Benar, gay adalah manusia. Mereka adalah orang-orang yang juga dilahirkan oleh manusia. Tetapi, lepas setuju atau tidak, gay adalah adalah penyakit jiwa yang sangat parah. Penyakit tersebut justru merendahkan nilai-nilai kemanusiaan.
Sebuah kasus saya temukan saat masih menjadi seorang Guru Bantu, di salah satu Tsanawiyah (sekolah Islam setingkat SLTP) di Kabupaten saya di Aceh, Kabupaten Nagan Raya. Khalayak di Kabupaten tersebut jamak mengenalnya sebagai seorang Gay. Dalam sebuah kesempatan diruang guru, secara kebetulan posisi mejanya persis berada disisi meja saya. Agak sedikit jauh dengan guru lain, yakin tidak akan didengar oleh guru lain. Saya coba cross check kebenaran rumor yang menyebutnya sebagai Gay, dengan alasan untuk tidak ikut-ikutan terjebak dengan pandangan yang tidak jelas. Bermodal tampang yang bisa saya setel selembut mungkin, jauh dari sangar. Dan setelah mencoba “hipnotis” pikirannya dengan menceritakan keadaan proses mengajar yang tadi pagi terlebih dahulu, menyanjungnya dengan beberapa kalimat yang membangkitkan kebanggaannya. Setelah yakin ia telah merasa nyaman dengan saya. Langsung sebuah interogasi berjalan dengan cara selembut mungkin, saya terapkan–tidak rugi saya gemari buku-buku investigasi dari sejak kecil–. Meluncurlah sebuah cerita darinya
“Iya benar, aku selama ini memang memiliki ketertarikan pada selama lelaki. Aku bisa merasakan seorang lelaki ganteng atau tidak. Tapi aku tidak bisa mengukur seorang perempuan cantik dengan tidaknya. Aku bisa merasakan debar jantung cukup kuat saat melihat seorang lelaki ganteng. Jujur, termasuk saat aku melihatmu.” Walau dihati merasa semacam jijik ditaksir sesama lelaki, saya coba tutupi ekspresi yang ada didalam batin dengan tersenyum kecil saya sambil mempersilahkannya bercerita. Tidak saya vonis apapun dalam proses itu, walaupun memang ada ingin untuk memarahinya habis-habisan atas sikapnya yang dimata saya jelas tidak bermoral. Sekali lagi, strategi pasang umpan sedang saya jalankan.
“Aku sudah melakukan hubungan seks yang kuakui menyimpang ini dari sejak kecil. Tapi baru lebih serius saat memasuki usia jelang dewasa. Aku sempat trauma dan ketakutan sekali saat salah satu ‘pacarku’ (yang juga laki-laki) sakit karena aku ’serang’ lewat belakang anusnya. Untungnya, dia tidak laporkan ke orangtuanya. Walaupun lebih dari seminggu ia tidak bisa berjalan karena kesakitan. Aku berpura-pura tidak tahu apa-apa tentang penyebab sakitnya. Sering aku kunjungi dia. Terkadang aku masih berkesempatan untuk juga tidur di rumahnya. Saat malam, karena aku hanya tidur dengannya berdua saja. Jika sudah tidak tahan, sedangkan untu melakukan ‘itu’ sedang tidak memungkinkan. Sering aku hanya memegang miliknya. Karena dia juga sudah mengakui diri sebagai pacarku, dia tidak marah aku gituin.” Dalam benakku berkecamuk semacam amarah cukup kuat, apalagi dia mengakui, pacar versinya itu masih dibawah umur, 10 tahun. Iapun juga menceritakan bahwa ia melakukan cara tersendiri untuk mendapatkan ‘pacar’.
“Aku biasanya memberi mereka uang jajan yang banyak. Memang aku lebih memilih yang berasal dari keluarga miskin, sehingga dengan pemberian uang yang banyak, aku belikan baju baru. Sesekali aku ajak jalan-jalan. Itu sudah cukup menjadi senjata ampuh untukku bisa taklukkan hati kekasihku.” Mendengar ‘kepolosan’nya terasa sekali, amarahku seperti ingin untuk meledak. Kucoba redam dengan mengatakan pada diri sendiri,”aku sedang melakukan penggalian. Marahku hanya akan membuatnya merasa tidak nyaman lagi untuk ceritakan semua tentang pengalaman petualangan cintanya.” Batinku.
