<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Catatan Lain</title>
	<atom:link href="http://refleksikita.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://refleksikita.wordpress.com</link>
	<description>Bicarakan Seks dengan Hati</description>
	<lastBuildDate>Sun, 07 Mar 2010 03:34:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='refleksikita.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Catatan Lain</title>
		<link>http://refleksikita.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://refleksikita.wordpress.com/osd.xml" title="Catatan Lain" />
	<atom:link rel='hub' href='http://refleksikita.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Bank Syariah, Konsep Perbankan yang Dipaksakan (?)</title>
		<link>http://refleksikita.wordpress.com/2010/03/07/bank-syariah-konsep-perbankan-yang-dipaksakan/</link>
		<comments>http://refleksikita.wordpress.com/2010/03/07/bank-syariah-konsep-perbankan-yang-dipaksakan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 03:34:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zulfikar Akbar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Moral]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://refleksikita.wordpress.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Ngapain nabung di Bank Syariah?&#8221; &#8220;Kamu kok mau-maunya nabung di Bank Syariah sih?&#8221; &#8220;Goblok bener, hari ini masih ada perbankan yang membawa-bawa nama agama.&#8221; *** Kalimat itu adalah sebagian kalimat yang pernah ditujukan pada saya. Ketika seorang teman mengetahui saya bagian dari nasabah salah satu Bank Syariah. Memang, saat mendengar kata-kata seperti ini dikeluarkan. Perasaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=refleksikita.wordpress.com&amp;blog=10137266&amp;post=111&amp;subd=refleksikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://refleksikita.files.wordpress.com/2010/03/perbankan-syariah.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-112" title="perbankan-syariah" src="http://refleksikita.files.wordpress.com/2010/03/perbankan-syariah.jpg?w=300&#038;h=218" alt="" width="300" height="218" /></a><strong><em>&#8220;Ngapain nabung di Bank Syariah?&#8221;</em></strong></p>
<p><strong><em>&#8220;Kamu kok mau-maunya nabung di Bank Syariah sih?&#8221;</em></strong></p>
<p><strong><em>&#8220;Goblok bener, hari ini masih ada perbankan yang membawa-bawa nama agama.&#8221;</em></strong></p>
<p>***</p>
<p>Kalimat itu adalah sebagian kalimat yang pernah ditujukan pada saya. Ketika seorang teman mengetahui saya bagian dari nasabah salah satu Bank Syariah. Memang, saat mendengar kata-kata seperti ini dikeluarkan. Perasaan yang sangat terasa sekali adalah:</p>
<p>1. Merasa disebut sebagai orang yang tidak mampu berpikir.</p>
<p>2. Merasa dikatakan sebagai orang yang asal-asalan.</p>
<p>3. Diremehkan.</p>
<p>4. Dilecehkan.</p>
<p>5. Menghina Islam sendiri.</p>
<p>Bentuk rasa yang terlalu berlebihan? Sah saja jika disebut seperti itu. Akan tetapi, tak pelak, menghadapi realitas seperti itu, saya kian merasakan bahwa tidak sedikit yang masih alergi dengan hal yang berbau Islam.</p>
<p><strong>Apakah itu kesimpulan yang keliru? </strong></p>
<p>Silahkan juga jika ingin mengatakan seperti itu. Tetapi, saya kira dalam hal agama itu memang harus tegas&#8211;jangan benturkan dulu dengan persoalan cinta dan tetek-bengeknya&#8211;. Sebagai Muslim, saya menghargai semua agama. Syukur, saya juga memiliki banyak sekali saudara yang berbeda agama. Syukur, mereka bisa menjadi saudara yang menyenangkan. Bisa dikatakan tidak ada persinggungan antara saya dengan mereka.</p>
<p>Namun, selama ini saya menyayangkan mereka yang masih suka merendahkan agama lain, konon Perbankan Syariah yang notabene memang berangkat dari nilai ajaran Islam ikut menjadi sasaran. Seharusnya, perlu objektifitas dalam hal ini. Jangan hanya melihat bahwa itu dari Islam, sebagai konsep yang dipaksakan, dan mengklaim bahwa konsep tersebut benar-benar dipaksakan. Sebaiknya, setiap kesimpulan yang diambil berkaitan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Islam benar-benar ditelaah dengan tuntas (dan, sekali lagi se-objektif mungkin).</p>
<p>PR Perbankan Syariah</p>
<p>Dalam hal ini memang perlu dipertimbangkan kembali juga persoalan alasan dasar, alasan menggalakkan perbankan syariah di Indonesia.</p>
<p>a. Apakah sekedar karena kalkulasi keuntungan yang paling mungkin diraup?</p>
<p>b. Pemanfaatan nasabah Muslim yang seyogyanya memang cenderung mencintai segala sesuatu yang berbau agamanya?</p>
<p>c. Atau, tegas-tegas sebagai <em>will</em> untuk tunjukkan: Islam itu mengatur banyak hal <em>lho</em>. Dan keinginan untuk betul-betul membawa nilai-nilai universalitas yang dimiliki Islam.</p>
<p><strong>Sosialisasi</strong></p>
<p>Untuk menjelaskan perihal ini, saya berpandangan perlu adanya sosialisasi yang betul-betul memasyarakat.</p>
<p>1. Langsung terjun ke berbagai daerah dan wilayah, bertemu dengan masyarakat dan menjelaskan tentang Bank Syariah yang tergolong &#8216;lebih muda&#8217; daripada perbankan lainnya&#8211;realitasnya tidak kalah tua&#8211;.</p>
<p>2. Memanfaatkan berbagai media yang lebih dekat dengan masyarakat, yang betul-betul menyentuh ke akar&#8211;konkretnya mari kita lihat bersama&#8211;.</p>
<p>3. Lakukan berbagai kegiatan positif yang lebih berpihak pada masyarakat. Sehingga, nanti tidak timbul anggapan bahwa perbankan ini hanya punya manfaat untuk kalangan menengah ke atas saja. Kendatipun ada program yang ditujukan untuk masyarakat grassroot, tetapi sejauh ini (berdasar obrolan saya dengan narasumber dari masyarakat kecil di 5 Propinsi*), mereka tidak kenal Perbankan Syariah serta untuk apakah Perbankan Syariah?</p>
<p>Dan ini merupakan tantangan sendiri bagi pihak perbankan yang telah melakukan penetrasi perbankan dengan membawa atribut Islam ini. Sederhananya, paling tidak untuk lebih mempertegas: Perbankan Syariah dengan Perbankan &#8216;Syariah&#8217;.</p>
<p>Billaahi fii sabilil haq</p>
<p>* Aceh, Medan, Lampung, Jakarta dan Bandung</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/refleksikita.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/refleksikita.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/refleksikita.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/refleksikita.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/refleksikita.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/refleksikita.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/refleksikita.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/refleksikita.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/refleksikita.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/refleksikita.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/refleksikita.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/refleksikita.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/refleksikita.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/refleksikita.wordpress.com/111/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=refleksikita.wordpress.com&amp;blog=10137266&amp;post=111&amp;subd=refleksikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://refleksikita.wordpress.com/2010/03/07/bank-syariah-konsep-perbankan-yang-dipaksakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4103479f9eacb80582e7c152f55b2fda?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fickar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://refleksikita.files.wordpress.com/2010/03/perbankan-syariah.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">perbankan-syariah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hierogliph</title>
		<link>http://refleksikita.wordpress.com/2010/01/01/hierogliph/</link>
		<comments>http://refleksikita.wordpress.com/2010/01/01/hierogliph/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 17:57:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zulfikar Akbar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[zulfikar akbar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://refleksikita.wordpress.com/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[Hidup menjadi aksara yang tidak bisa terbaca oleh semua manusia. Hidup juga diterjemahkan sebagai huruf yang terlalu sulit untuk dijadikan kata. Wajah-wajah yang hanya tertunduk lemah dalam keputusasaan, menjadi penguat atas pengakuan yang menjadi bendera putih untuk menyerah. Hidup seperti hierogliph, susunan aksara yang butuh waktu sangat lama melebihi usia yang kita punya, agar ia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=refleksikita.wordpress.com&amp;blog=10137266&amp;post=108&amp;subd=refleksikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://refleksikita.files.wordpress.com/2010/01/021.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-109" title="021" src="http://refleksikita.files.wordpress.com/2010/01/021.jpg?w=242&#038;h=300" alt="Semoga saja tidak pernah gagal membaca" width="242" height="300" /></a>Hidup menjadi aksara yang tidak bisa terbaca oleh semua manusia. Hidup juga diterjemahkan sebagai huruf yang terlalu sulit untuk dijadikan kata. Wajah-wajah yang hanya tertunduk lemah dalam keputusasaan, menjadi penguat atas pengakuan yang menjadi bendera putih untuk menyerah.</strong></p>
<p>Hidup seperti hierogliph, susunan aksara yang butuh waktu sangat lama melebihi usia yang kita punya, agar ia bisa terbaca. Demikian ungkap mereka yang berzikir dengan menyebut nama Tuhan sebagai Yang Maha Kejam. Koran-koran yang saban hari dibaca tidak menjadi peluru-peluru untuk ditembakkan ke kepalanya, agar hancur kepala yang bersujud pada kebodohan. Buku-buku tidak menjadi pedang untuk memenggal lehernya agar kepala terpisah dari tubuh yang enggan bergerak melangkah ke depan. Sedangkan kuliah-kuliah, baik dari kampus maupun obrolan dengan tukang becak, kuli bangunan, pedagang sayur tidak menjadi mandau yang membabat hati dari penindasan kerisauan yang tidak perlu. Hanya pembenaran yang dijadikan rencong untuk ditusukkan di dadanya. Ditusukkan tidak untuk mengoyak dada agar bisa diambil semua usus, hati, jantung dan baru untuk dicuci di mata air paling jernih kejujuran. Tetapi rencong itu malah dijadikan senjata untuk bunuh diri.</p>
