanan kalau bisa, mbok ya (spesifik dalam hal pelayanan) diusahakan yang betul-betul mencerminkan filosofi bunga. Menyenangkan, enak untuk dilihat nasabah, menyejukkan nasabah dan betul-betul bisa menebar harum sekuntum bunga —harumnya Bank Syariah—. Bagaimana kondisi pelayanannya, sekali lagi harus betul-betul dilihat ulang dengan jujur. Karena ini juga berkait juga dengan persoalan sustainabilitas relasi baik antara Bank Syariah dengan nasabah. Saya sengaja tidak menjurus langsung untuk menohok. Namun, saya kira pihak pengelola Bank Syariah cukup kapabel untuk memahami arah ‘obrolan’ saya—yang juga nasabah Bank Syariah—.

Kuntum khaira ummati ukhrijat lin-naas, ta’muruuna bil ma’ruuf wa tanhauna anil munkar

01
Nov
09

Catatan Seorang Gay

hermaproditBenar, gay adalah manusia. Mereka adalah orang-orang yang juga dilahirkan oleh manusia. Tetapi, lepas setuju atau tidak, gay adalah adalah penyakit jiwa yang sangat parah. Penyakit tersebut justru merendahkan nilai-nilai kemanusiaan.

Sebuah kasus saya temukan saat masih menjadi seorang Guru Bantu, di salah satu Tsanawiyah (sekolah Islam setingkat SLTP) di Kabupaten saya di Aceh, Kabupaten Nagan Raya. Khalayak di Kabupaten tersebut jamak mengenalnya sebagai seorang Gay. Dalam sebuah kesempatan diruang guru, secara kebetulan posisi mejanya persis berada disisi meja saya. Agak sedikit jauh dengan guru lain, yakin tidak akan didengar oleh guru lain. Saya coba cross check kebenaran rumor yang menyebutnya sebagai Gay, dengan alasan untuk tidak ikut-ikutan terjebak dengan pandangan yang tidak jelas. Bermodal tampang yang bisa saya setel selembut mungkin, jauh dari sangar. Dan setelah mencoba “hipnotis” pikirannya dengan menceritakan keadaan proses mengajar yang tadi pagi terlebih dahulu, menyanjungnya dengan beberapa kalimat yang membangkitkan kebanggaannya. Setelah yakin ia telah merasa nyaman dengan saya. Langsung sebuah interogasi berjalan dengan cara selembut mungkin, saya terapkan–tidak rugi saya gemari buku-buku investigasi dari sejak kecil–. Meluncurlah sebuah cerita darinya

“Iya benar, aku selama ini memang memiliki ketertarikan pada selama lelaki. Aku bisa merasakan seorang lelaki ganteng atau tidak. Tapi aku tidak bisa mengukur seorang perempuan cantik dengan tidaknya. Aku bisa merasakan debar jantung cukup kuat saat melihat seorang lelaki ganteng. Jujur, termasuk saat aku melihatmu.” Walau  dihati merasa semacam jijik ditaksir sesama lelaki, saya coba tutupi ekspresi yang ada didalam batin dengan tersenyum kecil saya sambil mempersilahkannya bercerita. Tidak saya vonis apapun dalam proses itu, walaupun memang ada ingin untuk memarahinya habis-habisan atas sikapnya yang dimata saya jelas tidak bermoral. Sekali lagi, strategi pasang umpan sedang saya jalankan.

“Aku sudah melakukan hubungan seks yang kuakui menyimpang ini dari sejak kecil. Tapi baru lebih serius saat memasuki usia jelang dewasa. Aku sempat trauma dan ketakutan sekali saat salah satu ‘pacarku’ (yang juga laki-laki) sakit karena aku ’serang’ lewat belakang anusnya. Untungnya, dia  tidak laporkan ke orangtuanya. Walaupun lebih dari seminggu ia tidak bisa berjalan karena kesakitan. Aku berpura-pura tidak tahu apa-apa tentang penyebab sakitnya. Sering aku kunjungi dia. Terkadang aku masih berkesempatan untuk juga tidur di rumahnya. Saat malam, karena aku hanya tidur dengannya berdua saja. Jika sudah tidak tahan, sedangkan untu melakukan ‘itu’ sedang tidak memungkinkan. Sering aku hanya memegang miliknya. Karena dia juga sudah mengakui diri sebagai pacarku, dia tidak marah aku gituin.” Dalam benakku berkecamuk semacam amarah cukup kuat, apalagi dia mengakui, pacar versinya itu masih dibawah umur, 10 tahun. Iapun juga menceritakan bahwa ia melakukan cara tersendiri untuk mendapatkan ‘pacar’.