Sesekali ia terlihat mencuri-curi untuk mengelus pahaku, sambil matanya melirik ke arah rekan-rekan guru lainnya. Entah supaya rekan lain tidak tahu, sepertinya iya. Meski jiwa mudaku menginginkan untuk menendangnya sampai terjatuh, ku coba bertahan saja, Misi harus selesai. “Begini, aku memiliki pacar bukan cuma satu lho. Aku terus saja berganti-ganti karena memang ‘rasa’ dari pacar-pacarku itu berbeda satu dengan lainnya. Tapi kamu jangan salah lho, banyak juga dari mereka yang sampe mengemis tidak mau berpisah denganku setelah merasakan bagaimana ‘enaknya’ melakukan itu. Beberapa yang sudah dewasa, yang sudah mencobanya denganku juga mengaku sangat menikmatinya, bahkan mereka juga ngaku kalo yang dirasakannya denganku jauh lebih nikmat dari yang bisa diberikan oleh seorang wanita,” Aku langsung berfirasat, sepertinya ia sedang mencoba untuk menjebakku untuk mengikuti cara gila itu. Serta merta saja, melihat ia juga semakin merapat kearahku. Aku beringsut agak lebih menjauh–selain aroma mulutnya juga sangat mengganggu–. Syukur, dia masih mau untuk bercerita.”Sekarang aku juga sedang memiliki pacar salah satu siswa kita disini lho. Ganteng dia juga tidak kalah dengan kamu,”
“Siapa ya,” Tanyaku dengan irama lembut, meskipun tetap saja ada keinginan untuk remukkan giginya. Karena sangat kurasakan memang marahku semakin memuncak. Apalagi korbannya kali ini adalah siswa kami sendiri. Lantas ia menyebut nama seorang siswa di salah satu sekolah ini.”Tadi malam ia juga tidur dirumahku lho. Indah sekali.”
Dengan bel tanda jam masuk kembali sudah singgah dikupingku. Kegiatan investigasi sekaligus interogasi itu terpaksa diakhiri. Sepulang dari mengajar, aku langsung temui teman-teman dari siswa korban kucoba temui dan kumintai keterangan. Dari sekitar 5 ‘narasumber’ semua mengatakan hal yang persis sama. “Kamu, nanti usahakan kamu jebak An (inisial oknum tersebut) untuk mau datang ke rumah saya ya?”
“Baik pak,”jawab siswa saya ini.
Sampai sore ia tidak datang kerumahku. Bahkan beberapa hari ia tidak tampak disekolah. Satu hal yang membuatku semakin ingin meledak, ketika seorang rekan guru yang perempuan yang biasa menjadi teman cerita An menanyakan padaku,”Bener kamu sudah jadian dengan An?”
“Apa? Aku pacaran dengannya? Kenapa kamu tanyakan seperti itu?”
“Iya, dia mengaku padaku kalian sedang pacaran. Katanya juga kamu sudah bersedia menjadi pacarnya.”
“Pungoe (terj: gila).” Umpatku spontan. Seketika saja dadaku bergemuruh ingin untuk luapkan amarah. Jelas ini sebuah bentuk pencemaran yang sangat memalukanku. Fitnah yang paling keji yang pernah kuterima. Lazimnya saat aku marah. Gigi gemeretak, kedua telapak tangan tergenggam keras. Mataku menyala. Amarah sudah begitu kuat menguasai pikiranku.
Sepulang dari mengajar. Aku merasa mendapat durian runtuh. Kulihat ia sedang bicara dengan salah satu adikku yang juga laki-laki, pun siswanya juga. Melihat kepulanganku, ia terlihat sudah mulai tidak nyaman. Terbaca dari gerak tubuhnya yang mulai gelisah. Seketika saja, sebilah pedang yang sudah beberapa hari kuletakkan dibelakang pintu–jangan salah paham, niat awal hany auntuk membuatnya keder saja– kuambil.”Jangan coba-coba untuk berdiri!” Perintahku. Memang ada beberapa orang tetangga yang juga sedang berbicara dengan Bapak dirumah. Tapi berada di sudut lain agak jauh.