<p>Hierogliph kehidupan masih dirasa terlalu berat untuk terbaca. Maka memaki-maki Tuhan, menyalahkan lingkungan, menyalahkan nasib, mencerca keterbatasan menjadi bahan obrolan yang membuat hidup kian jauh dari gairah yang bisa membakarnya untuk menjadi debu. Mereka ragu jika debu tubuh berdakinya itu tidak akan dihembuskan oleh angin kebaikan. Tetapi dari sejak pagi buta, kecurigaan bahwa debunya akan dibawa angin ke angkasa tanpa rasa, tanpa cinta, teryakini olehnya.</p>
<p>Pernah beberapa kali ia berada di seminar-seminar tentang bagaimana menjadi manusia. Tetapi berdalih lobang telinga diciptakan Tuhan terlalu kecil, sehingga tidak mampu mendengar dengan baik semua tutur tentang keberanian. Tentang keyakinan dan tentang harapan. Lantas ia juga mengatakan pada orang-orang, hidup itu tidak butuh harapan. Kelak kesewenang-wenangan Tuhan malah akan membuat harapan itu hanya sebagai mimpi kosong. Ia juga gagal mendengar, bahwa Tuhan memberikan seperti apa yang diyakini olehnya.</p>
<p>Kesalahan yang paling sering terjadi, ternyata tidak hanya pada ketidakmauan untuk membaca semua aksara kehidupan. Tetapi kebebalan untuk tidak mengizinkan telinga mendengar cerita tentang kebenaran. Keangkuhan menjadi kawan setia, maka ketika beberapa manusia mengajak berbicara tentang hidup, lalu menyebut mereka terlalu bangga pada diri sendiri. Sehingga berani mengajarkan tentang hidup pada dirinya. Semua manusia yang ditakdirkan menjadi guru malah menjadi sasaran tamparan mereka. Tamparan itu sebenarnya terlalu pedas. Tetapi mereka lupa, tamparan itu yang membuat manusia pilihan Tuhan untuk mengajari tentang hidup, mati. Satu persatu mati, hanya oleh tamparannya. Kematian para guru itu kemudian dipandang sebagai keperkasaan. Sampai kemudian diapun mati tanpa memiliki guru yang tersisa untukmengajarkannya tentang hierohliph kehidupan.</p>
<p>***</p>
<p>Itulah suara-suara seperti di gedung pertunjukan drama yang muncul di ruang di balik dada. Terkadang saat mendengar suara itu, muncul kecurigaanku pada diri sendiri. Jangan-jangan suara itu menjadi satu cara Tuhan untuk memarahi kebebalanku sendiri. Iya, mungkin saja. Apalagi kuakui, begitu banyak ketololan yang sebenarnya juga telah aku tuliskan sendiri di buku kehidupanku. Meski tak bisa terbaca siapa-siapa. Tetapi mata batin selalu mendelik ke semua catatan itu.</p>
<p>Jiwa ini terkadang kuberikan cemeti saat ia mengajak untuk berdansa dengan alunan nada kebebalan. Kucaci maki saat ia ingin tidur terus menerus untuk tidak menyibukkan diri membaca aksara kehidupan. Tetapi pelajaran kebjaksanaan yang kudapat dari beberapa guru-guru yang telah berbaring istirahat di seribu nirwana, memintaku mengehentikan penyiksaan pada diri sendiri.  Lantas mengajarkan bahwa perubahan tidak perlu ditakutkan. Dan justru perubahan itu harus tetap ada, tidak hanya untuk menjadi lebih baik, terkadang jikapun terasakan hal yang lebih buruk. Itu disebut mereka dengan suaranya dari balik jendela syurga, sebagai pelajaran tambahan agar jiwa tak pernah letih untuk belajar. Pengalaman burukpun merupakan pelajaran.</p>
<p>Sebab, untuk bisa memunculkan dedaunan yang hijau indah. Mendatangkan bunga yang indah mewangi, Tuhan dengan cara-Nya mendatangkan sapi-sapi liar sebagai bagian dari kehidupan untuk membuang kotoran persis di dekat akar kedirian. Kotoran itu selanjutnya yang memupuki diri. Semoga saja jiwa ini tidak menjadikan kotoran tersebut sebagai sarapan saat pagi. Namun bisa melihatnya sebagai cinta Tuhan atas perubahan yang menjadi hukumnya.</p>
<p>Mungkin kelak daun hijau itu akan layu dan luruh, itupun tidak harus dikecewakan. Mengingat, daun luruh itupun bisa membusuk. Dan ia membantu akar-akar lain untuk tumbuh lebih kuat. Saat pohon itu tumbuh rindang dan indah, banyak makhluk Tuhan yang lain datang untuk bernaung. Kelak itupun menjadi catatan tambahan di buku Tuhan. Kematiankupun memiliki manfaat yang bisa ditinggalkan.</p>
<p>Renungan Awal Tahun</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/refleksikita.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/refleksikita.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/refleksikita.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/refleksikita.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/refleksikita.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/refleksikita.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/refleksikita.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/refleksikita.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/refleksikita.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/refleksikita.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/refleksikita.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/refleksikita.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/refleksikita.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/refleksikita.wordpress.com/108/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=refleksikita.wordpress.com&amp;blog=10137266&amp;post=108&amp;subd=refleksikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://refleksikita.wordpress.com/2010/01/01/hierogliph/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4103479f9eacb80582e7c152f55b2fda?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fickar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://refleksikita.files.wordpress.com/2010/01/021.jpg?w=242" medium="image">
			<media:title type="html">021</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kampanye Bank Syariah, Gagal</title>
		<link>http://refleksikita.wordpress.com/2009/12/14/kampanye-bank-syariah-gagal/</link>
		<comments>http://refleksikita.wordpress.com/2009/12/14/kampanye-bank-syariah-gagal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Dec 2009 19:56:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zulfikar Akbar</dc:creator>
				<category><![CDATA[iBI]]></category>
		<category><![CDATA[Bank Syariah]]></category>
		<category><![CDATA[perbankan syariah]]></category>
		<category><![CDATA[zulfikar akbar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://refleksikita.wordpress.com/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[&#8230;.Yang bekerja di pasar atau biasa seharian di jalanan, tidak membuka-buka artikel di iBI maupun mendapatkan brosur apapun yang dimaksud (yang berhubungan dengan Bank Syariah, pen). Masalah bagi hasil dan bunga, masih banyak orang yang pemahamannya samar-samar (tidak bisa pahami dengan jelas seperti apa itu Bank Syariah). Demikian kritik seorang pembaca dalam tulisan saya sebelumnya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=refleksikita.wordpress.com&amp;blog=10137266&amp;post=104&amp;subd=refleksikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>&#8230;.Yang bekerja di pasar atau biasa seharian di jalanan, tidak membuka-buka artikel di iBI maupun mendapatkan brosur apapun yang dimaksud (yang berhubungan dengan Bank Syariah, pen). Masalah bagi hasil dan bunga, masih banyak orang yang pemahamannya samar-samar (tidak bisa pahami dengan jelas seperti apa itu Bank Syariah).</strong></p>
<p>Demikian kritik seorang pembaca dalam tulisan saya sebelumnya, <a href="http://ib-bloggercompetition.kompasiana.com/2009/12/14/bank-syariah-bunga-tidak-haram/" target="_blank">Bank Syariah: Bunga tidak Haram</a>, setelah saya mencoba untuk tegaskan bahwa polemik bunga dan bagi hasil sudah dijelaskan oleh iBI dalam banyak artikel dan brosur yang disebarkan.</p>
<p>Selain itu, seorang rekan, Doddy Purbo, Pengusaha yang juga Kompasianer menyampaikan sudut pandangnya&#8211;juga menanggapi tulisan itu&#8211; bahwa,&#8221;Perkembangan perbankan syariah di Indonesia pada dasarnya bukan karena keislamannya tetapi target pasarlah yang menjadi tujuan. Pengembangan perbankan syariah masih menginduk pada perbankan konvensional dan masih dalam taraf penyesuaian system. Akibatnya, <em>overhead cost</em> perbankan syariah menjadi lebih mahal dari perbankan konvensional sedangkan perhitungan bagi hasilnya tetap berpatokan pada bunga perbankan konvensional.</p>
<div>
<p>Dengan keadaan tersebut, perbankan syariah terpaksa melakukan penghematan dalam pemberian pelayanan karena <em>margin</em>nya yang lebih tipis dan lebih terfokus pada beda istilah saja. Jika anda masuk dalam operasional bank syariah, maka akan sangat kentara sekali bahwa perbankan syariah adalah perbankan konvensional tetapi berkulit syariah. Wajarlah kalau nasabah banyak yang kecewa, terutama pada pelayanan yang masih terbatas.&#8221; Coba membenturkan dengan judul yang telah lebih dulu saya pilih sebelum menulis ini, mungkin iya bahwa dua komentar tersebut tidak bisa dijadikan sebagai indikator kuat untuk menyebut kampanye perbankan syariah selama ini gagal.</p>
<p>Hanya saja, saat mencoba menilik latar belakang dari kedua pemberi komentar itu pada tulisan saya itu, <a href="http://www.kompasiana.com/indiana" target="_self">Rathy Oktriana, </a>aktifis LSM Koalisi NGO HAM Aceh, memiliki kapasitas intelektualitas yang tidak meragukan. Kemudian <a href="http://www.kompasiana.com/ken-arok" target="_self">Doddy Purbo</a> yang merupakan seorang pengusaha real estate yang lumayan punya nama di Indonesia. Tentu, saya kira tidak bisa ditolak, mereka memiliki alasan kuat untuk menyampaikan kedua kesimpulan itu. Lagi, bisa dipastikan mereka tidak asal bicara dan sembarangan ber-<em>statement</em>. Dan bisa dipastikan mereka telah memikirkan hal itu terlebih dahulu. Nah, secara konkret, meski tidak mutlak, ini tetap saja sah untuk dijadikan sebuah indikator bahwa upaya kampanye perbankan syariah selama ini gagal.</p>
<p>Lalu, saat sedang mandi sore, menyikat gigi, secara tiba-tiba saja terlintas dalam pikiran saya. Kenapa perbankan syariah tidak menjadikan mulut saja sebagai alat kampanye yang lebih diandalkan. Daripada dengan pamflet, bilboard, reklame, brosur yang menghabiskan dana yang tentunya tidak sedikit. Oke, semua sarana itu tetap di fungsikan tetapi tidak terlalu mengandalkan itu. Namun, kembali, mulut agar lebih diandalkan. Mulut siapa? Mulut seperti apa yang dimaksudkan?</p>
<p>Iya, tentunya mulut dari nasabah sendiri. Lebih jelasnya, ketika seorang nasabah merasa puas dengan pelayanan yang dilakukan oleh perbankan syariah di Indonesia, mereka tidak berharap kompensasi apapun, akan dengan sendirinya menceritakan dan memberitakan tentang perbankan syariah kepada relasi mereka, teman, sahabat, famili. Secara tidak sengaja mereka bisa menjadi &#8216;suplemen&#8217; yang lebih merangsang untuk menumbuhkan minat calon nasabah lain untuk lebih <em>welcome</em> pada perbankan syariah. Mulut menunjukkan kekuatannya.</p>