“Aku biasanya memberi mereka uang jajan yang banyak. Memang aku lebih memilih yang berasal dari keluarga miskin, sehingga dengan pemberian uang yang banyak, aku belikan baju baru. Sesekali aku ajak jalan-jalan. Itu sudah cukup menjadi senjata ampuh untukku bisa taklukkan hati kekasihku.” Mendengar ‘kepolosan’nya terasa sekali, amarahku seperti ingin untuk meledak. Kucoba redam dengan mengatakan pada diri sendiri,”aku sedang melakukan penggalian. Marahku hanya akan membuatnya merasa tidak nyaman lagi untuk ceritakan semua tentang pengalaman petualangan cintanya.” Batinku.

Sesekali ia terlihat mencuri-curi untuk mengelus pahaku, sambil matanya melirik ke arah rekan-rekan guru lainnya. Entah supaya rekan lain tidak tahu, sepertinya iya. Meski jiwa mudaku menginginkan untuk menendangnya sampai terjatuh, ku coba bertahan saja, Misi harus selesai. “Begini, aku memiliki pacar bukan cuma satu lho. Aku terus saja berganti-ganti karena memang ‘rasa’ dari pacar-pacarku itu berbeda satu dengan lainnya. Tapi kamu jangan salah lho, banyak juga dari mereka yang sampe mengemis tidak mau berpisah denganku setelah merasakan bagaimana ‘enaknya’ melakukan itu. Beberapa yang sudah dewasa, yang sudah mencobanya denganku juga mengaku sangat menikmatinya, bahkan mereka juga ngaku kalo yang dirasakannya denganku jauh lebih nikmat dari yang bisa diberikan oleh seorang wanita,” Aku langsung berfirasat, sepertinya ia sedang mencoba untuk menjebakku untuk mengikuti cara gila itu. Serta merta saja, melihat ia juga semakin merapat kearahku. Aku beringsut agak lebih menjauh–selain aroma mulutnya juga sangat mengganggu–. Syukur, dia masih mau untuk bercerita.”Sekarang aku juga sedang memiliki pacar salah satu siswa kita disini lho. Ganteng dia juga tidak kalah dengan kamu,”

“Siapa ya,” Tanyaku dengan irama lembut, meskipun tetap saja ada keinginan untuk remukkan giginya. Karena sangat kurasakan memang marahku semakin memuncak. Apalagi korbannya kali ini adalah siswa kami sendiri. Lantas ia menyebut nama seorang siswa di salah satu sekolah ini.”Tadi malam ia juga tidur dirumahku lho. Indah sekali.”

Dengan bel tanda jam masuk kembali sudah singgah dikupingku. Kegiatan investigasi sekaligus interogasi itu terpaksa diakhiri. Sepulang dari mengajar, aku langsung temui teman-teman dari siswa korban kucoba temui dan kumintai keterangan. Dari sekitar 5 ‘narasumber’ semua mengatakan hal yang persis sama. “Kamu, nanti usahakan kamu jebak An (inisial oknum tersebut) untuk mau datang ke rumah saya ya?”

“Baik pak,”jawab siswa saya ini.

Sampai sore ia tidak datang kerumahku. Bahkan beberapa hari ia tidak tampak disekolah. Satu hal yang membuatku semakin ingin meledak, ketika seorang rekan guru yang perempuan yang biasa menjadi teman cerita An menanyakan padaku,”Bener kamu sudah jadian dengan An?”

“Apa? Aku pacaran dengannya? Kenapa kamu tanyakan seperti itu?”