“Kalau kau coba untuk berdiri, aku akan membuat kepalamu terpisah dari lehermu itu.” Ancamku.
“Apa maksudmu mengfitnahku dengan cara mengatakan aku sebagai pacarmu? Apa kau mengira karena mengenal orang pungoe sepertimu, lantas kau pikir aku akan ikut gila?” Cecarku.
“Gak, tidak ada itu. Siapa sih yang bilang seperti itu?” Elaknya dengan mata yang sudah mulai berair.
Semakin kudekatkan posisi pedang kebanggaanku itu kearahnya. Dengan suara pelan, intonasi yang kutekan, aku kembali tanyakan,” Kamu ngaku dan jelaskan padaku tentang masalah itu, atau kamu benar-benar ingin untuk kubunuh?” terang saja, ‘gaya’ seperti itu semakin membuatnya gemetar dan menggigil. Celananya yang basah ketakutan seketika hampir membuatku tertawa keras. Tapi aku simpan keinginan untuk tertawa itu, lalu kembali menatap matanya. Ia malah menekuri lantai.”Iya, iya aku mengaku. Aku katakan itu pada ibu S karena waktu kamu tanyakan aku tentang pengalamanku melakukan ‘itu’ dengan pacarku yang dulu, kukira itu sebagai tanda kamu juga menyukaiku. Makanya, aku langsung saja cerita ke Bu S kalau kamu sudah menjadi pacarku.” Ujarnya dengan ekspresi melemah. Sebuah tamparan kulayangkan ke kepalanya. Terbersit dipikiranku. Dengan perawakannya yang tinggi besar, badan yang berotot. Bentuk fisik yang jelas berbeda denganku yang lebih kecil darinya. Kalau saja ia melawan, pasti ia akan berhasil lumpuhkanku. Tapi ternyata kemarahan juga memiliki kekuatan pada saat tertentu. Sehingga fisiknya yang lebih besar itu tidak membuatnya lebih kuasa atasku.
Selesai sebuah tamparan. Kembali sebuah bogem mentah kulayangkan juga kesisi pelipisnya.”Lekas pulang. Jangan ulangi lagi yang sudah kau lakukan itu. Dan jangan coba-coba untuk kau tambah korbanmu dengan adikku ini. Kalau itu terjadi, bukan sekedar gertak sambal, akan kukeluarkan isi perutmu itu!” Ancamku lagi sambil menyinggahinya sebuah tendangan ke perut.
Sepulang An, langsung Ali, adikku bicara dengan irama canda,”juah that lagoe bang (Terj: kok Abang jadi buas seperti itu?” Aku hanya tersenyum kecil saja. Didepan rumah. Tetanggaku hanya melihat dengan ekspresi tanda tanya semua yang baru kulakonkan. Sedangkan Bapak yang sudah kuceritakan permasalahanku jauh-jauh hari hanya mengatakan,”harusnya jangan sampai sekasar itu kamu sikapi dia, Kar.” Aku hanya nyeletuk kecil,”Jika fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Maka balasan atas fitnahnya yang kulakukan tadi, kan tidak sampai membuatnya terbunuh, Pak.” Sambil beranjak untuk menyimpan pedangku itu.
Beberapa hari kemudian, aku mendapat kabar ia tertangkap basah oleh warga gampongnya sendiri. Dipukuli warga karena kedapatan menyodomi seorang siswa yang pernah diceritakannya padaku.
Aku teringat beberapa hari sebelumnya, karakternya seperti itu sudah kucoba bicarakan dengan kepala sekolah, aku beralasan”Pak, jika Guru seperti itu terus saja dipertahankan, anak-anak kita disini bisa menjadi korban. Homoseksual itu tidak pernah ditolerir dalam agama kita. Bapak pasti tahu itu. Selain kasihan dengan anak-anak yang masih belum tahu apa-apa itu. Jelas ini juga berefek pada reputasi sekolah ini juga. Apalagi ini adalah sekolah agama. Masa memiliki guru ’sakit’ seperti itu?” Saranku yang memang kuakui agak tendensius dengan sedikit berirama khotbah. Kepala sekolah hanya menjawab ringan,”Tenang Pak, sudah saya berikan nasihat padanya untuk merubah itu kok.”