<p>Berbicara media yang selama ini dipergunakan seperti yang saya haturkan sebelumnya, saya kira tetap saja mulut lebih punya keunggulan. Dan ini pula yang saya pernah temukan dari buku: Mind Power, Bertrand Russel, et.al, bahwa semua indera manusia dipengaruhi ruh, punya daya hipnotis. Sedangkan bilboard, brosur dan sebangsanya tidak memiliki itu. Air bisa menyatu dan membaur lekat dengan air hanya dengan zat yang sama dengannya, juga air. Berbicara pengaruh, jiwa menjadi penentu, pikiran menjadi bagian darinya. Maka untuk menyentuh jiwa itu hanya dengan jiwa juga, dengan mempergunakan media mulut yang digerakkan jiwa. Saya mengilustrasikan seperti itu.</p>
<p>Intinya, satu hal yang harus di genjot oleh pengambil kebijakan dalam &#8216;ring&#8217; Bank Syariah adalah menggenjot itu. Tidak pendekatan lewat <em>physically </em>saja tapi juga <em>psychology</em>&#8211;maaf jika berirama mengdikte&#8211;.</p>
<p>Pendekatan dengan jiwa, mulut sebagai medium. Cari cara agar nasabah yang ada benar-benar terpuaskan, orgasmus, dan percaya saja, mereka akan menjadi iklan berjalan yang akan semakin membesarkan perbankan syariah. Jika dia seorang pengisi seminar-seminar, mungkin akan dengan sendirinya dia &#8216;mengseminarkan&#8217; juga tentang perbankan syariah, kendati tidak formal. Seorang tukang keliling, mungkin ia juga akan bercerita tentang perbankan syariah kepada pelanggannya. Dan, mereka lebih punya<em> power</em> untuk menyentuh hati manusia dari sekedar bilboard, pamflet and so on.</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/refleksikita.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/refleksikita.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/refleksikita.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/refleksikita.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/refleksikita.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/refleksikita.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/refleksikita.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/refleksikita.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/refleksikita.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/refleksikita.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/refleksikita.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/refleksikita.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/refleksikita.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/refleksikita.wordpress.com/104/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=refleksikita.wordpress.com&amp;blog=10137266&amp;post=104&amp;subd=refleksikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://refleksikita.wordpress.com/2009/12/14/kampanye-bank-syariah-gagal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4103479f9eacb80582e7c152f55b2fda?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fickar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bank Syariah: Bunga Tidak Haram</title>
		<link>http://refleksikita.wordpress.com/2009/12/14/bank-syariah-bunga-tidak-haram/</link>
		<comments>http://refleksikita.wordpress.com/2009/12/14/bank-syariah-bunga-tidak-haram/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Dec 2009 01:20:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zulfikar Akbar</dc:creator>
				<category><![CDATA[iBI]]></category>
		<category><![CDATA[Bank Syariah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://refleksikita.wordpress.com/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana kalau Bank Syariah menjalankan kebijaksanaan untuk nasabahnya, dengan membuka diri untuk juga bersedia memberi bunga? Tetapi sebentar dulu, saya tidak ingin anda membaca tulisan saya ini dengan kening mengerut. Toh, seseorang yang cerdas tidak selamanya identik dengan kening yang mengerut bukan? Nah, saya mengajak anda dulu untuk membayangkan bunga dari perspektif lain. Bunga yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=refleksikita.wordpress.com&amp;blog=10137266&amp;post=102&amp;subd=refleksikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bagaimana kalau Bank Syariah menjalankan kebijaksanaan untuk nasabahnya, dengan membuka diri untuk juga bersedia memberi bunga?</strong></p>
<p>Tetapi sebentar dulu, saya tidak ingin anda membaca tulisan saya ini dengan kening mengerut. Toh, seseorang yang cerdas tidak selamanya identik dengan kening yang mengerut bukan?</p>
<p>Nah, saya mengajak anda dulu untuk membayangkan bunga dari perspektif lain. Bunga yang sebenarnya, bukan bunga seperti yang umumnya dikenal dalam dunia perbankan. Tetapi memang bunga yang enak dipandang, menyejukkan mata dan hati, plus menyenangkan. Baik dengan aromanya yang harum, hingga bentuknya yang memang indah.</p>
<p>Kenapa saya mengajak seperti itu. Tidak lain, agar kita tidak lagi mengatakan bunga itu haram (nah lho?). Tetapi justru mencoba mengambil nilai filosofi dari bunga. Iya, dari bunga (bukan bunga bank). Kenapa saya menyebut demikian, apalagi iramanya memang terlihat sedikit menggurui. Sedangkan jamak diketahui, personel di Bank Syariah pastilah orang-orang yang berkompeten di bidangnya. Memiliki kualifikasi yang memang dibutuhkan untuk menjalankan usaha perbankan dalam skala besar.</p>
<p>Dalam hal ini, saya tidak berniat untuk menyepelekan semua kapasitas yang dimiliki perbankan syariah sebagai kekuatannya. Namun lebih mencoba melihat dari perspektif, bahwa bank ini dijalankan oleh manusia dan untuk manusia. Utamanya pada sisi layanan&#8212;karena berbicara layanan (atau pelayanan?)&#8212;, menyimak dari berbagai tulisan yang pernah turun di iB Competition saja, begitu banyak yang mengeluarkan keluhan yang berhubungan dengan (pe)layanan dari Bank Syariah. Ini idealnya harus dilihat betul.</p>
<p>Oke, lembaga ini tidak menjalankan kebiasaan mengambil atau memberikan &#8216;bunga&#8217; kepada nasabah. Namun, dalam hal layanan kalau bisa, mbok ya (spesifik dalam hal pelayanan) diusahakan yang betul-betul mencerminkan filosofi bunga. Menyenangkan, enak untuk dilihat nasabah, menyejukkan nasabah dan betul-betul bisa menebar harum sekuntum bunga &#8212;harumnya Bank Syariah&#8212;. Bagaimana kondisi pelayanannya, sekali lagi harus betul-betul dilihat ulang dengan jujur. Karena ini juga berkait juga dengan persoalan sustainabilitas relasi baik antara Bank Syariah dengan nasabah. Saya sengaja tidak menjurus langsung untuk menohok. Namun, saya kira pihak pengelola Bank Syariah cukup kapabel untuk memahami arah ‘obrolan’ saya&#8212;yang juga nasabah Bank Syariah&#8212;.</p>
<p><em>Kuntum khaira ummati ukhrijat lin-naas, ta’muruuna bil ma’ruuf wa tanhauna anil munkar</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/refleksikita.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/refleksikita.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/refleksikita.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/refleksikita.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/refleksikita.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/refleksikita.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/refleksikita.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/refleksikita.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/refleksikita.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/refleksikita.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/refleksikita.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/refleksikita.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/refleksikita.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/refleksikita.wordpress.com/102/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=refleksikita.wordpress.com&amp;blog=10137266&amp;post=102&amp;subd=refleksikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://refleksikita.wordpress.com/2009/12/14/bank-syariah-bunga-tidak-haram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4103479f9eacb80582e7c152f55b2fda?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fickar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Catatan Seorang Gay</title>
		<link>http://refleksikita.wordpress.com/2009/11/01/catatan-seorang-gay/</link>
		<comments>http://refleksikita.wordpress.com/2009/11/01/catatan-seorang-gay/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 08:14:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zulfikar Akbar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Moral]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://refleksikita.wordpress.com/2009/11/01/catatan-seorang-gay/</guid>
		<description><![CDATA[Benar, gay adalah manusia. Mereka adalah orang-orang yang juga dilahirkan oleh manusia. Tetapi, lepas setuju atau tidak, gay adalah adalah penyakit jiwa yang sangat parah. Penyakit tersebut justru merendahkan nilai-nilai kemanusiaan. Sebuah kasus saya temukan saat masih menjadi seorang Guru Bantu, di salah satu Tsanawiyah (sekolah Islam setingkat SLTP) di Kabupaten saya di Aceh, Kabupaten [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=refleksikita.wordpress.com&amp;blog=10137266&amp;post=100&amp;subd=refleksikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-99" title="hermaprodit" src="http://refleksikita.files.wordpress.com/2009/11/hermaprodit.jpeg?w=655" alt="hermaprodit"   />Benar, gay adalah manusia. Mereka adalah orang-orang yang juga dilahirkan oleh manusia. Tetapi, lepas setuju atau tidak, gay adalah adalah penyakit jiwa yang sangat parah. Penyakit tersebut justru merendahkan nilai-nilai kemanusiaan.</p>
<p>Sebuah kasus saya temukan saat masih menjadi seorang Guru Bantu, di salah satu Tsanawiyah (sekolah Islam setingkat SLTP) di Kabupaten saya di Aceh, Kabupaten Nagan Raya. Khalayak di Kabupaten tersebut jamak mengenalnya sebagai seorang Gay. Dalam sebuah kesempatan diruang guru, secara kebetulan posisi mejanya persis berada disisi meja saya. Agak sedikit jauh dengan guru lain, yakin tidak akan didengar oleh guru lain. Saya coba cross check kebenaran rumor yang menyebutnya sebagai Gay, dengan alasan untuk tidak ikut-ikutan terjebak dengan pandangan yang tidak jelas. Bermodal tampang yang bisa saya setel selembut mungkin, jauh dari sangar. Dan setelah mencoba “hipnotis” pikirannya dengan menceritakan keadaan proses mengajar yang tadi pagi terlebih dahulu, menyanjungnya dengan beberapa kalimat yang membangkitkan kebanggaannya. Setelah yakin ia telah merasa nyaman dengan saya. Langsung sebuah interogasi berjalan dengan cara selembut mungkin, saya terapkan–tidak rugi saya gemari buku-buku investigasi dari sejak kecil–. Meluncurlah sebuah cerita darinya</p>