“Iya, dia mengaku padaku kalian sedang pacaran. Katanya juga kamu sudah bersedia menjadi pacarnya.”

Pungoe (terj: gila).” Umpatku spontan. Seketika saja dadaku bergemuruh ingin untuk luapkan amarah. Jelas ini sebuah bentuk pencemaran yang sangat memalukanku. Fitnah yang paling keji yang pernah kuterima. Lazimnya saat aku marah. Gigi gemeretak, kedua telapak tangan tergenggam keras. Mataku menyala. Amarah sudah begitu kuat menguasai pikiranku.

Sepulang dari mengajar. Aku merasa mendapat durian runtuh. Kulihat ia sedang bicara dengan salah satu adikku yang juga laki-laki, pun siswanya juga. Melihat kepulanganku, ia terlihat sudah mulai tidak nyaman. Terbaca dari gerak tubuhnya yang mulai gelisah. Seketika saja, sebilah pedang yang sudah beberapa hari kuletakkan dibelakang pintu–jangan salah paham, niat awal hany auntuk membuatnya keder saja– kuambil.”Jangan coba-coba untuk berdiri!” Perintahku. Memang ada beberapa orang tetangga yang juga sedang berbicara dengan Bapak dirumah. Tapi berada di sudut lain agak jauh.

“Kalau kau coba untuk berdiri, aku akan membuat kepalamu terpisah dari lehermu itu.” Ancamku.

“Apa maksudmu mengfitnahku dengan cara mengatakan aku sebagai pacarmu? Apa kau mengira karena mengenal orang pungoe sepertimu, lantas kau pikir aku akan ikut gila?” Cecarku.

“Gak, tidak ada itu. Siapa sih yang bilang seperti itu?” Elaknya dengan mata yang sudah mulai berair.

Semakin kudekatkan posisi pedang kebanggaanku itu kearahnya. Dengan suara pelan, intonasi yang kutekan, aku kembali tanyakan,” Kamu ngaku dan jelaskan padaku tentang masalah itu, atau kamu benar-benar ingin untuk kubunuh?” terang saja, ‘gaya’ seperti itu semakin membuatnya gemetar dan menggigil. Celananya yang basah ketakutan seketika hampir membuatku tertawa keras. Tapi aku simpan keinginan untuk tertawa itu, lalu kembali menatap matanya. Ia malah menekuri lantai.”Iya, iya aku mengaku. Aku katakan itu pada ibu S karena waktu kamu tanyakan aku tentang pengalamanku melakukan ‘itu’ dengan pacarku yang dulu, kukira itu sebagai tanda kamu juga menyukaiku. Makanya, aku langsung saja cerita ke Bu S kalau kamu sudah menjadi pacarku.” Ujarnya dengan ekspresi melemah. Sebuah tamparan kulayangkan ke kepalanya. Terbersit dipikiranku. Dengan perawakannya yang tinggi besar, badan yang berotot. Bentuk fisik yang jelas berbeda denganku yang lebih kecil darinya. Kalau saja ia melawan, pasti ia akan berhasil lumpuhkanku. Tapi ternyata kemarahan juga memiliki kekuatan pada saat tertentu. Sehingga fisiknya yang lebih besar itu tidak membuatnya lebih kuasa atasku.

Selesai sebuah tamparan. Kembali sebuah bogem mentah kulayangkan juga kesisi pelipisnya.”Lekas pulang. Jangan ulangi lagi yang sudah kau lakukan itu. Dan jangan coba-coba untuk kau tambah korbanmu dengan adikku ini. Kalau itu terjadi, bukan sekedar gertak sambal, akan kukeluarkan isi perutmu itu!” Ancamku lagi sambil menyinggahinya sebuah tendangan ke perut.