Aku tercenung dengan jawaban Kepala Sekolah ini. Apakah persoalan yang jelas bisa merusak karakter anak-anak dipandang sebagai sebuah persoalan yang sepele saja? Disebuah institusi pendidikan yang membawa nama agama la0
Jangan marahi langit yang angkuh dengan warna hitamnya, mungkin ia ingin memberimu ribuan tetes air setelah melihatmu nyaris mati oleh kering. Sebab langit juga sedang bicara cinta walau dengan bahasa hitamnya
Kulihat Ken Arok disela-sela awan hitam siang ini. Aku tidak mendengar ia sedang menyebut Tuhan. Sepertinya Ken Dedes yang sejak masih di bumi dicintainya belum lekang dari ingatan. Ada rasa trenyuh kulihat gurat wajah dengan rambut semrawut yang nyaris menutup wajahnya. Kuperhatikan, ia masih lumayan tampan, meski sudah puluhan abad ia pamit pada bumi.
Obrolan kecil terjadi. Darimana harusnya kita belajar cinta? Dari film-film Korea yang sekarang kian marak mengisi televisi?
Kejadiannya sudah beberapa tahun lalu, tidak ingat lagi persisnya tahun berapa. Jelasnya, seorang adik saya, Fikri yang juga berjenis kelamin sama, laki-laki tulen. Ia terlihat duduk termenung didepan pintu depan rumah. Pandangan matanya terlihat kosong. Tadinya ia memang baru saja pulang dari acara pernikahan bersama Ibu. Melihat ekspresi seriusnya, saya dengan saudara-saudara lainnya cekikikan, diikuti juga oleh ibu. Tidak lama, Ibu menanyakan padanya,“Pue ka pikee Neuek? Sang deueh seriuh that.” (terj: Apa yang kamu pikirkan,Nak. Keliatannya kok serius sekali). Dengan ekspresi lugunya namun tetap serius ia berujar,”Saboeh-saboeh ureueng inoeng meunikah ngoen gop. Singoeh watee lon rayeuek takot lon hana lee inoeng.” (Terj: Satu persatu perempuan yang ada dinikahi orang. Aku cemas, nanti setelah aku dewasa, sudah tidak ada lagi perempuan yang tersisa untuk aku nikahi). Sontak saja, seisi rumah yang memang sedang berkumpul tertawa terpingkal dengan kepolosannya.
MANA mungkin bisa? Mereka itu apa? Sampah!!! Hina!! Pendosa!!! Musuh!!! Harus dibasmi dan harus diberantas!!! Apa sedemikian buruknya mereka sampai kita tidak bisa belajar dari mereka?
Menjadi sebuah hal yang menarik bagi saya, memperhatikan karakter beberapa figur rekan ataupun kenalan yang telah menikah. Spesifik ketika mereka berhadapan dengan anak-anaknya. Lebih spesifik lagi dalam gaya berkomunikasi. Di sebuah kontrakan yang pernah saya tempati, saya pernah memiliki tetangga. Sepasang suami istri yang baru memiliki 2 orang anak laki-laki berusia 10 dan 7 tahun.
Jika terus saja gerimis, mungkin hatiku memang bisa terkikis. Oleh desah pipit-pipit yang singgah di petak-petak sawah hatiku. Mungkin iya, selama ini aku lebih suka berpuisi tentang keangkuhanku dalam melihat ideal dan tidak sesuatu.
Entahlah, mungkin karena memang karena saya masih single asli sampai kemudian merasa bangga menjadi lajang seperti ini. Dan lantas mulai menyukai menulis tentang sisi terdekat yang saya alami sendiri, ya kondisi melajang itu.
Pernah, seorang rekan yang menganut pemikiran free sex melegitimasi pilihannya dengan seuntai kalimat,”kan, kalo kita laki-laki mau perjaka atau tidak lagi tetap sama saja. Tidak ada tanda juga kan? Kenapa harus dibawa susah.” Saat itu sejujurnya timbul geram saya terhadapnya.
KOMENTAR KITA