<p>“Iya benar, aku selama ini memang memiliki ketertarikan pada selama lelaki. Aku bisa merasakan seorang lelaki ganteng atau tidak. Tapi aku tidak bisa mengukur seorang perempuan cantik dengan tidaknya. Aku bisa merasakan debar jantung cukup kuat saat melihat seorang lelaki ganteng. Jujur, termasuk saat aku melihatmu.” Walau  dihati merasa semacam jijik ditaksir sesama lelaki, saya coba tutupi ekspresi yang ada didalam batin dengan tersenyum kecil saya sambil mempersilahkannya bercerita. Tidak saya vonis apapun dalam proses itu, walaupun memang ada ingin untuk memarahinya habis-habisan atas sikapnya yang dimata saya jelas tidak bermoral. Sekali lagi, strategi pasang umpan sedang saya jalankan.</p>
<p>“Aku sudah melakukan hubungan seks yang kuakui menyimpang ini dari sejak kecil. Tapi baru lebih serius saat memasuki usia jelang dewasa. Aku sempat trauma dan ketakutan sekali saat salah satu ‘pacarku’ (yang juga laki-laki) sakit karena aku ’serang’ lewat belakang anusnya. Untungnya, dia  tidak laporkan ke orangtuanya. Walaupun lebih dari seminggu ia tidak bisa berjalan karena kesakitan. Aku berpura-pura tidak tahu apa-apa tentang penyebab sakitnya. Sering aku kunjungi dia. Terkadang aku masih berkesempatan untuk juga tidur di rumahnya. Saat malam, karena aku hanya tidur dengannya berdua saja. Jika sudah tidak tahan, sedangkan untu melakukan ‘itu’ sedang tidak memungkinkan. Sering aku hanya memegang miliknya. Karena dia juga sudah mengakui diri sebagai pacarku, dia tidak marah aku gituin.” Dalam benakku berkecamuk semacam amarah cukup kuat, apalagi dia mengakui, pacar versinya itu masih dibawah umur, 10 tahun. Iapun juga menceritakan bahwa ia melakukan cara tersendiri untuk mendapatkan ‘pacar’.</p>
<p>“Aku biasanya memberi mereka uang jajan yang banyak. Memang aku lebih memilih yang berasal dari keluarga miskin, sehingga dengan pemberian uang yang banyak, aku belikan baju baru. Sesekali aku ajak jalan-jalan. Itu sudah cukup menjadi senjata ampuh untukku bisa taklukkan hati kekasihku.” Mendengar ‘kepolosan’nya terasa sekali, amarahku seperti ingin untuk meledak. Kucoba redam dengan mengatakan pada diri sendiri,”aku sedang melakukan penggalian. Marahku hanya akan membuatnya merasa tidak nyaman lagi untuk ceritakan semua tentang pengalaman petualangan cintanya.” Batinku.</p>
<p>Sesekali ia terlihat mencuri-curi untuk mengelus pahaku, sambil matanya melirik ke arah rekan-rekan guru lainnya. Entah supaya rekan lain tidak tahu, sepertinya iya. Meski jiwa mudaku menginginkan untuk menendangnya sampai terjatuh, ku coba bertahan saja, Misi harus selesai. “Begini, aku memiliki pacar bukan cuma satu lho. Aku terus saja berganti-ganti karena memang ‘rasa’ dari pacar-pacarku itu berbeda satu dengan lainnya. Tapi kamu jangan salah lho, banyak juga dari mereka yang sampe mengemis tidak mau berpisah denganku setelah merasakan bagaimana ‘enaknya’ melakukan itu. Beberapa yang sudah dewasa, yang sudah mencobanya denganku juga mengaku sangat menikmatinya, bahkan mereka juga ngaku kalo yang dirasakannya denganku jauh lebih nikmat dari yang bisa diberikan oleh seorang wanita,” Aku langsung berfirasat, sepertinya ia sedang mencoba untuk menjebakku untuk mengikuti cara gila itu. Serta merta saja, melihat ia juga semakin merapat kearahku. Aku beringsut agak lebih menjauh–selain aroma mulutnya juga sangat mengganggu–. Syukur, dia masih mau untuk bercerita.”Sekarang aku juga sedang memiliki pacar salah satu siswa kita disini lho. Ganteng dia juga tidak kalah dengan kamu,”</p>
<p>“Siapa ya,” Tanyaku dengan irama lembut, meskipun tetap saja ada keinginan untuk remukkan giginya. Karena sangat kurasakan memang marahku semakin memuncak. Apalagi korbannya kali ini adalah siswa kami sendiri. Lantas ia menyebut nama seorang siswa di salah satu sekolah ini.”Tadi malam ia juga tidur dirumahku lho. Indah sekali.”</p>
<p>Dengan bel tanda jam masuk kembali sudah singgah dikupingku. Kegiatan investigasi sekaligus interogasi itu terpaksa diakhiri. Sepulang dari mengajar, aku langsung temui teman-teman dari siswa korban kucoba temui dan kumintai keterangan. Dari sekitar 5 ‘narasumber’ semua mengatakan hal yang persis sama. “Kamu, nanti usahakan kamu jebak An (inisial oknum tersebut) untuk mau datang ke rumah saya ya?”</p>
<p>“Baik pak,”jawab siswa saya ini.</p>
<p>Sampai sore ia tidak datang kerumahku. Bahkan beberapa hari ia tidak tampak disekolah. Satu hal yang membuatku semakin ingin meledak, ketika seorang rekan guru yang perempuan yang biasa menjadi teman cerita An menanyakan padaku,”Bener kamu sudah jadian dengan An?”</p>
<p>“Apa? Aku pacaran dengannya? Kenapa kamu tanyakan seperti itu?”</p>
<p>“Iya, dia mengaku padaku kalian sedang pacaran. Katanya juga kamu sudah bersedia menjadi pacarnya.”</p>
<p>“<em>Pungoe</em> (terj: gila).” Umpatku spontan. Seketika saja dadaku bergemuruh ingin untuk luapkan amarah. Jelas ini sebuah bentuk pencemaran yang sangat memalukanku. Fitnah yang paling keji yang pernah kuterima. Lazimnya saat aku marah. Gigi gemeretak, kedua telapak tangan tergenggam keras. Mataku menyala. Amarah sudah begitu kuat menguasai pikiranku.</p>
<p>Sepulang dari mengajar. Aku merasa mendapat durian runtuh. Kulihat ia sedang bicara dengan salah satu adikku yang juga laki-laki, pun siswanya juga. Melihat kepulanganku, ia terlihat sudah mulai tidak nyaman. Terbaca dari gerak tubuhnya yang mulai gelisah. Seketika saja, sebilah pedang yang sudah beberapa hari kuletakkan dibelakang pintu–jangan salah paham, niat awal hany auntuk membuatnya keder saja– kuambil.”Jangan coba-coba untuk berdiri!” Perintahku. Memang ada beberapa orang tetangga yang juga sedang berbicara dengan Bapak dirumah. Tapi berada di sudut lain agak jauh.</p>
<p>“Kalau kau coba untuk berdiri, aku akan membuat kepalamu terpisah dari lehermu itu.” Ancamku.</p>
<p>“Apa maksudmu mengfitnahku dengan cara mengatakan aku sebagai pacarmu? Apa kau mengira karena mengenal orang pungoe sepertimu, lantas kau pikir aku akan ikut gila?” Cecarku.</p>
<p>“Gak, tidak ada itu. Siapa sih yang bilang seperti itu?” Elaknya dengan mata yang sudah mulai berair.</p>
<p>Semakin kudekatkan posisi pedang kebanggaanku itu kearahnya. Dengan suara pelan, intonasi yang kutekan, aku kembali tanyakan,” Kamu ngaku dan jelaskan padaku tentang masalah itu, atau kamu benar-benar ingin untuk kubunuh?” terang saja, ‘gaya’ seperti itu semakin membuatnya gemetar dan menggigil. Celananya yang basah ketakutan seketika hampir membuatku tertawa keras. Tapi aku simpan keinginan untuk tertawa itu, lalu kembali menatap matanya. Ia malah menekuri lantai.”Iya, iya aku mengaku. Aku katakan itu pada ibu S karena waktu kamu tanyakan aku tentang pengalamanku melakukan ‘itu’ dengan pacarku yang dulu, kukira itu sebagai tanda kamu juga menyukaiku. Makanya, aku langsung saja cerita ke Bu S kalau kamu sudah menjadi pacarku.” Ujarnya dengan ekspresi melemah. Sebuah tamparan kulayangkan ke kepalanya. Terbersit dipikiranku. Dengan perawakannya yang tinggi besar, badan yang berotot. Bentuk fisik yang jelas berbeda denganku yang lebih kecil darinya. Kalau saja ia melawan, pasti ia akan berhasil lumpuhkanku. Tapi ternyata kemarahan juga memiliki kekuatan pada saat tertentu. Sehingga fisiknya yang lebih besar itu tidak membuatnya lebih kuasa atasku.</p>
<p>Selesai sebuah tamparan. Kembali sebuah bogem mentah kulayangkan juga kesisi pelipisnya.”Lekas pulang. Jangan ulangi lagi yang sudah kau lakukan itu. Dan jangan coba-coba untuk kau tambah korbanmu dengan adikku ini. Kalau itu terjadi, bukan sekedar gertak sambal, akan kukeluarkan isi perutmu itu!” Ancamku lagi sambil menyinggahinya sebuah tendangan ke perut.</p>
<p>Sepulang An, langsung Ali, adikku bicara dengan irama canda,”<em>juah that lagoe bang </em>(Terj: kok Abang jadi buas seperti itu?” Aku hanya tersenyum kecil saja. Didepan rumah. Tetanggaku hanya melihat dengan ekspresi tanda tanya semua yang baru kulakonkan. Sedangkan Bapak yang sudah kuceritakan permasalahanku jauh-jauh hari hanya mengatakan,”harusnya jangan sampai sekasar itu kamu sikapi dia, Kar.” Aku hanya nyeletuk kecil,”Jika fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Maka balasan atas fitnahnya yang kulakukan tadi, kan tidak sampai membuatnya terbunuh, Pak.” Sambil beranjak untuk menyimpan pedangku itu.</p>
<p>Beberapa hari kemudian, aku mendapat kabar ia tertangkap basah oleh warga <em>gampong</em>nya sendiri. Dipukuli warga karena kedapatan menyodomi seorang siswa yang pernah diceritakannya padaku.</p>
<p>Aku teringat beberapa hari sebelumnya, karakternya seperti itu sudah kucoba bicarakan dengan kepala sekolah, aku beralasan”Pak, jika Guru seperti itu terus saja dipertahankan, anak-anak kita disini bisa menjadi korban. Homoseksual itu tidak pernah ditolerir dalam agama kita. Bapak pasti tahu itu. Selain kasihan dengan anak-anak yang masih belum tahu apa-apa itu. Jelas ini juga berefek pada reputasi sekolah ini juga. Apalagi ini adalah sekolah agama. Masa memiliki guru ’sakit’ seperti itu?” Saranku yang memang kuakui agak tendensius dengan sedikit berirama khotbah. Kepala sekolah hanya menjawab ringan,”Tenang Pak, sudah saya berikan nasihat padanya untuk merubah itu kok.”</p>
<p>Aku tercenung dengan jawaban Kepala Sekolah ini. Apakah persoalan yang jelas bisa merusak karakter anak-anak dipandang sebagai sebuah persoalan yang sepele saja? Disebuah institusi pendidikan yang membawa nama agama la0</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/refleksikita.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/refleksikita.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/refleksikita.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/refleksikita.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/refleksikita.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/refleksikita.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/refleksikita.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/refleksikita.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/refleksikita.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/refleksikita.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/refleksikita.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/refleksikita.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/refleksikita.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/refleksikita.wordpress.com/100/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=refleksikita.wordpress.com&amp;blog=10137266&amp;post=100&amp;subd=refleksikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://refleksikita.wordpress.com/2009/11/01/catatan-seorang-gay/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4103479f9eacb80582e7c152f55b2fda?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fickar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://refleksikita.files.wordpress.com/2009/11/hermaprodit.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">hermaprodit</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Zikir Cinta di Rumah Pelacur</title>