Sepulang An, langsung Ali, adikku bicara dengan irama canda,”juah that lagoe bang (Terj: kok Abang jadi buas seperti itu?” Aku hanya tersenyum kecil saja. Didepan rumah. Tetanggaku hanya melihat dengan ekspresi tanda tanya semua yang baru kulakonkan. Sedangkan Bapak yang sudah kuceritakan permasalahanku jauh-jauh hari hanya mengatakan,”harusnya jangan sampai sekasar itu kamu sikapi dia, Kar.” Aku hanya nyeletuk kecil,”Jika fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Maka balasan atas fitnahnya yang kulakukan tadi, kan tidak sampai membuatnya terbunuh, Pak.” Sambil beranjak untuk menyimpan pedangku itu.

Beberapa hari kemudian, aku mendapat kabar ia tertangkap basah oleh warga gampongnya sendiri. Dipukuli warga karena kedapatan menyodomi seorang siswa yang pernah diceritakannya padaku.

Aku teringat beberapa hari sebelumnya, karakternya seperti itu sudah kucoba bicarakan dengan kepala sekolah, aku beralasan”Pak, jika Guru seperti itu terus saja dipertahankan, anak-anak kita disini bisa menjadi korban. Homoseksual itu tidak pernah ditolerir dalam agama kita. Bapak pasti tahu itu. Selain kasihan dengan anak-anak yang masih belum tahu apa-apa itu. Jelas ini juga berefek pada reputasi sekolah ini juga. Apalagi ini adalah sekolah agama. Masa memiliki guru ’sakit’ seperti itu?” Saranku yang memang kuakui agak tendensius dengan sedikit berirama khotbah. Kepala sekolah hanya menjawab ringan,”Tenang Pak, sudah saya berikan nasihat padanya untuk merubah itu kok.”

Aku tercenung dengan jawaban Kepala Sekolah ini. Apakah persoalan yang jelas bisa merusak karakter anak-anak dipandang sebagai sebuah persoalan yang sepele saja? Disebuah institusi pendidikan yang membawa nama agama la0

31
Oct
09

Zikir Cinta di Rumah Pelacur

GURUKU-ZOELFACHBARJangan marahi langit yang angkuh dengan warna hitamnya, mungkin ia ingin memberimu ribuan tetes air setelah melihatmu nyaris mati oleh kering. Sebab langit juga sedang bicara cinta walau dengan bahasa hitamnya

Aku melihat Marx sedang memegang sekerat roti, ia tidak menelannya. Hanya dimainkan ditangan yang kulihat gemetar.”Aku sedang tak ingin kau ajak berdiskusi. Aku sudah bosan untuk mengenal diskusi. Akupun sedang tidak tertarik untuk mendengar puisi-puisimu. Kau tahu, seribu kebenaran yang akan kau coba gali, hanya mematahkan pacul harapanmu sebelum satu kebenaran tergali. Maka aku memilih mengakhiri hidup dengan bunuh diri.” Aku melupakan tatakrama dan beranjak pergi.

Aku bertemu al-Ghazali, figur yang kukenal sangat mencintai Filsafat. Tetapi kemudian membunuh kekasihnya itu, lalu memilih untuk mengawini Tasawuf. Kuperhatikan ia sedang mereguk tinta yang ia tuangkan sebelumnya di botol-botol bir.”Kau tahu, banyak dari mereka mengira aku hanyalah pemabuk. Padahal, cinta itu selalu hanya ada untuk para pemabuk. Yang rela mereguk pengetahuan hingga ia pingsan. Setelah tersadar dari pingsan mereka akan bermetamorfosis sebagai kekasih Tuhan. Mereka akan memilih untuk telanjang. Para pemabuk sepertiku, hanya bergerak untuk dan atas nama cinta. Baik, aku ingin mengajakmu menyambangi Cleopatra, mari.” Ajaknya dengan irama yang begitu menyejukkan.

Aku merasa suaranya jauh lebih merdu dari suara gadis muda yang baru tumbuh dewasa. “Sebentar, aku urungkan kesana. Aku hampir lupa, minumanku belum habis kureguk. Kau saja berangkat kesana. Nanti, kau akan temui Rumi ditempat itu.”

Orangtua aneh, kupikir.”Pergi saja kesana, kau tidak boleh puas hanya mengayunkan satu langkah. Kebenaran itu hanya bisa ditemui, setelah kau izinkan dirimu untuk lelah dengan tetap ayunkan kakimu beribu-ribu mil perjalanan. Kehormatan itu ada dalam pengetahuan. Cinta juga akan dikenal oleh mereka yang mau mabuk sepertiku. Bila hanya kau menenggak tinta-tinta beberapa gelas saja, kau malah akan gila dengan sebenar gila. Jangan kau biarkan langkah terhenti hanya karena lelah. Pemburu cinta, ksatria yang ingin bertempur di medan pengetahuan. Mereka paham sekali, bahwa mereka tidak terlahir untuk bunuh diri dengan ketidakmampuan mereka untuk terus berjalan. Pergilah”

Ia merengkuh kepalaku, diciumnya dahiku. Seakan, aku merasa terbawa ke masa kecil ketika kecupan Bapakku sering menghinggapi dahiku.”Baik, aku pergi kesana. Aku tidak akan berlari terlalu kencang. Kukira dengan berjalan saja aku bisa lebih puas melihat pepohonan hijau sepanjang jalan ini.”

“Iya, pergilah.” Ulangnya

Perjalanan ini kulakukan dengan kaki telanjang, dari senja kemarin aku sudah katakan pada diri sendiri. Walau hanya sandal jepit, itu hanya membuatku mati rasa dari belai cinta yang diberikan bumi.

Aku tiba disebuah rumah besar. Kucoba yakinkan diri, inilah rumah Cleopatra yang dimaksudkan tadi. Terlihat seorang lelaki dengan jubah Sufi sedang berdiri di pintu rumah itu. Aku memperhatikan ia seperti sedang berbicara sendiri. Beberapa saat kemudian, ketika kakiku sudah hampir tiba didepannya. Ia justru beranjak kedalam. “membingungkan” Keluhku.

Ruangan yang ada rumah ini juga membuat heranku kian bergunung. Beberapa sudut, kutemukan kursi-kursi berukir indah dengan sandaran lengan yang mirip bentuk kepala ular. Sedang di sebuah sudut, aku melihat Rumi. Ia sedang menatap wajahku dengan ulas senyum yang terasa begitu lembut. Tubuhnya duduk saja bersila dilantai yang begitu penuh debu,”kebenaran itu berasal dari debu. Debu-debu ini akan mewujud sebagai cinta, sebagian akan tercipta sebagai kebenaran itu sendiri. Kebenaran dan cinta itu takkan pernah terpisah. Namun, percayalah cinta sering datang lebih dulu dari kebenaran. Kemarilah, kita bicara di lantai berdebu ini saja. Kau boleh memilih untuk berdiri atau duduk saja bersamaku, tak ada yang salah dari pilihanmu. Silahkan berdiri hanya bila kau tidak rela pakaianmu kotor oleh debu-debu ini.”Ujarnya dengan irama seperti sedang membaca puisi cinta.

Aku memutuskan untuk ikut duduk bersamanya. Di wajahnya muncul senyum yang lebih lebar dari sebelumnya. Ia beringsut lebih dekat padaku. Ujung lututnya menyentuh pahaku. Tangan kanannya memegang sisi kanan lenganku, agak erat tapi tetap masih bisa kurasakan kelembutan disana.”Aku jelaskan, kau sedang berada di rumah pelacur. Disini aku ingin sekali bisa berzikir bersamamu. Tapi tidak mesti mematahkan lidah dengan menyebut nama-Nya. Tuhan tidak butuh lidah ini, saudaraku. Lidah ini bisa bicara apa saja. Tapi lidah lekas lelah jika diajak menyebut kebesaran Dia. Aku katakan padamu zikir itu adalah ketulusan cinta. Dan cinta bukanlah terukur dari seberapa sering kau membicarakannya, namun seberapa lebar hatimu membiarkan ia bertempat. Cinta itu bukanlah desah napas di ranjang-ranjang empuk. Tetapi cinta yang sebenarnya hanya bisa kau rasa tatkala semua kasur dan ranjang dirumahmu telah habis kau bakar.”