		<link>http://refleksikita.wordpress.com/2009/10/31/zikir-cinta-di-rumah-pelacur/</link>
		<comments>http://refleksikita.wordpress.com/2009/10/31/zikir-cinta-di-rumah-pelacur/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 20:08:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zulfikar Akbar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat Seks]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://refleksikita.wordpress.com/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Jangan marahi langit yang angkuh dengan warna hitamnya, mungkin ia ingin memberimu ribuan tetes air setelah melihatmu nyaris mati oleh kering. Sebab langit juga sedang bicara cinta walau dengan bahasa hitamnya Aku melihat Marx sedang memegang sekerat roti, ia tidak menelannya. Hanya dimainkan ditangan yang kulihat gemetar.”Aku sedang tak ingin kau ajak berdiskusi. Aku sudah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=refleksikita.wordpress.com&amp;blog=10137266&amp;post=96&amp;subd=refleksikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-medium wp-image-97" title="GURUKU-ZOELFACHBAR" src="http://refleksikita.files.wordpress.com/2009/10/guruku-zoelfachbar.gif?w=226&#038;h=300" alt="GURUKU-ZOELFACHBAR" width="226" height="300" />Jangan marahi langit yang angkuh dengan warna hitamnya, mungkin ia ingin memberimu ribuan tetes air setelah melihatmu nyaris mati oleh kering. Sebab langit juga sedang bicara cinta walau dengan bahasa hitamnya</strong></p>
<p>Aku melihat Marx sedang memegang sekerat roti, ia tidak menelannya. Hanya dimainkan ditangan yang kulihat gemetar.”Aku sedang tak ingin kau ajak berdiskusi. Aku sudah bosan untuk mengenal diskusi. Akupun sedang tidak tertarik untuk mendengar puisi-puisimu. Kau tahu, seribu kebenaran yang akan kau coba gali, hanya mematahkan pacul harapanmu sebelum satu kebenaran tergali. Maka aku memilih mengakhiri hidup dengan bunuh diri.” Aku melupakan tatakrama dan beranjak pergi.</p>
<p>Aku bertemu al-Ghazali, figur yang kukenal sangat mencintai Filsafat. Tetapi kemudian membunuh kekasihnya itu, lalu memilih untuk mengawini Tasawuf. Kuperhatikan ia sedang mereguk tinta yang ia tuangkan sebelumnya di botol-botol bir.”Kau tahu, banyak dari mereka mengira aku hanyalah pemabuk. Padahal, cinta itu selalu hanya ada untuk para pemabuk. Yang rela mereguk pengetahuan hingga ia pingsan. Setelah tersadar dari pingsan mereka akan bermetamorfosis sebagai kekasih Tuhan. Mereka akan memilih untuk telanjang. Para pemabuk sepertiku, hanya bergerak untuk dan atas nama cinta. Baik, aku ingin mengajakmu menyambangi Cleopatra, mari.” Ajaknya dengan irama yang begitu menyejukkan.</p>
<p>Aku merasa suaranya jauh lebih merdu dari suara gadis muda yang baru tumbuh dewasa. “Sebentar, aku urungkan kesana. Aku hampir lupa, minumanku belum habis kureguk. Kau saja berangkat kesana. Nanti, kau akan temui Rumi ditempat itu.”</p>
<p>Orangtua aneh, kupikir.”Pergi saja kesana, kau tidak boleh puas hanya mengayunkan satu langkah. Kebenaran itu hanya bisa ditemui, setelah kau izinkan dirimu untuk lelah dengan tetap ayunkan kakimu beribu-ribu mil perjalanan. Kehormatan itu ada dalam pengetahuan. Cinta juga akan dikenal oleh mereka yang mau mabuk sepertiku. Bila hanya kau menenggak tinta-tinta beberapa gelas saja, kau malah akan gila dengan sebenar gila. Jangan kau biarkan langkah terhenti hanya karena lelah. Pemburu cinta, ksatria yang ingin bertempur di medan pengetahuan. Mereka paham sekali, bahwa mereka tidak terlahir untuk bunuh diri dengan ketidakmampuan mereka untuk terus berjalan. Pergilah”</p>
<p>Ia merengkuh kepalaku, diciumnya dahiku. Seakan, aku merasa terbawa ke masa kecil ketika kecupan Bapakku sering menghinggapi dahiku.”Baik, aku pergi kesana. Aku tidak akan berlari terlalu kencang. Kukira dengan berjalan saja aku bisa lebih puas melihat pepohonan hijau sepanjang jalan ini.”</p>
<p>“Iya, pergilah.” Ulangnya</p>
<p>Perjalanan ini kulakukan dengan kaki telanjang, dari senja kemarin aku sudah katakan pada diri sendiri. Walau hanya sandal jepit, itu hanya membuatku mati rasa dari belai cinta yang diberikan bumi.</p>
<p>Aku tiba disebuah rumah besar. Kucoba yakinkan diri, inilah rumah Cleopatra yang dimaksudkan tadi. Terlihat seorang lelaki dengan jubah Sufi sedang berdiri di pintu rumah itu. Aku memperhatikan ia seperti sedang berbicara sendiri. Beberapa saat kemudian, ketika kakiku sudah hampir tiba didepannya. Ia justru beranjak kedalam. “membingungkan” Keluhku.</p>
<p>Ruangan yang ada rumah ini juga membuat heranku kian bergunung. Beberapa sudut, kutemukan kursi-kursi berukir indah dengan sandaran lengan yang mirip bentuk kepala ular. Sedang di sebuah sudut, aku melihat Rumi. Ia sedang menatap wajahku dengan ulas senyum yang terasa begitu lembut. Tubuhnya duduk saja bersila dilantai yang begitu penuh debu,”kebenaran itu berasal dari debu. Debu-debu ini akan mewujud sebagai cinta, sebagian akan tercipta sebagai kebenaran itu sendiri. Kebenaran dan cinta itu takkan pernah terpisah. Namun, percayalah cinta sering datang lebih dulu dari kebenaran. Kemarilah, kita bicara di lantai berdebu ini saja. Kau boleh memilih untuk berdiri atau duduk saja bersamaku, tak ada yang salah dari pilihanmu. Silahkan berdiri hanya bila kau tidak rela pakaianmu kotor oleh debu-debu ini.”Ujarnya dengan irama seperti sedang membaca puisi cinta.</p>
<p>Aku memutuskan untuk ikut duduk bersamanya. Di wajahnya muncul senyum yang lebih lebar dari sebelumnya. Ia beringsut lebih dekat padaku. Ujung lututnya menyentuh pahaku. Tangan kanannya memegang sisi kanan lenganku, agak erat tapi tetap masih bisa kurasakan kelembutan disana.”Aku jelaskan, kau sedang berada di rumah pelacur. Disini aku ingin sekali bisa berzikir bersamamu. Tapi tidak mesti mematahkan lidah dengan menyebut nama-Nya. Tuhan tidak butuh lidah ini, saudaraku. Lidah ini bisa bicara apa saja. Tapi lidah lekas lelah jika diajak menyebut kebesaran Dia. Aku katakan padamu zikir itu adalah ketulusan cinta. Dan cinta bukanlah terukur dari seberapa sering kau membicarakannya, namun seberapa lebar hatimu membiarkan ia bertempat. Cinta itu bukanlah desah napas di ranjang-ranjang empuk. Tetapi cinta yang sebenarnya hanya bisa kau rasa tatkala semua kasur dan ranjang dirumahmu telah habis kau bakar.”</p>
<p>Kucoba untuk tidak hanyut dalam kekagumanku padanya. Aku merasa perlu untuk juga bicara walau hanya dengan beberapa kata.”Iya, aku ingin bicarakan cinta. Dulu, aku pernah enggan bicarakan hal ini di bumi setelah hatiku terpaut pada seorang wanita, lalu wanita itu pergi mengikuti suara seekor anjing yang sedang melolong. Ia mengajakku untuk ikut serta, tapi kutolak karena lolongan anjing tak pernah berikanku rasa indah. Sejak itu, aku sangat menikmati ketika aku bisa memuaskan diri ledakkan marah dalam caci maki. Sesuatu yang berbeda kurasakan setelah seekor kucing mengelus-elus kakiku. Sepotong ikan yang tersisa dari makan siangku ketika itu, dikunyah oleh kucing ini dengan begitu tenang. Ia tidak mengatakan apapun. Binar matanya seusai melahap sisa ikan tersebut, memberi pelajaran rendah hati padaku. Ah, begitu dalam tatapan mata kucing itu. Ia juga mengajarkan padaku tentang bagaimana berharap dalam cinta.” Pelan kuceritakan padanya. Seakan aku sedang merasakan sebuah ekstase saat menceritakan itu.</p>
<p>Jarak kepalaku dengannya semakin dekat saja. “Aku bangga bersaudara denganmu. Kau bijaksana, sudah seharusnya cinta itu tidak tersekat oleh kelambu-kelambu. Seseorang pecinta yang masih belum bisa menjauhkan kelambu dari peraduannya, ia takkan membuat sayap malaikat pembawa kebenaran leluasa menyentuhnya.” Ujarnya seakan menyambung kalimat yang sebenarnya belum selesai kuucapkan.</p>
<p>Beberapa jenak kemudian ia sudah menarik pundakku untuk berdiri dan melangkah kesisi lebih dalam rumah itu. Seorang perempuan sedang duduk manis diatas sebuah kursi yang bisa kurasakan begitu empuk, walaupun aku tidak ikut menduduki. Bibir perempuan itu membuatku terpana untuk beberapa saat.”bibir adalah topeng untuk membungkus dusta yang dijalin manusia dalam kata-kata. Kuharap ini terakhir kalinya kau terpesona dengan bibir-bibir merekah seperti itu. Sebab, percayalah. Seindah apapun bibir itu, kau tidak akan merasakan orgasme. Bibir, bila itu dimiliki penyihir, mereka hanya akan menjadikan itu sebagai mantera yang membuatmu terlupa pada pencarian atas makna cinta dan pada Tuhan.” Ia bergetar lirih mengatakan kalimat itu padaku. Aku tersipu seperti seorang gadis pemalu.</p>
<p>Diluar, alam sedang mendeklarasikan diri sebagai kepekatan. Merasakan dingin yang teramat sangat, aku menduga tempat itu sebenarnya sedang berada tiba-tiba di kutub yang dipenuhi salju.”Tidak, ini adalah gurun pasir, Saudaraku. Malam sudah tiba, ia sedang bicara dengan kita. Ia memang tidak akan berbicara denganku saja. Tapi karena kau sedang larut membayangkan tari perut yang disuguhkan penari-penari gurun. Merdu suara malam sudah tidak bisa kau dengar.”Aku tersentak dengan kalimatnya itu.”Tarian perut disuguhkan hanya untuk orang-orang gila. Sebab, tarian itu sendiri lahir dari orang gila yang ingin membicarakan bahwa ia sedang lapar. Jika kau biarkan dirimu melamunkan itu, kau tidak akan membantu penarinya untuk makan malam bersama dengan ajakan cinta. Tetapi malah kau hanya terdorong untuk membunuh dingin ini di ranjang-ranjang yang akan kian dalam menenggelamkanmu. Sendi-sendi tubuhmu akan melemah untuk kau bisa berjalan kembali ke jalan cinta yang lebih hakiki.”</p>