Kucoba untuk tidak hanyut dalam kekagumanku padanya. Aku merasa perlu untuk juga bicara walau hanya dengan beberapa kata.”Iya, aku ingin bicarakan cinta. Dulu, aku pernah enggan bicarakan hal ini di bumi setelah hatiku terpaut pada seorang wanita, lalu wanita itu pergi mengikuti suara seekor anjing yang sedang melolong. Ia mengajakku untuk ikut serta, tapi kutolak karena lolongan anjing tak pernah berikanku rasa indah. Sejak itu, aku sangat menikmati ketika aku bisa memuaskan diri ledakkan marah dalam caci maki. Sesuatu yang berbeda kurasakan setelah seekor kucing mengelus-elus kakiku. Sepotong ikan yang tersisa dari makan siangku ketika itu, dikunyah oleh kucing ini dengan begitu tenang. Ia tidak mengatakan apapun. Binar matanya seusai melahap sisa ikan tersebut, memberi pelajaran rendah hati padaku. Ah, begitu dalam tatapan mata kucing itu. Ia juga mengajarkan padaku tentang bagaimana berharap dalam cinta.” Pelan kuceritakan padanya. Seakan aku sedang merasakan sebuah ekstase saat menceritakan itu.

Jarak kepalaku dengannya semakin dekat saja. “Aku bangga bersaudara denganmu. Kau bijaksana, sudah seharusnya cinta itu tidak tersekat oleh kelambu-kelambu. Seseorang pecinta yang masih belum bisa menjauhkan kelambu dari peraduannya, ia takkan membuat sayap malaikat pembawa kebenaran leluasa menyentuhnya.” Ujarnya seakan menyambung kalimat yang sebenarnya belum selesai kuucapkan.

Beberapa jenak kemudian ia sudah menarik pundakku untuk berdiri dan melangkah kesisi lebih dalam rumah itu. Seorang perempuan sedang duduk manis diatas sebuah kursi yang bisa kurasakan begitu empuk, walaupun aku tidak ikut menduduki. Bibir perempuan itu membuatku terpana untuk beberapa saat.”bibir adalah topeng untuk membungkus dusta yang dijalin manusia dalam kata-kata. Kuharap ini terakhir kalinya kau terpesona dengan bibir-bibir merekah seperti itu. Sebab, percayalah. Seindah apapun bibir itu, kau tidak akan merasakan orgasme. Bibir, bila itu dimiliki penyihir, mereka hanya akan menjadikan itu sebagai mantera yang membuatmu terlupa pada pencarian atas makna cinta dan pada Tuhan.” Ia bergetar lirih mengatakan kalimat itu padaku. Aku tersipu seperti seorang gadis pemalu.

Diluar, alam sedang mendeklarasikan diri sebagai kepekatan. Merasakan dingin yang teramat sangat, aku menduga tempat itu sebenarnya sedang berada tiba-tiba di kutub yang dipenuhi salju.”Tidak, ini adalah gurun pasir, Saudaraku. Malam sudah tiba, ia sedang bicara dengan kita. Ia memang tidak akan berbicara denganku saja. Tapi karena kau sedang larut membayangkan tari perut yang disuguhkan penari-penari gurun. Merdu suara malam sudah tidak bisa kau dengar.”Aku tersentak dengan kalimatnya itu.”Tarian perut disuguhkan hanya untuk orang-orang gila. Sebab, tarian itu sendiri lahir dari orang gila yang ingin membicarakan bahwa ia sedang lapar. Jika kau biarkan dirimu melamunkan itu, kau tidak akan membantu penarinya untuk makan malam bersama dengan ajakan cinta. Tetapi malah kau hanya terdorong untuk membunuh dingin ini di ranjang-ranjang yang akan kian dalam menenggelamkanmu. Sendi-sendi tubuhmu akan melemah untuk kau bisa berjalan kembali ke jalan cinta yang lebih hakiki.”

Tidak kulihat gurat marah diwajahnya. Kebijaksanaan yang ia miliki sepertinya sudah membuat lekang semua marah. Akupun dibawanya keluar untuk melihat malam,”semua hitam yang kau lihat inilah kebenaran. Setelah hitam ini usai, dan kau berhasil menjalaninya dengan sepenuh cinta. Besok pagi, matahari akan terbang dengan sayapnya dan menyusup kedalam jiwamu. Matahari itu bisa pula kau pergunakan untuk membakar semua kebatilan. Cinta yang sudah lebih dulu kau pahami akan menunjukkan kekuatannya padamu. Aku harus pamit dulu, Saudaraku. Malam ini aku ingin melihat Dia di sebuah tempat yang belum bisa kau datangi. Semoga kelak aku bisa melihatmu sebagai guru untuk manusia bisa pahami cinta secara lebih mendalam. Jangan hentikan langkahmu sebelum kau disapa Malaikat Maut. Satu hal lagi, Malaikat Maut takkan terlihat seram dimata orang-orang yang sudah penuh jiwanya oleh cinta.”

Aku tertegun, ia seketika menghilang. Aku sudah tidak lagi berada di rumah itu. Semua terjadi seperti diluar kesadaranku. Suara tanpa bentuk datang hinggap ditelingaku,”jangan kau berharap untuk bertemu denganku sebelum semua pelacur itu terbunuh dengan cinta yang kau ajarkan.”

Meulaboh, 01 Nop 2009

Kunjungi juga rumah renungan kami di:

https://refleksikita.wordpress.com

http://www.fick-jeuram.co.cc

30
Oct
09

Surat Cinta Ken Arok

bungaKulihat Ken Arok disela-sela awan hitam siang ini. Aku tidak mendengar ia sedang menyebut Tuhan. Sepertinya Ken Dedes yang sejak masih di bumi dicintainya belum lekang dari ingatan. Ada rasa trenyuh kulihat gurat wajah dengan rambut semrawut yang nyaris menutup wajahnya. Kuperhatikan, ia masih lumayan tampan, meski sudah puluhan abad ia pamit pada bumi.

“Apa yang sedang kau pikirkan, saudaraku Ken Arok?” Tanyaku sesantun mungkin. Mencoba terapkan ilmuku tentang etika yang pernah kupelajari diberbagai buku.

Ia hanya menatapku. Matanya masih tajam. Meski dalam keadaan kuyu seperti itu, sisi garangnya masih muncul.

“Hm, aku merasa sedih dengan catatan di buku-buku sejarah kalian dibumi yang telah abadikanku sebagai seorang pembunuh. Hanya karena cinta aku menjadi pembunuh. Aku memang sangat mencintai Ken Dedes.”

“Kenapa tidak kau sambangi saja dulu Tunggul Ametung. Coba minta maaf, setelah itu kau minta pada Tuha untuk izinkan reinkarnasi lagi, dan kau luruskan saja sejarah itu nanti.”

“Iya, mungkin benar seperti yang kau katakan, Saudaraku Tapi aku malu pada Tuhan. Aku senja kemarin sudah berada di pintu nirwana. Berniat untuk mengetuk pintunya dan minta maaf pada Tunggul Ametung. Walaupun, aku sudah tidak tertarik untuk meluruskan lagi sejarah yang sudah tertulis oleh kalian. Biarlah kalian tulis semua yang kalian tahu, apa adanya.Mungkin benar aku seorang pembunuh. tapi aku sangat menghargai kejujuran. Tetapi aku juga teringat pada Empu Gandring yang mati karena keangkuhanku.”

“Apakah kau mengira Empu Gandring dan Tunggul Ametung masih menyimpan dendam terhadapmu?” Tanyaku dengan ekspresi agak sedikit menyelidik

Ia terlihat menarik napas panjang,”aku minta padamu sebelumnya, jangan mengajakku untuk berfilsafat. Aku masih melihat mereka sebagai manusia. Aku berkeyakinan, mungkin saja mereka masih menyimpan dendam itu. Karena dulu kematian membuatnya tidak berkesempatan untuk membalas dendam itu. Tunggul Ametung sendiri memang tidak tahu bahwa akulah pembunuhnya, tapi justru aku merasa sangat berdosa padanya. Ketika di dunia aku memang memanfaatkan seorang karib yang sekarang sudah tidak kuingat namanya. Aku yakin, mereka semua masih dendam padaku”

Sejurus aku dengannya larut dalam pikiran masing-masing. Sesekali ia terlihat mengusap-usap beberapa helai awan putih tersisa, di sela-sela siluet siang yang lebih dipenuhi mendung.