<p>Tidak kulihat gurat marah diwajahnya. Kebijaksanaan yang ia miliki sepertinya sudah membuat lekang semua marah. Akupun dibawanya keluar untuk melihat malam,”semua hitam yang kau lihat inilah kebenaran. Setelah hitam ini usai, dan kau berhasil menjalaninya dengan sepenuh cinta. Besok pagi, matahari akan terbang dengan sayapnya dan menyusup kedalam jiwamu. Matahari itu bisa pula kau pergunakan untuk membakar semua kebatilan. Cinta yang sudah lebih dulu kau pahami akan menunjukkan kekuatannya padamu. Aku harus pamit dulu, Saudaraku. Malam ini aku ingin melihat Dia di sebuah tempat yang belum bisa kau datangi. Semoga kelak aku bisa melihatmu sebagai guru untuk manusia bisa pahami cinta secara lebih mendalam. Jangan hentikan langkahmu sebelum kau disapa Malaikat Maut. Satu hal lagi, Malaikat Maut takkan terlihat seram dimata orang-orang yang sudah penuh jiwanya oleh cinta.”</p>
<p>Aku tertegun, ia seketika menghilang. Aku sudah tidak lagi berada di rumah itu. Semua terjadi seperti diluar kesadaranku. Suara tanpa bentuk datang hinggap ditelingaku,”jangan kau berharap untuk bertemu denganku sebelum semua pelacur itu terbunuh dengan cinta yang kau ajarkan.”</p>
<p>Meulaboh, 01 Nop 2009</p>
<p>Kunjungi juga rumah renungan kami di:</p>
<p><a rel="nofollow" href="../" target="_blank">http://refleksikita.wordpress.com</a></p>
<p><a rel="nofollow" href="http://www.fick-jeuram.co.cc/" target="_blank">http://www.fick-jeuram.co.cc</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/refleksikita.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/refleksikita.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/refleksikita.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/refleksikita.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/refleksikita.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/refleksikita.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/refleksikita.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/refleksikita.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/refleksikita.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/refleksikita.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/refleksikita.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/refleksikita.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/refleksikita.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/refleksikita.wordpress.com/96/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=refleksikita.wordpress.com&amp;blog=10137266&amp;post=96&amp;subd=refleksikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://refleksikita.wordpress.com/2009/10/31/zikir-cinta-di-rumah-pelacur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4103479f9eacb80582e7c152f55b2fda?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fickar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://refleksikita.files.wordpress.com/2009/10/guruku-zoelfachbar.gif?w=226" medium="image">
			<media:title type="html">GURUKU-ZOELFACHBAR</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Surat Cinta Ken Arok</title>
		<link>http://refleksikita.wordpress.com/2009/10/30/surat-cinta-ken-arok/</link>
		<comments>http://refleksikita.wordpress.com/2009/10/30/surat-cinta-ken-arok/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 05:32:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zulfikar Akbar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://refleksikita.wordpress.com/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Kulihat Ken Arok disela-sela awan hitam siang ini. Aku tidak mendengar ia sedang menyebut Tuhan. Sepertinya Ken Dedes yang sejak masih di bumi dicintainya belum lekang dari ingatan. Ada rasa trenyuh kulihat gurat wajah dengan rambut semrawut yang nyaris menutup wajahnya. Kuperhatikan, ia masih lumayan tampan, meski sudah puluhan abad ia pamit pada bumi. &#8220;Apa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=refleksikita.wordpress.com&amp;blog=10137266&amp;post=91&amp;subd=refleksikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-92" title="bunga" src="http://refleksikita.files.wordpress.com/2009/10/bunga.jpg?w=655" alt="bunga"   />Kulihat Ken Arok disela-sela awan hitam siang ini. Aku tidak mendengar ia sedang menyebut Tuhan. Sepertinya Ken Dedes yang sejak masih di bumi dicintainya belum lekang dari ingatan. Ada rasa trenyuh kulihat gurat wajah dengan rambut semrawut yang nyaris menutup wajahnya. Kuperhatikan, ia masih lumayan tampan, meski sudah puluhan abad ia pamit pada bumi.</p>
<p>&#8220;Apa yang sedang kau pikirkan, saudaraku Ken Arok?&#8221; Tanyaku sesantun mungkin. Mencoba terapkan ilmuku tentang etika yang pernah kupelajari diberbagai buku.</p>
<p>Ia hanya menatapku. Matanya masih tajam. Meski dalam keadaan kuyu seperti itu, sisi garangnya masih muncul.</p>
<p>&#8220;Hm, aku merasa sedih dengan catatan di buku-buku sejarah kalian dibumi yang telah abadikanku sebagai seorang pembunuh. Hanya karena cinta aku menjadi pembunuh. Aku memang sangat mencintai Ken Dedes.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa tidak kau sambangi saja dulu Tunggul Ametung. Coba minta maaf, setelah itu kau minta pada Tuha untuk izinkan reinkarnasi lagi, dan kau luruskan saja sejarah itu nanti.&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, mungkin benar seperti yang kau katakan, Saudaraku Tapi aku malu pada Tuhan. Aku senja kemarin sudah berada di pintu nirwana. Berniat untuk mengetuk pintunya dan minta maaf pada Tunggul Ametung. Walaupun, aku sudah tidak tertarik untuk meluruskan lagi sejarah yang sudah tertulis oleh kalian. Biarlah kalian tulis semua yang kalian tahu, apa adanya.Mungkin benar aku seorang pembunuh. tapi aku sangat menghargai kejujuran. Tetapi aku juga teringat pada Empu Gandring yang mati karena keangkuhanku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah kau mengira Empu Gandring dan Tunggul Ametung masih menyimpan dendam terhadapmu?&#8221; Tanyaku dengan ekspresi agak sedikit menyelidik</p>
<p>Ia terlihat menarik napas panjang,&#8221;aku minta padamu sebelumnya, jangan mengajakku untuk berfilsafat. Aku masih melihat mereka sebagai manusia. Aku berkeyakinan, mungkin saja mereka masih menyimpan dendam itu. Karena dulu kematian membuatnya tidak berkesempatan untuk membalas dendam itu. Tunggul Ametung sendiri memang tidak tahu bahwa akulah pembunuhnya, tapi justru aku merasa sangat berdosa padanya. Ketika di dunia aku memang memanfaatkan seorang karib yang sekarang sudah tidak kuingat namanya. Aku yakin, mereka semua masih dendam padaku&#8221;</p>
<p>Sejurus aku dengannya larut dalam pikiran masing-masing. Sesekali ia terlihat mengusap-usap beberapa helai awan putih tersisa, di sela-sela siluet siang yang lebih dipenuhi mendung.</p>
<p>&#8220;Kau masih mencintai Ken Dedes?&#8221; Selidikku</p>
<p>&#8220;Benar. Aku masih sangat mencintai Ken Dedes. Tapi jangan bicarakan itu dulu. Karena aku masih dihantui rasa bersalah pada Gandring dan Ametung.&#8221; Jawabnya</p>
<p>&#8220;Baik. Biarkan penyesalan itu ada dalam hatimu. Jangan kau lawan perasaan itu. Nanti kau pasti akan lebih tenang setelah sesal itu selesai tiba di puncaknya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tetapi aku tidak kuat, saudaraku. Aku malah terpikir andai diizinkan Tuhan untuk bereinkarnasi, aku akan laksanakan saranmu tadi. Aku akan menabur kebaikan di bumi. Tapi semua terlambat. Kau jangan pergunakan logika dari dunia untuk pahami perasaanku disini. Logika dari sana tidak akan menyentuh apapun yang ada di ruang-ruang waktu disini. Diruang yang sedang kutapaki ini!&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku jadi terpikir Arok. Terpikir pada cinta-Nya. Sering aku mendebat diri sendiri, apakah cinta-Nya disekat-sekat oleh ruang dan waktu? Aku sendiri bingung. Tetapi, aku masih saja meyakini, cinta-Nya Maha Luas. Bila kau saja masih membawa bayangan Ken Dedes ke alam sekarang, apakah Cinta Tuhan mudah tanggal hanya di lorong-lorong bumi yang berselemak kebodohan itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiknya, jangan kau larut dengan pandanganmu itu, Sahabat. Pandanganmu itu justru akan membuatmu kelak melegitimasi kesalahan yang kau lakukan di bumi. Sudahlah, jangan kita berdebat lagi. Biarkan aku dengan semua sesalku. Sembari mencoba mengais-ngais nostalgia indahku bersama Ken Dedes dulu. Mungkin sedikitnya bisa mengobati resahku. Sambil tetap menumbuhkan harap, agar Tuhan sudi izinkan aku minta maaf pada Empu Gandring, Tunggul Ametung dan orang-orang yang aku zalimi dulu. Ajarkan cinta ke bumi dengan apa yang kau bisa. Aku cukup puas dan bahagia bila didunia itu sudah basah oleh hujan cinta. Kendati disini nanti aku akan tercebur dalam neraka. Karena, sekarang baru aku tahu, hanya dengan cinta, duniamu terselamatkan. Selamat dari kemunafikan, fitnah, kedengkian hingga darah. Yakinlah, bumi itu akan lebih hijau hanya ketika kalian izinkan nurani-nurani kalian bebas dari warna-warna merah. Nyala merah yang kalian taburkan selama ini disana kelak akan berujung pada sesal seperti yang ku alami. Kembalilah, aku percaya kau bisa pengaruhi dunia untuk lebih melihat cinta secara lebih jernih. Dan kau bisa membuat mereka merasakan trans oleh cinta. Jika perasaan itu sudah merasuk kedalam jiwa mereka. Masukkan ke dalam dadanya pelajaran tentang cinta yang lebih besar. Tidak seperti cintaku yang hanya dimonopoli oleh Ken Dedes. Pulanglah Sahabat. Ceritakan pesanku pada mereka.&#8221;</p>
<p>Ada rasa haru juga dihatiku dengan ketulusan yang dimilikinya. Jujur, airmata menggenangiku. Walaupun lelaki, aku selalu izinkan airmata untuk jatuh didepan setiap kebaikan. Tapi, aku tidak bisa lakukan apapun untuk membantunya sampai aku tiba-tiba tersadar sudah kembali ke bumi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/refleksikita.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/refleksikita.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/refleksikita.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/refleksikita.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/refleksikita.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/refleksikita.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/refleksikita.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/refleksikita.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/refleksikita.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/refleksikita.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/refleksikita.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/refleksikita.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/refleksikita.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/refleksikita.wordpress.com/91/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=refleksikita.wordpress.com&amp;blog=10137266&amp;post=91&amp;subd=refleksikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://refleksikita.wordpress.com/2009/10/30/surat-cinta-ken-arok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4103479f9eacb80582e7c152f55b2fda?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fickar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://refleksikita.files.wordpress.com/2009/10/bunga.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bunga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pelajari Ulang, Cinta</title>