“Kau masih mencintai Ken Dedes?” Selidikku

“Benar. Aku masih sangat mencintai Ken Dedes. Tapi jangan bicarakan itu dulu. Karena aku masih dihantui rasa bersalah pada Gandring dan Ametung.” Jawabnya

“Baik. Biarkan penyesalan itu ada dalam hatimu. Jangan kau lawan perasaan itu. Nanti kau pasti akan lebih tenang setelah sesal itu selesai tiba di puncaknya.”

“Tetapi aku tidak kuat, saudaraku. Aku malah terpikir andai diizinkan Tuhan untuk bereinkarnasi, aku akan laksanakan saranmu tadi. Aku akan menabur kebaikan di bumi. Tapi semua terlambat. Kau jangan pergunakan logika dari dunia untuk pahami perasaanku disini. Logika dari sana tidak akan menyentuh apapun yang ada di ruang-ruang waktu disini. Diruang yang sedang kutapaki ini!”

“Aku jadi terpikir Arok. Terpikir pada cinta-Nya. Sering aku mendebat diri sendiri, apakah cinta-Nya disekat-sekat oleh ruang dan waktu? Aku sendiri bingung. Tetapi, aku masih saja meyakini, cinta-Nya Maha Luas. Bila kau saja masih membawa bayangan Ken Dedes ke alam sekarang, apakah Cinta Tuhan mudah tanggal hanya di lorong-lorong bumi yang berselemak kebodohan itu.”

“Baiknya, jangan kau larut dengan pandanganmu itu, Sahabat. Pandanganmu itu justru akan membuatmu kelak melegitimasi kesalahan yang kau lakukan di bumi. Sudahlah, jangan kita berdebat lagi. Biarkan aku dengan semua sesalku. Sembari mencoba mengais-ngais nostalgia indahku bersama Ken Dedes dulu. Mungkin sedikitnya bisa mengobati resahku. Sambil tetap menumbuhkan harap, agar Tuhan sudi izinkan aku minta maaf pada Empu Gandring, Tunggul Ametung dan orang-orang yang aku zalimi dulu. Ajarkan cinta ke bumi dengan apa yang kau bisa. Aku cukup puas dan bahagia bila didunia itu sudah basah oleh hujan cinta. Kendati disini nanti aku akan tercebur dalam neraka. Karena, sekarang baru aku tahu, hanya dengan cinta, duniamu terselamatkan. Selamat dari kemunafikan, fitnah, kedengkian hingga darah. Yakinlah, bumi itu akan lebih hijau hanya ketika kalian izinkan nurani-nurani kalian bebas dari warna-warna merah. Nyala merah yang kalian taburkan selama ini disana kelak akan berujung pada sesal seperti yang ku alami. Kembalilah, aku percaya kau bisa pengaruhi dunia untuk lebih melihat cinta secara lebih jernih. Dan kau bisa membuat mereka merasakan trans oleh cinta. Jika perasaan itu sudah merasuk kedalam jiwa mereka. Masukkan ke dalam dadanya pelajaran tentang cinta yang lebih besar. Tidak seperti cintaku yang hanya dimonopoli oleh Ken Dedes. Pulanglah Sahabat. Ceritakan pesanku pada mereka.”

Ada rasa haru juga dihatiku dengan ketulusan yang dimilikinya. Jujur, airmata menggenangiku. Walaupun lelaki, aku selalu izinkan airmata untuk jatuh didepan setiap kebaikan. Tapi, aku tidak bisa lakukan apapun untuk membantunya sampai aku tiba-tiba tersadar sudah kembali ke bumi.




Indonesian Muslim Blogger

KALENDER

December 2016
M T W T F S S
« Mar    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

KATEGORI TULISAN

SEMUA TULISAN