		<link>http://refleksikita.wordpress.com/2009/10/29/pelajari-ulang-cinta/</link>
		<comments>http://refleksikita.wordpress.com/2009/10/29/pelajari-ulang-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 17:53:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zulfikar Akbar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Pelajaran Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://refleksikita.wordpress.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Obrolan kecil terjadi. Darimana harusnya kita belajar cinta? Dari film-film Korea yang sekarang kian marak mengisi televisi? Iya, itulah yang menjadi sebuah diskusi ringan saya dengan seorang rekan. Dan, disana saya berpijak pada keyakinan hati yang terdalam yang pasti dimiliki setiap manusia. Belajar cinta dengan cara menyelam ke kedalaman diri. Tak lama saya sendiri yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=refleksikita.wordpress.com&amp;blog=10137266&amp;post=88&amp;subd=refleksikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-medium wp-image-87" title="IMG_1476" src="http://refleksikita.files.wordpress.com/2009/10/img_1476.jpg?w=300&#038;h=225" alt="IMG_1476" width="300" height="225" />Obrolan kecil terjadi. Darimana harusnya kita belajar cinta? Dari film-film Korea yang sekarang kian marak mengisi televisi?</strong></p>
<p>Iya, itulah yang menjadi sebuah diskusi ringan saya dengan seorang rekan. Dan, disana saya berpijak pada keyakinan hati yang terdalam yang pasti dimiliki setiap manusia. Belajar cinta dengan cara menyelam ke kedalaman diri. Tak lama saya sendiri yang mendebat diri sendiri, tanpa belajar dari siapa-siapa apakah mungkin kenal dengan cinta itu? Hm, kembali saya tercenung dan merenung. Hati terdalam menjadi tema selanjutnya dalam “diskusi” yang saya lakukan dengan diri sendiri. Begitu kuat meresap di ruang-ruang pikiran. Berkelebat gambaran orang-orang disekitar saya yang berbicara tentang cinta. Beberapa meributkan cinta dari sisi definisi. Yang lain sudah mengabdi penuh pada keyakinan, tidak ada yang harus dibahas dari cinta. Cinta itu tidak sekedar rasa, namun ia adalah bentuk sikap, bentuk kesediaan untuk berkorban. Dan, saya sendiri memasukkan diri sendiri dalam kelas orang-orang yang tidak ingin melihat cinta secara parsial. Terasa picik jika saya ikut mendeklarasikan cinta hanyalah untuk orang-orang yang terdekat. Baik untuk kekasih atau istri (bagi yang sudah beristri).</p>
<p>Baik, jika yang paling menarik adalah membicarakan cinta hanya bila dikaitkan dengan pasangan sendiri. Figur yang mengisi nyaris seluruh urat-urat yang ada di jiwa. Nah, jika begitu saya berkeinginan sekali untuk <em>nyeletuk</em> dengan keyakinan dan sudut pandang “subjektif” saya. Bahwa, bukanlah disebut cinta jika orang yang “merasakannya” malah kian tidak berdaya. Membuat orang yang dihinggapinya terasa lemah. Dan logika itu pula, sampai membuat saya mengeluarkan kalimat,”kita bubarkan saja hubungan ini, mungkin saja akan membuat masing-masing kita merasa lebih tenang.” Kalimat ini saya keluarkan nyaris tanpa ekspresi pada sesosok perempuan yang pernah menghinggapi reranting pohon hati. Argumen saya pada diri sendiri adalah, jika yang saya rasakan ketika itu adalah cinta, maka cinta tidak dibutuhkan ketika hanya membuat tubuh dan jiwa kian kuyu melemah. Semangat menghilang seperti yang diceritakan dalam roman klasik Laila Majnu.</p>
<p>Sekali lagi, ini mungkin adalah sebentuk penglihatan yang sangat subjektif dari saya. Bila ini adalah ketololan, maka saya persilahkan untuk menyebut ini sebagai ketololan saya.</p>
<p>Banyak kasus yang saya amati sepanjang sejarah saya sudah bisa berpikir. Orang-orang penting terlibat skandal oleh “cinta”. Pria dan wanita yang kecewa dan patah hati, beberapa memilih untuk bunuh diri. Dari sana, saya memperhatikan, harus jelas benar dipilah antara cinta dengan perasaan yang diaduk ketololan diri sendiri. Lagi, karena saya melihat bahwa cinta seharusnya memberi energi. Menjadi suplemen untuk seseorang berusaha, bangkit memberikan yang lebih baik pada dunia. Ketikan, misal saja, ada seorang lelaki atau perempuan hanya menuntut perhatian untuk dirinya sendiri dari pasangannya. Itu, kalaupun masih dipaksakan untuk disebut sebagai cinta, tetaplah sebuah bentuk cinta yang sangat tidak penting. Silahkan campakkan kedalam tong-tong sampah.</p>
<p>Dengan bahasa keakuanku, aku melihat cinta itu lahir dari matahari. Ia terang, menerangi ruang-ruang pekat yang lepas dari atap-atap kecurangan, dusta dan kemunafikan. Bila atap dan jendela kejujuran masih terus saja ditutup, tidak ada ventilasi memadai untuk cinta itu datang</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/refleksikita.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/refleksikita.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/refleksikita.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/refleksikita.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/refleksikita.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/refleksikita.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/refleksikita.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/refleksikita.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/refleksikita.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/refleksikita.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/refleksikita.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/refleksikita.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/refleksikita.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/refleksikita.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=refleksikita.wordpress.com&amp;blog=10137266&amp;post=88&amp;subd=refleksikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://refleksikita.wordpress.com/2009/10/29/pelajari-ulang-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4103479f9eacb80582e7c152f55b2fda?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fickar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://refleksikita.files.wordpress.com/2009/10/img_1476.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1476</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bila Sikecil Butuhkan “Seks”</title>
		<link>http://refleksikita.wordpress.com/2009/10/29/bila-sikecil-butuhkan-%e2%80%9cseks%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://refleksikita.wordpress.com/2009/10/29/bila-sikecil-butuhkan-%e2%80%9cseks%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 16:23:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zulfikar Akbar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Moral]]></category>
		<category><![CDATA[bukan paedofil]]></category>
		<category><![CDATA[moralitas dan seks]]></category>
		<category><![CDATA[seks anak-anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://refleksikita.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Kejadiannya sudah beberapa tahun lalu, tidak ingat lagi persisnya tahun berapa. Jelasnya, seorang adik saya, Fikri yang juga berjenis kelamin sama, laki-laki tulen. Ia terlihat duduk termenung didepan pintu depan rumah. Pandangan matanya terlihat kosong. Tadinya ia memang baru saja pulang dari acara pernikahan bersama Ibu. Melihat ekspresi seriusnya, saya dengan saudara-saudara lainnya cekikikan, diikuti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=refleksikita.wordpress.com&amp;blog=10137266&amp;post=85&amp;subd=refleksikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-medium wp-image-84" title="IMG_1367" src="http://refleksikita.files.wordpress.com/2009/10/img_1367.jpg?w=300&#038;h=225" alt="IMG_1367" width="300" height="225" />Kejadiannya sudah beberapa tahun lalu, tidak ingat lagi persisnya tahun berapa. Jelasnya, seorang adik saya, Fikri yang juga berjenis kelamin sama, laki-laki tulen. Ia terlihat duduk termenung didepan pintu depan rumah. Pandangan matanya terlihat kosong. Tadinya ia memang baru saja pulang dari acara pernikahan bersama Ibu. Melihat ekspresi seriusnya, saya dengan saudara-saudara lainnya cekikikan, diikuti juga oleh ibu. Tidak lama, Ibu menanyakan padanya,<em>“Pue ka pikee Neuek? Sang deueh seriuh that.”</em> (terj: Apa yang kamu pikirkan,Nak. <em>Keliatannya kok</em> serius sekali). Dengan ekspresi lugunya namun tetap serius ia berujar,”Saboeh-saboeh ureueng inoeng meunikah ngoen gop. Singoeh watee lon rayeuek takot lon hana lee inoeng.” (Terj: Satu persatu perempuan yang ada dinikahi orang. Aku cemas, nanti setelah aku dewasa, sudah tidak ada lagi perempuan yang tersisa untuk aku nikahi). Sontak saja, seisi rumah yang memang sedang berkumpul tertawa terpingkal dengan kepolosannya.</strong></p>
<p>Sekarang, membayangkan itu, tidak hanya membuat saya tersenyum. Tetapi juga merasakan sebuah pesan kejujuran, anak-anak juga memiliki kebutuhan terhadap seks. Walau mungkin memang sikapnya tidak serta merta bisa diklaim sebagai bentuk butuh seorang anak kecil terhadap seks. Namun, setidaknya cukup untuk menjelaskan bahwa mereka punya kebutuhan terhadap lawan jenis. Jadi izinkan saya menerjemahkannya sebagai bentuk<em> sex need.</em> Kebutuhan terhadap seks.</p>
<p>Sisi lain, saya juga terpikir bagaimana menunjukkan sikap ideal saat sikecil berbicara yang berhubungan dengan seks. Tidak cekikikan saja yang diperlihatkan keluguan sikecil. Nah, disini saya berpandangan bahwa realitas serupa ini bisa saja dihadapi oleh anak-anak siapapun. Tetapi, saya kira memang harus dilihat dengan serius persoalan itu. Walaupun saya belum menemukan konsep yang cukup konkret sebagai jawaban. Tetapi, saya berkeyakinan cukup penting mengamati bagaimana proses perkembangan si kecil. Kenapa, disebabkan beberapa kasus lain juga pernah saya temukan. Sebagai penjelas ekses ketika solusi yang diberikan tidak “serius”.</p>
<p>Satu ketika, saat melakukan outbond di sebuah desa (tidak perlu saya sebutkan). Saat sedang mengayunkan kaki bersama rombongan saya, menapaki gundukan pasir disisi sebuah sungai. Bentuk gundukan itu persis seperti gunung-gunung kecil. Sejurus kemudian, terdengar suara anak-anak yang saya yakin merupakan anak-anak dari penduduk desa sekitar lokasi outbond itu. Apa yang saya saksikan, 3 orang bocah, satu lelaki dan lainnya adalah gadis kecil, dengan kisaran usia 6-8 tahun. Cekikikan itu muncul disebabkan 2 bocah perempuan sedang memperebutkan si lelaki kecil (kemaluannya) untuk didekatkan kearahnya. Meski tidak lama saya dan rombongan melihat, deheman yang kami perdengarkan cukup menjadi “komando” untuk anak-anak tersebut berhamburan, hilang mungkin langsung pulang.</p>
<p>Sikecil juga sudah mulai merasakan kebutuhan terhadap seks. Dan yang saya ilustrasikan diatas menjadi sebuah bentuk pemandangan yang semua kita akan sepakat, idealnya tidak terjadi. Tetapi potensi seperti itu akan tetap saja terjadi. Nah, untuk itu saya berpikir bahwa keseriusan dari keluarga yang lebih dewasa, tidak hanya orangtua menjadi sebuah hukum wajib. Karena, kalaupun dibenturkan dengan teori-teori psikologi. Pengalaman masa kecil tetap akan memberi pengaruh pada karakter mereka saat dewasa. Nah, bagaimana dengan anda yang sedang masih memiliki sikecil. Sekedar renungan untuk kita bersama.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/refleksikita.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/refleksikita.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/refleksikita.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/refleksikita.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/refleksikita.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/refleksikita.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/refleksikita.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/refleksikita.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/refleksikita.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/refleksikita.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/refleksikita.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/refleksikita.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/refleksikita.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/refleksikita.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=refleksikita.wordpress.com&amp;blog=10137266&amp;post=85&amp;subd=refleksikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://refleksikita.wordpress.com/2009/10/29/bila-sikecil-butuhkan-%e2%80%9cseks%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4103479f9eacb80582e7c152f55b2fda?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fickar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://refleksikita.files.wordpress.com/2009/10/img_1367.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1367</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berkaca pada Pekerja Seks Komersial</title>
		<link>http://refleksikita.wordpress.com/2009/10/29/berkaca-pada-pekerja-seks-komersial/</link>
		<comments>http://refleksikita.wordpress.com/2009/10/29/berkaca-pada-pekerja-seks-komersial/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 14:10:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mariska Lubis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[makna pelacuran]]></category>
		<category><![CDATA[makna seks]]></category>
		<category><![CDATA[pelajaran seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://refleksikita.wordpress.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[MANA mungkin bisa? Mereka itu apa? Sampah!!! Hina!! Pendosa!!! Musuh!!! Harus dibasmi dan harus diberantas!!! Apa sedemikian buruknya mereka sampai kita tidak bisa belajar dari mereka? Hancur hati saya sewaktu mendengar bahwa ada hasil penelitian di daerah Indonesia Timur sana yang mengungkapkan bahwa sekelompok anak usia belia yang terpaksa menjadi pekerja seks komersial karena tuntutan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=refleksikita.wordpress.com&amp;blog=10137266&amp;post=76&amp;subd=refleksikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-medium wp-image-75" title="peeska" src="http://refleksikita.files.wordpress.com/2009/10/peeska.jpg?w=300&#038;h=192" alt="peeska" width="300" height="192" />MANA </strong>mungkin bisa? Mereka itu apa? Sampah!!! Hina!! Pendosa!!! Musuh!!! Harus dibasmi dan harus diberantas!!! Apa sedemikian buruknya mereka sampai kita tidak bisa belajar dari mereka?</p>
<p><!-- Item fulltext -->Hancur hati saya sewaktu mendengar bahwa ada hasil penelitian di daerah Indonesia Timur sana yang mengungkapkan bahwa sekelompok anak usia belia yang terpaksa menjadi pekerja seks komersial karena tuntutan ekonomi. Mereka dibuang dan dijual oleh keluarga mereka sendiri karena sudah tidak mampu menghidupi dan membesarkan mereka lagi. Mau tahu apa bayaran mereka? Cukup tiga batang rokok!!! Bila ada yang memberikan sebungkus nasi, itu mereka anggap sebagai berkat yang sangat luar biasa. Tidak setiap hari mereka bisa makan!!! Tidak bisa setiap saat mereka bisa mendapatkan nasi!!!</p>
<p><em>“Masa sampai sebegitunya, sih, Mas?”<br />
</em></p>
<p>“Iya!!! Bener!!!”<br />
<em></em></p>
<p><em>“Kasihan amat!!!”<br />
</em></p>
<p>“Banget!!! Mereka itu korban.”<br />
<em></em></p>
<p><em>“Korban apa, Mas?”<br />
</em></p>
<p>“Ada yang dijual sama Bapaknya hanya dengan imbalan dua ratus lima ribu doang!!!”<br />
<em></em></p>
<p><em>“Tega banget!”<br />
</em></p>
<p>“Habis mereka susah, sih!!!”<br />
<em></em></p>
<p><em>“Miskin banget, ya?!”<br />
</em></p>
<p>“Wah, lebih dari miskin. Sengsara!!!”<br />
<em></em></p>
<p><em>“Apa ada yang kita bisa perbuat?”<br />
</em></p>
<p>“Susah kalau hanya kita sendiri.”<br />
<em></em></p>
<p><em>“Iya juga, sih! Memangnya banyak banget, ya?!”<br />
</em></p>
<p>“Wah, seratusan anak, sih, ada!”<br />
<em></em></p>
<p><em>“Gimana, ya?”<br />
</em></p>
<p>“Semua harus ikut berpartisipasi. Baru kita bisa!”<br />
<em></em></p>
<p><em>“Betul, tapi bagaimana caranya?”<br />
</em></p>
<p>“Itu, dia yang harus kita pikirkan!”</p>
<p>Sepenggal percakapan saya dengan Mas Aji Purnianto, seorang peneliti lepas dari UNICEF, yang membuat saya tidak bisa tidur semalam suntuk!!!</p>
<p>Saya membayangkan anak-anak yang tinggal di perkampungan dekat pantai itu. Kehidupannya sehari-hari. Kemiskinannya. Kemelaratannya. Hinaannya. Siksaannya. Apalagi kalau mereka sedang harus melayani pelanggan sementara mereka juga harus menahan perih dan sakit di lambung akibat rasa lapar. <em>Aduuuuhhhhhh!!!! Mules, nggak, sih?!</em></p>
<p>Ya, Tuhan!!! Apa daya saya?!</p>
<p>Sekarang ini saya memang belum mampu membantu, tetapi saya jadi berkaca pada mereka. “Mereka adalah korban”. Kata-kata itulah yang terus terngiang di dalam hati dan benak saya. Korban politik? Korban ekonomi? Korban budaya? Korban ketidak pedulian? Korban kehidupan? Korban dan korban terus? Apa harus terus jadi korban??? Bagaimana kalau kita mencoba melihat dari sisi mereka?!</p>
<p>Saya yakin bahwa pasti ada rasa marah di dalam hati anak-anak itu. Tetapi pasti juga ada sebagian di antara mereka yang memang merasa tulus dan ikhlas menjalani semuanya. Merasa bahwa telah membantu orang tua dan keluarga. Patuh dan taat. Membebaskan tugas. Meringankan beban. Menerima semua kehidupan yang mereka jalani sekarang ini sebagai satu-satunya cara yang mereka ketahui untuk memberikan yang terbaik.</p>
<p>Perlu kita ingat bahwa mereka itu adalah anak-anak polos yang sedari kecil tidak pernah merasakan kehidupan yang lain selain kesusahan dan kemelaratan. Tidak pernah pergi dari lingkungan sekitar tempat pelacuran itu. Mereka hanya tahu tempat itu. Mereka hanya tahu di situlah mereka hidup. Mereka hanya tahu itulah kehidupan yang sesungguhnya. Benar atau salahnya, berbeda dengan benar dan salahnya kita. Salah kalau mereka kabur dan tidak melayani pelanggan. Benar bila mengikuti peraturan di sana dan memuaskan pelanggan. Kepuasan mereka adalah makan. Hanya makan.</p>
<p>Bagaimana dengan saya? Saya ingin ini. Saya ingin itu. Saya maunya begini. Saya maunya begitu. Mau, mau, dan mau terus!!! Tidak pernah ada hentinya!!! Tidak pernah ada puasnya!!! Kurang terus!!!</p>
<p>Tidak ada salahnya memiliki keinginan. Tidak ada salahnya memiliki rasa mau. Tetapi alangkah baiknya bila kita bisa mensyukuri segala nikmat yang telah kita terima dan kita dapatkan. Tidak ada yang lebih indah selain bisa merasakan semua itu dengan segenap hati, pikiran, dengan menggunakan seluruh panca indera dan tubuh yang kita miliki ini. Rasakan bagaimana air dan nasi yang kita telan itu masuk ke dalam mulut, dikunyah, ditelan, masuk ke dalam lambung, dicerna, diserap, masuk ke dalam darah, dialirkan ke seluruh tubuh. Luar biasa!!!</p>
<p>Jadilah manusia yang positif. Positif hati, pikiran, dan perbuatan. Janganlah kita terlalu sering merendahkan dan menghina para pekerja seksual itu. Kita bisa belajar banyak dari mereka.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/refleksikita.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/refleksikita.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/refleksikita.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/refleksikita.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/refleksikita.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/refleksikita.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/refleksikita.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/refleksikita.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/refleksikita.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/refleksikita.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/refleksikita.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/refleksikita.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/refleksikita.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/refleksikita.wordpress.com/76/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=refleksikita.wordpress.com&amp;blog=10137266&amp;post=76&amp;subd=refleksikita&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://refleksikita.wordpress.com/2009/10/29/berkaca-pada-pekerja-seks-komersial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7c39692c92c94a2cc6407dbbcb469ed1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mariskalubis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://refleksikita.files.wordpress.com/2009/10/peeska.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">peeska</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
